SINGARAJA– Dinas Pertanian Buleleng mulai menggenjot proses vaksinasi terhadap hewan penyebar rabies (HPR). Sayangnya vaksinasi baru dilakukan pada akhir tahun. Setelah belasan warga meninggal dunia akibat penyakit rabies.
Vaksinasi sendiri dipusatkan di Kecamatan Gerokgak. Kemarin (12/12) vaksinasi dipusatkan di dua desa, yakni Desa Sumberkima dan Pengulon. Rencananya vaksinasi akan dilanjutkan ke desa lainnya, seperti Pemuteran, Tinga-tinga, Gerokgak, Celukan Bawang, serta Patas.
Kepala Dinas Pertanian Buleleng I Made Sumiarta mengakui proses vaksinasi rabies sempat tersendat. Konsentrasi pemerintah terpecah gegara munculnya kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi, yang terjadi pada bulan Juli lalu.
Kini setelah kasus PMK mereda, pemerintah akhirnya kembali fokus menangani rabies. “Kami sudah lakukan gebyar dan kami buat skema penanggulangan rabies agar lebih optimal. Saat ini kami fokus di Gerokgak dulu, baru selanjutnya geser ke kecamatan lain,” kata Sumiarta saat ditemui di Pelabuhan Tua Buleleng, Senin (12/12).
Sumiarta mengungkapkan, proses vaksinasi akan fokus pada 80 desa yang masuk dalam daerah zona gigitan. Total ada 16 tim yang akan dikerahkan melakukan vaksinasi. Sebanyak 10 tim bantuan dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Bali, sementara 6 tim lainnya merupakan tim khusus dari Dinas Pertanian Buleleng yang terbiasa melakukan vaksinasi rabies.
Selain melakukan vaksinasi, Dinas Pertanian Buleleng juga akan melakukan eleminasi secara selektif. Anjing-anjing liar yang menunjukkan gejala identik terjangkit rabies akan langsung dieleminasi. Petugas tak mau ambil risiko, sebab anjing yang terjangkit rabies akan menggigit siapa saja yang ada di dekatnya.
Lebih lanjut Sumiarta mengatakan, pemerintah juga akan mendorong desa membuat regulasi khusus tentang pencegahan dan penanggulangan rabies. “Kami juga sudah kerjasama dengan Dinas PMD (Pemberdayaan Masyarakat dan Desa), supaya mendorong desa-desa itu membuat perdes (peraturan desa) khusus tentang penanggulangan rabies,” demikian Sumiarta. (eka prasetya/radar bali)
Editor : Hari Puspita