Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Wamen LH Diaz Hendropriyono: Soal Pilah Sampah, Jakarta Harus Belajar ke Bali

Dhian Harnia Patrawati • Kamis, 9 Juli 2026 | 13:40 WIB
Pemrosesan sampah di salah satu TPS3R di Badung.
Ilustrasi - Pemrosesan sampah di salah satu TPS3R di Badung.

 

RADAR BALI – Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono, melakukan kunjungan kerja ke Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Sapuh Jagat di Desa Gulingan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali.

Dalam kunjungan tersebut, Wakil Menteri Diaz memberikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi kepala desa serta masyarakat setempat yang berhasil membangun dan mengelola fasilitas tersebut dengan sangat baik.

Kondisi TPS3R Sapuh Jagat dinilai mematahkan persepsi negatif masyarakat selama ini mengenai tempat penampungan sampah yang identik dengan aroma tidak sedap dan lingkungan kotor.

“Saya sangat mengapresiasi TPS3R ini, luar biasa karena bisa mengolah sampah 100%, yang saya terkesima di sini, ada lapangan voli atau tempat olahraga di samping TPS3R, bahkan ada ruang rapat terbuka, jadi ini membantah stigma lama bahwa TPS3R itu bau dan tidak sehat, padahal di sini tidak bau sama sekali,” jelas Wakil Menteri Diaz.

Keberhasilan ini tidak lepas dari tingginya kesadaran warga Desa Gulingan dalam memilah sampah domestik. Wakil Menteri Diaz memuji efektivitas kampanye edukasi di desa tersebut yang mampu mengubah perilaku masyarakat dalam waktu relatif singkat.

Hanya dalam kurun waktu tiga bulan, masyarakat sudah terbiasa melakukan pemilahan sampah dari rumah, sebuah gerakan cepat yang mendapat apresiasi mendalam dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Sinergi Pemilahan Hulu dan Teknologi PSEL

Sebelum meninjau TPS3R Sapuh Jagat, Wakil Menteri Diaz terlebih dahulu menghadiri peresmian pembangunan teknologi Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Bali.

Diaz menegaskan bahwa keberadaan teknologi mutakhir seperti PSEL tidak akan berjalan optimal tanpa didukung oleh sistem pemilahan sampah yang kuat di tingkat hulu seperti TPS3R.

“Pagi tadi kami melihat PSEL Bali, dan ini menjadi pengingat untuk kita kalau nanti PSEL sudah jadi, PSEL hanya bisa mengolah berapa persen sampah yang kita produksi tiap hari, maka TPS3R masih sangat penting," tegas Wakil Menteri Diaz.

"PSEL juga tidak bisa jalan jika sampah tidak terpilah, jadi harus hati-hati dengan PSEL, tidak semua sampah bisa masuk situ.”

Melihat keberhasilan integrasi sistem ini, ia menilai Desa Gulingan sudah sepatutnya menjadi percontohan nasional, termasuk bagi kota besar seperti Jakarta.

“Saya rasa ini salah satu desa yang baik dalam pengelolaan sampahnya, kita sangat ingin belajar dari desa ini agar bisa menjadi contoh untuk Jakarta,” tambahnya.

Antisipasi Risiko Kebakaran TPA Akibat El Niño

Lebih lanjut, Wakil Menteri Diaz mengingatkan bahwa pemilahan sampah organik dan anorganik dari hulu mendesak dilakukan untuk meminimalisasi risiko fatal di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Cuaca panas ekstrem akibat fenomena El Niño diprediksi dapat memperburuk kondisi TPA yang menimbun gas metana jika sampah tercampur begitu saja.

“El Niño berdampak pada TPA, dari KLH, kami sudah antisipasi kebakaran karena (El Niño) akan semakin buruk sampai bulan September, sehingga TPA bisa berisiko meledak dikarenakan adanya gas metana,” ujarnya memperingatkan.***

Editor : Ibnu Yunianto
#Pengelolaan Sampah Bali #Wakil Menteri LH Diaz Hendropriyono #TPS3R Sapuh Jagat #Pemilahan Sampah Hulu #PSEL Bali