SINGARAJA– Para penabuh sepuh yang tergabung dalam Sekaa Gong Saraswati Desa Menyali, tampil di Panggung Terbuka Ardha Candra. Mereka pentas dalam ajang penampilan Gong Legendaris, serangkaian dengan Pesta Kesenian Bali (PKB) 2023.
Penabuh itu rata-rata telah berusia di atas 50 tahun. Kendati sudah masuk kategori lansia, dalam hal semangat dan teknik menabuh gong, mereka tidak bisa dipandang sebelah mata. Penampilan mereka pun mendapat dukungan dari perantau asal Menyali yang mukim di ibukota.
Dalam pementasan tersebut, mereka membawakan empat buah tabuh. Masing-masing tabuh lelonggoran berjudul Ombak Kaulu, tabuh kreasi berjudul Sriwijaya, Tari Legong Pengeleb, dan Tari Trunajaya.
Kelian Desa Adat Menyali, Gede Carita mengungkapkan Sekaa Gong Saraswati dulunya bernama Sekaa Gong Sekar Gadung. Nama Sekar Gadung merujuk pada salah satu pusaka peninggalan Raja Buleleng, Ki Barak Panji Sakti.
Pada tahun 1914 Sekaa Gong Saraswati sudah sempat tampil mebarung dengan tiga sekaa. Yakni Sekaa Gong Desa Bebetin, Sekaa Gong Desa Jagaraga, dan Sekaa Gong Desa Kedis. Desa-desa itu, termasuk Menyali, merupakan kiblat gong kebyar pada masanya.
Bahkan pada tahun 1934, Sekaa Gong Saraswati meraih jayanthi (juara) pertama dan berhak membawa pulang sebuah kober (bendera pusaka) yang dianugerahkan Raja Klungkung, Dewa Agung Oka Deg.
“Astungkara, dengan persiapan sejak Januari kami merasa puas bisa tampil. Apalagi dengan kondisi penabuh dan penari yang sudah tua-tua ini. Yang penting histori yang ada di desa kami bisa dipertahankan,” ujarnya.
Editor : Donny Tabelak