Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Sulit Dapat BBM Subsidi, Nelayan dan Petani Mesadu ke Polisi

Donny Tabelak • Minggu, 11 Desember 2022 | 19:55 WIB
AWASI: Polisi terlihat berjaga mengawasi antrean di sejumlah SPBU di Kota Denpasar menyusul kelangkaan bahan bakar minyak jenis solar dan pertalite. (Foto: Adrian Suwanto/radar bali)
AWASI: Polisi terlihat berjaga mengawasi antrean di sejumlah SPBU di Kota Denpasar menyusul kelangkaan bahan bakar minyak jenis solar dan pertalite. (Foto: Adrian Suwanto/radar bali)
SINGARAJA– Nelayan dan petani di Desa Kaliasem, Kecamatan Banjar, mesadu ke Kapolres Buleleng AKBP I Made Dhanuardana. Mereka mengeluhkan sulitnya membeli bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Padahal mereka membutuhkan untuk kegiatan melaut maupun bercocok tanam.

Keluhan itu disampaikan para nelayan dan petani, saat Dhanuardana melakukan simakrama di Pantai Tanjung Alam, Desa Kaliasem, Jumat lalu (9/12). Dalam kesempatan itu Dhanuardana bukan hanya bertemu para petani dan nelayan, tapi juga para kelompok pemuda dan komponen masyarakat lainnya.

Ketua Kelompok Nelayan Sinar Bahari Desa Kaliasem, Kamarudin mengungkapkan, pihaknya harus mengantre BBM subsidi jenis pertalite di SPBU Dencarik. Masalahnya mereka tak pernah diutamakan oleh petugas SPBU.

“Kalau beli minyak kadang dapat, kadang tidak. Malah yang diutamakan itu yang mau jualan eceran di warung-warung itu. Kalau saya, harus menunggu sampai jam 11 malam atau jam 12 malam, baru bisa dapat,” kata Kamarudin.

Ia merasa perlakuan itu tidak adil. Sebab nelayan hanya butuh bensin sebanyak 20 liter hingga 40 liter per hari. Bila dibandingkan dengan pedagang eceran, rata-rata membeli 120 liter bahkan 180 liter sehari. Bahkan Kamarudin mengaku pernah ditolak oleh petugas SPBU. “Padahal KTP saya jelas nelayan. Kok masih tidak dipercaya. Kami ini kan melaut pakai mesin tempel, tangkinya ya jerigen itu. Masa iya kami ini harus bawa mesin  ke SPBU baru dilayani,” keluhnya.

Mendengar keluhan tersebut, Kapolres Dhanuardana berjanji segera menindaklanjutinya dengan instansi terkait. Termasuk membicarakannya dengan para pemilik SPBU, sehingga nelayan juga mendapat prioritas membeli pertalite.

“Nanti akan kami bicarakan. Supaya SPBU yang ada di Buleleng itu juga meladeni nelayan dan petani yang memerlukan BBM bersubsidi, sesuai dengan rekomendasi yang dimilikinya baik dari pemereintah desa maupun instansi terkait,” janjinya. (eps) Editor : Donny Tabelak
#bbm subsidi #bbm #polres buleleng #Nelayan mengadu