Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Muncul Dua Versi Bentrok TNI Vs Warga Sidatapa saat Tes Rapid Antigen

Didik Dwi Pratono • Selasa, 24 Agustus 2021 | 22:15 WIB
muncul-dua-versi-bentrok-tni-vs-warga-sidatapa-saat-tes-rapid-antigen
muncul-dua-versi-bentrok-tni-vs-warga-sidatapa-saat-tes-rapid-antigen

DENPASAR – Kasus bentrok antara Satgas Covid-19 dari TNI dengan warga di Sidatapa, kecamatan Banjar, Buleleng memancing keriuhan di media sosial.


 


Sampai sehari pascakejadian, sedikitnya muncul dua versi mengenai kronologi bentrok TNI Vs warga Sidatapa saat tes acak rapid antigen di Desa Sidatapa, Senin (23/8). Versi pertama adalah versi yang disebut berasal dari TNI. Sedangkan versi kedua adalah dari warga sipil. Kedua versi ini juga beredar di sejumlah media sosial.


 


Dalam versi pertama ini, beredar kronologi yang disebut ditujukan kepada Asintel Kasdam IX/Udayana. Dijelaskan, Senin 23 Agustus 2021 Pkl 10.30 Wita telah terjadi insiden pemukulan yang dilakukan oleh orang tak dikenal (OTK) terhadap Dandim 1609/Buleleng Letkol Inf Windra Lisrianto bertempat di Wantilan Pura Bale Agung, Desa Sidetapa.


 


Kejadian bermula pada Pukul 08.00 Wita pelaksanaan swab oleh anggota Tim Swab dari Satgas Covid-19 Buleleng beserta tenaga kesehatan dari Puskesmas Banjar I di Wantilan Pura Bale Agung.


 


Dalam rapid tes antigen itu hadir pula Dandim 1609/Buleleng, Danramil Banjar, Kapolsek Banjar, Kades Sidatapa dan tokoh masyarakat Sidatapa.


 


Kemudian pada Pukul 09.45 Wita saat pelaksanaan tes swab berjalan, dua orang anak muda sedang berboncengan dengan menggunakan sepeda motor Scoopy warna silver tidak memakai masker melewati Satgas Covid.


 


 


“Pemuda tsb kemudian dihentikan oleh anggota Tim Nanggala, namun kedua orang tersebut tidak mau berhenti malah menabrak salah satu anggota Kodim 1609/Buleleng yang tergabung di Tim Nanggala An. Kopda Made Sastrawan,” jelas laporan ini.


 


Melihat kejadian tersebut, anggota BKO dari Raider 900/SBW, An. Pratu Gagas R. mengejar pelaku. Namun tak berhasil dikejar. Sekitar lima menit kemudian, kedua anak muda bersepeda tersebut balik menuju ke anggota BKO dan menanyakan dengan nada menantang dan suara kencang.


 


"Kenapa-kenapa kamu memanggil saya," dan di jawab oleh anggota BKO "Kenapa kamu menabrak anggota," demikian percakapan dalam laporan ini.


 


Anggota BKO itu pun membawa kedua pemuda tersebut ke Komandan Kodim 1609/Buleleng untuk dilaksanakan tes swab dan menahan kedua anak muda ini.


 


Secara tiba-tiba keluarga dari kedua pemuda datang dengan jumlah kurang lebih 5 orang dan langsung menarik kedua pemuda tersebut dengan tujuan agar tidak dilaksanakan tes swab.


 


“Dandim 1609/Bllg menyampaikan kepada anggota BKO untuk menahan kedua pemuda tersebut, agar bisa melaksanakan tes swab,” terang laporan ini.


 


 


Berselang beberapa saat, secara tiba-tiba Dandim 1609/Buleleng mendapat pukulan di kepala bagian belakang sebelah kanan oleh OTK , melihat kejadian tersebut maka anggota BKO Raider berusaha mengamankan pelaku. Kemudian terjadilah keributan.


 


“Karena pelaku melawan maka secara tidak sengaja/spontan terjadilah perkelahian dg pelaku,” demikian laporan ini.


 


Atas kejadian tersebut, warga sipil bernama Kadek Dikik Okta Andrean, 20, mengalami robek bibir atas sebelah kanan. Sedangkan  Dandim Buleleng mengalami benjol pada kepala bagian belakang sebelah kanan.


 


Berikutnya, Kopral Made Satrawan mengalami lecet pada tangan bagian kanan, dan Pratu Gagas Ribut Suprianto mengalami luka pada pipi sebelah kanan dan kepala sebelah kanan di atas telinga memar.


 


 


Disebutkan pada laporan tersebut, sempat ada mediasi. Namun, pihak korban warga sipil belum bersedia.


 


 


Di sisi lain, versi yang kedua disebut dari pengakuan korban warga sipil atas nama Kadek Diki Okta Andrean. Pemuda berusia 20 tahun yang disebut mahasiswa itu menyebut, sekitar pukul 10.00 Wita dia pulang dari kebun menuju ke rumah Bersama temannya.


 


 


Pada saat di jalan dia tidak tahu apa-apa dicegat oleh aparat TNI yang menghadangnya di jalan. Dia pun berhenti, tiba-tiba tangannya ditarik.


 


“Karena saya tidak memakai masker saya takut dan mencoba untuk kabur. Karena tangan saya dipegang oleh aparat TNI saya hampir jatuh dari sepeda motor dan akhirnya saya bisa meloloskan diri bersama teman saya,” katanya.


 


Tetapi, lanjut korban, ada lagi aparat yang berada kira-kira 40 meter menghadang dan hampir memukulnya dan menghentikannya dan langsung menyeretnya dari atas motor. Saat di lokasi tersebut ada dua saksi pamannya dan anggota DPRD Buleleng yang melihatnya diseret sejauh 30 meter sambil dia dipukul dan dicekik leher bersama temannya.


 


 


“Setelah di seret 30 meter dari tempat dimana saya diberhetikan, saya dipukul, ditendang, diinjak dan disiram pakek air," tuturnya.



Setelah 15 menit, jelasnya, pamannya datang untuk melindunginya agar tidak dipukul lagi. Tetapi malah pamannya yang jadi bulan-bulanan aparat TNI dan juga Kepala Desa Sidetapa yang datang untuk melindunginya ikut ditarik dan didorong. Kemudian datang lagi adik bersama bapaknya karena melihatnya dipukuli oleh aparat TNI.



"Adik saya juga mencoba untuk melerai tetapi malah dia juga yang ikut dipukuli,” beber pengakuan korban ini.


 


“Beginilah kronologi yang sebenarnya. Ketika aparat TNI yang harus mengayomi masyarakat justru kami masyarakat kecil yang dintindas dan diperlakukan seperti ini,” terang korban.


 


Sebelumnya Dandim Windra belum menyampaikan pernyataan resmi. Senin (23/8) pukul 21.30 Wita, Lisrianto mendatangi Mapolres Buleleng guna menyampaikan laporan polisi.


 


"Nanti saja ya setelah selesai laporan," kata Windra.

Editor : Didik Dwi Pratono
#bali #buleleng