DENPASAR, Radar Bali.id - Di balik pesatnya perkembangan pariwisata di Nusa Penida, menyimpan pilu karena daerah tersebut krisis air. Masyarakat setempat harus membeli air untuk kebutuhan sehari-hari. Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Bali , Ketut Juliarta mengapresiasi telah terwujudnya Dermaga Penyeberangan Sanur - Nusa Penida, Lembongan, dan Ceningan.
Hal ini berpengaruh sangat signifikan terhadap percepatan pembangunan di Nusa Penida, Lembongan, dan Ceningan, terutama sangat berdampak pada sektor Pariwisata.
” Kami Fraksi Gerindra pada kesempatan yang baik ini memohon kepada saudara Gubernur untuk membantu Rakyat Nusa Penida menangani masalah krisis air bersih. Sampai saat ini masih banyak rumah masyarakat yang belum dialiri air bersih sehingga mau tidak mau mereka membeli air bersih dari luar,” ungkap Dewan asal Klungkung ini.
Keju-Sapaan Ketua Juliarta- mengatakan ada yang bisa menghabiskan Rp 100 ribu per hari. Rata-rata bisa mencapai Rp 1 juta perbulan untuk membeli air. Betapa mahalnya uang yang harus dikeluarkan masyarakat hanya untuk memenuhi air bersih yang menjadi kebutuhan untuk menunjang hidup. Keju menanyakan bagaimana peran pemerintah sampai saat ini permasalahan air belum juga bisa diatasi.
”Untuk itu kami dari Fraksi Gerindra mengusulkan untuk pengoptimalan pengelolaan sumber mata air yang dikelola Pemprov Bali seperti sumber mata air Guyangan sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas. Jika air mudah didapat masyarakat tentunya mereka tidak perlu lagi menebus air dengan harga maha,” ucapnya saat membacakan pemandangan umum Fraksi Gerindra.
Lebih lanjut dijelaskan, selain itu terkait dengan perkembangan Pariwisata Nusa Penida yang begitu pesat, timbul beberapa persoalan. Utamanya terkait dengan kemacetan di sejumlah ruas jalan di Nusa Penida. Jika dari lebar jalan dan juga kondisi jalan tentu masih sangat tertinggal dibandingkan jalan yang kini ada di Bali daratan. Ketertinggalan infrastruktur jalan ini kami harapkan dapat diatasi agar dapat menunjang pariwisata yang berkembang di Nusa Penida.
Mereka berharap rencana jalan lingkar Nusa Penida yang sampai saat ini tidak terealisasi bisa mendapatkan perhatian baik dari Pemprov Bali maupun pemerintah pusat. Mengingat Nusa Penida menjadi pariwisata terkenal di dunia. Kondisi infrastruktur di Nusa Penida juga menjadi cerminan pembangunan di Bali dan juga Indonesia. ”Jangan sampai ketertinggalan infrastruktur di Nusa Penida menjadi cerminan negatif terhadap pemerintahaan saat ini,” tandas Keju.
Sementara itu, Wagub Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati diwawancarai usai Sidang Paripurna kemarin membenarkan adanya krisis air di Nusa Penida. Pejabat yang akrab disapa Cok Ace mengatakan pesatnya perkembangan di Nusa Penida tidak dibarengi dengan infrastruktur salah satunya penyediaan air. Dikatakan beberapa hari lalu Cok Ace sempat membahas terkait krisis air di Nusa Penida dengan memakai teknologi Jerman mengubah air laut menjadi air tawar atau air minum. ”Kalau itu berhasil bisa sebagai pilot projectnya. Kami akan cari apapun caranya mengatasi permasalahan itu,” ujar Cok Ace.
Menurutnya krisis hari selalu terjadi terutama masuk musim kemarau. Selain itu, mengenai kurangnya infrastruktur di Nusa Penida Coka Ace sebut sebagai dampak pesatnya pembangunan pariwisata. ”Memang satu hal dampak ketika berhasil membangun pariwisata di Nusa penida dan tentu juga harus sejalan dengan ditingkatkan kelengkapan lainnya seperti infrastruktur, dan lain sebagainya,” katanya. [ni kadek novi febriani/radar bali]
Editor : Hari Puspita