Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menangis Itu Tidak Tabu: Saat Air Mata Jadi Bahasa Hati

R
Penulis: Rosihan Anwar❯

 


Advertisement

Santy Sastra.
Santy Sastra.

 

Oleh: Santy Sastra

Advertisement

(Mindset Motivator & Hypnoterapist)

MENANGIS sering dianggap tanda lemah. Padahal, air mata adalah cara tubuh bicara saat kata-kata tak cukup lagi. Laki-laki, perempuan, anak, atau dewasa semua boleh menangis.

Sejak kecil kita diajari “jangan cengeng”. Akibatnya, banyak orang menahan tangis sampai dada sesak. Padahal menahan emosi justru bikin stres numpuk dan tubuh ikut sakit.

Advertisement

Secara ilmiah, menangis punya manfaat. Air mata emosional mengandung hormon stres seperti kortisol. Begitu keluar, tubuh terasa lebih ringan, napas lebih lega, dan kepala lebih jernih.

Menangis juga cara otak melindungi diri. Saat sedih, kecewa, atau terlalu bahagia, air mata membantu menstabilkan perasaan. Itu sebabnya habis menangis kita sering merasa tenang.

Di banyak budaya, menangis untuk laki-laki masih tabu. Stigma “cowok kuat nggak boleh nangis” membuat banyak pria memendam luka. Padahal kuat bukan berarti tidak pernah rapuh.

Perempuan pun kadang dicap drama saat menangis. Padahal menangis adalah bentuk kejujuran emosi. Lebih sehat mengungkapkan daripada pura-pura tegar terus-menerus.

Advertisement
Editor : Rosihan Anwar

Artikel Terkait

Self Talk Matters Menurut Ilmu Pikiran

Self Talk Matters Menurut Ilmu Pikiran

Oleh: Santy Sastra (Mindset Motivator & Hypnoterapist)

Negativity Bias Secara Psikologis

Negativity Bias Secara Psikologis

Oleh: Santy Sastra (Mindset Motivator & Hypnoterapist)

Epistemic Arrogance secara Psikologis

Epistemic Arrogance secara Psikologis

Oleh: Santy Sastra (Mindset Motivator & Hypnoterapist) 

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer