TABANAN-Sempat booming alias naik daun, kini kondisi porang Tabanan mengalami anjlok harga.
Harga porang yang sebelumnya sempat menyentuh harga Rp8 ribu per kilogram, kini hanya tinggal Rp6 ribu-7 ribu per kilogramnya.
Seperti diakui Ketua DPW Perhimpunan Petani Penggiat Porang Nusantara (P3N) Bali Nyoman Sunaya.
Dia menyebut turunnya harga umbi porang untuk produksi terjadi sejak dua bulan lalu yang semula menebus Rp 8.000 harga.
Banyak faktor yang membuat harga umbi porang anjlok. Disamping karena ada komplain dari perusahaan yang menyerap umbi porang. Juga panen porang yang melimpah.
Yang cukup membuat terkejut petani porang, yakni dengan adanya beberapa eksportir Indonesia yang nakal mengirim umbi bentuk chips porang yang sudah diolah dari umbi porang basah.
Chips porang kering ini kemudian dikirim ke Tiongkok. Setelah diterima barangnya kondisi porang tersebut dalam keadaan jamuran dan sudah mendekati busuk.
Perusahaan di Tiongkok akhirnya komplain. Sehingga pengiriman porang untuk ekspor distop. “Sementara didalam negeri produksi porang melimpah, inilah yang membuat turun harga umbi porang,” ujar pria asal Surabrata, Desa Lalanglinggah, Selemadeg Barat, Tabanan, Jumat (8/10).
Selain itu, penyebab lainnya, karena di Indonesia juga baru terdapat satu pabrik porang yang benar-benar melakukan pemurnian glukomanan umbi porang dengan teknologi injeksi yakni PT. Ambiko yang ada di daerah Pasuruan Jawa Timur.
Kendati saat ini banyak pabrik porang di daerah Jawa Timur, namun kandungan rendemen glukomanan masih kecil 60-70.
Sementara permintaan ekspor rendemen glukomanan 90 persen.
“Maka tidak heran turun harga porang saat ini,” ungkap Sunaya.
Sejauh ini, kata Nyoman Sunaya, pengiriman hasil tanaman porang di Bali masih ke pabrik yang ada daerah Jawa Timur.
Sementara untuk ekspor secara langsung belum ada karena di Bali belum memiliki pabrik.
“Di kami di P3N Bali mengirim porang dengan dua perusahaan besar yakni PT. Rajawali Penta Nusantara dan PT. Asia Prima Konjac. Karena baru dua perusahaan tersebut yang MoU,” jelasnya.
Editor : Didik Dwi Pratono