SUARA azan terdengar nyaring sore itu. Tanda masuk waktunya salat asar. Satu persatu warga yang mukim di sekitar Masjid Agung Jami’ Singaraja berdatangan, bersiap menjalankan ibadah salat. Usai salat, kegiatan di areal masjid masih berlanjut. Sejumlah pemuda terlihat sibuk memasak hidangan untuk berbuka puasa. Lainnya terlihat berbincang di teras masjid sembari menunggu waktu berbuka puasa tiba. Ngabuburit, begitu istilah para muda.
Masjid Agung Jami’ Singaraja merupakan salah satu masjid tua di Buleleng. Masjid diyakini berdiri sejak tahun 1830-an. Konon masjid itu didirikan lantaran Masjid Keramat Kuno –masjid pertama di Buleleng– tak mampu lagi menampung jemaah muslim yang bermukim di wilayah Kampung Bugis, Kampung Kajanan, dan Kampung Baru. Ketiga wilayah merupakan kantong umat muslim di Buleleng.
Karena jumlah umat sudah banyak, maka butuh tempat yang lebih luas untuk ibadah Salat Jumat dan Salat Idul Fitri. “Akhirnya tetua-tetua kami menghadap Raja Buleleng mengajukan permohonan tanah untuk tempat ibadah. Akhirnya diberikan tanah yang jadi lokasi masjid sampai hari ini,” ungkap Muhammad Agil, 32, Humas Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Masjid Agung Jami’ Singaraja saat ditemui Kamis (13/4) sore.
Dihiasi Ornamen Bali, Pintu Pemberian Puri
Agil mengungkapkan, keberadaan Masjid Agung Jami’ tak lepas dari nama I Gusti Ngurah Ketut Jelantik Celagi. Ia merupakan keturunan Raja Buleleng pertama, I Gusti Anglurah Ki Barak Panji Sakti. Jelantik Celagi kemudian memutuskan menjadi mualaf.
Jelantik Celagi pula yang melobi Raja Buleleng untuk menghibahkan tanah sebagai lokasi ibadah. Saat itu tahta raja diemban I Gusti Ngurah Ketut Jlantik atau yang dikenal juga dengan sebutan Anak Agung Padang. Ketut Jlantik merupakan kakak dari Ketut Jelantik Celagi. Kerajaan kemudian memberikan sebidang tanah seluas 15 are. Raja memerintahkan agar Jelantik Celagi dan rekannya, Abdullah Masgati bertindak sebagai pengurus masjid.
Dengan statusnya sebagai masjid tua, Masjid Agung Jami’ punya keunikan tersendiri. Di antaranya ornamen ukiran khas Bali yang menghiasi pintu gerbang utama.
Pintu yang berada di masjid serta lubang ventilasi juga dihiasi dengan ukiran yang sama. Yakni ukiran khas Buleleng yang bertema tanaman rambat.
Hal yang paling unik ialah keberadaan pintu gerbang utama. Konon pintu itu dibawa langsung dari Puri Buleleng ke Masjid Agung Jami’. Pintu itu juga simbol toleransi antara umat Hindu yang sering disebut Semeton Bali, dengan umat Islam yang sering disebut nyame selam.
“Cerita turun temurun memang pintu gerbang itu dibawa langsung dari puri, dan langsung dipasang di masjid. Jadi itu simbol toleransi antara semeton Bali dengan nyame selam yang ada di Buleleng. Itu juga sekaligus penanda bahwa tanah masjid ini diberikan oleh raja pada adiknya yang mualaf,” ungkap Agil.
Tak hanya itu, Raja Ketut Jlantik juga disebut mengirimkan undagi kerajaan ke Masjid Agung Jami’ untuk menata masjid. Undagi ditugaskan membuat pintu, daun jendela, lubang ventilasi, serta menghiasi bangunan dengan ukiran khas Buleleng. Hingga kini ukiran itu masih terus dijaga dan dirawat.
Selain itu undagi kerajaan juga ditugaskan membuat mimbar yang digunakan khatib saat menyampaikan ceramah pada Salat Jumat atau salat besar lainnya. Saat itu mimbar hanya ada di Masjid Keramat Kuna. Sehingga undagi kerajaan membuat mimbar yang sama persis dengan yang ada di Masjid Keramat.
Keunikan Masjid Agung Jami’ bukan hanya dari sisi arsitektur saja. Di masjid itu juga tersimpan sebuah Alquran kuno yang ditulis menggunakan tangan oleh I Gusti Ngurah Ketut Jelantik Celagi.
Alquran itu diperkirakan sudah ditulis pada tahun 1820-an. Jelantik Celagi menulis Alquran saat menuntut ilmu keagamaan pada gurunya yang bernama Muhammad Yusuf Saleh. Alquran itu ditulis secara perlahan tatkala Jelantik Celagi menuntut ilmu di Masjid Keramat Kuno.
Pada masa itu, mendapatkan kertas dan tinta bukan perkara mudah. Kertas untuk menulis ayat-ayat suci, diimpor dari Belanda. Sementara sampul Al Quran terbuat dari kulit lembu yang diimpor dari India. Sedangkan tinta terbuat dari pepohonan yang saat itu banyak ditemukan di sekitar Masjid Keramat Kuna.
Dengan tekun Jelantik Celagi menulis Alquran dengan menggunakan tangan. Ayat demi ayat. Surat demi surat. Juz demi juz. Hingga Alquran dengan panjang 33 centimeter dan lebar 21,5 sentimeter itu tuntas ditulis. Sebanyak 114 surat, dan 30 juz ditulis rapi dengan tangan.
Ketika Masjid Agung Jami’ berdiri, Jelantik Celagi memboyong Alquran tulisan tangan miliknya ke masjid tersebut. Hingga kini Alquran itu masih tersimpan rapi di masjid. Setiap bulan pengurus masjid melakukan perawatan dengan menaburkan bubuk ketumbar. Alquran itu kini lebih banyak tersimpan dalam kotak kaca, sangat jarang dibaca.
“Alquran ini istimewa, karena ditulis langsung oleh keturunan Raja Buleleng yang memutuskan menjadi mualaf. Sehingga kami merasa ini penting dirawat dan dilestarikan,” ungkapnya.
Agil mengatakan, umat tetap mengenang keberadaan masjid itu sebagai pemberian raja. Hal itu pun tercermin dari nama masjid. Konon nama Agung diambil dari nama raja I Gusti Ngurah Ketut Jlantik atau Anak Agung Padang yang menghibahkan lahan untuk masjid. Sementara nama Jami’ berarti bersama.
Sementara itu, di Kabupaten Jembrana dengan penduduk beragama Islam hampir 30 persen, selama ini hidup rukun antara umat Hindu dan Islam. Toleransi yang terawat sejak bertahun - tahun ini tidak lepas dari budaya dan tradisi warisan leluhur.
Selain tradisi ngejot (berbagi makanan), ada kebiasaan yang terlihat biasa dan sederhana, tetapi memiliki makna yang mendalam. “Banyak sebenarnya kebiasaan dari masyarakat Jembrana yang mencerminkan sikap toleran antaraumat beragama,” ujar Musaddad, 64, salah satu sesepuh Kelurahan Loloan Timur.
Pria kelahiran 17 Agustus 1959 ini mencontohkan dalam kehidupan sosial ekonomi, antara umat Islam dan Hindu saling mengisi dan melengkapi. Warga Loloan baik Timur dan Barat, banyak yang menjadi pembuat kue yang tidak hanya dibeli umat muslim, tetapi juga dari umat Hindu untuk upacara keagamaan atau adat.
Sebaliknya, setiap ada kegiatan tradisi keagamaan umat muslim seperti nyekar pada setiap awal bulan puasa dan jelang hari raya, serta hari tertentu kembali bunga untuk dibawa ke kuburan dari Umat Hindu yang menjual bunga. “Artinya ada simbiosis mutualis dari sosial ekonomi yang tidak ada sekat agama. Hal ini memang sepertinya biasa, tapi sangat bermakna,” ungkap pria yang juga pegiat budaya ini.
Pada saat Idul Fitri, sebagai bentuk toleransi antarumat beragama yang berdampingan dengan agama lain silaturahmi tetap terjaga dengan baik. “Kalau hari raya, tidak hanya dari saudara mualim silaturahmi, tetapi tetangga dan teman dari umat lain juga datang silaturahmi,” tuturnya.
Kedekatan warga muslim, terutama Loloan dengan Puri di Jembrana juga sebagai simbol kerukunan antara umat beragama di Jembrana. Sejak awal Islam masuk ke Jembrana, sudah ada hubungan harmonis dengan puri.
Pada saat zaman perjuangan kemerdekaan, antara umat Islam dan Hindu juga sudah memiliki hubungan harmonis. Bahkan bersama sama berjuang memperebutkan kemerdekaan. Salah satu bukti sejarah adalah Masjid Pahlawan Air Kuning, Kecamatan Jembrana.
“Dulu, Masjid Pahlawan (Jembrana) tidak hanya menjadi tempat ibadah umat muslim, tetapi juga berkumpulnya para pejuang (pasukan I Gusti Ngurah Rai) mengatur strategi perang melawan penjajah,” ujarnya.
Pada saat masa perjuangan kemerdekaan ini ada budaya janturan di Desa Air Kuning yang diisi dengan seni hadrah grubuk. Kesenian ini salah satu cara warga dan pejuang mengelabui penjajah. Dalam Masjid para pejuang yang tidak hanya umat Islam, tetapi pejuang lain dari umat Hindu mengatur strategi, di luar ada Hadrah grubuk.
“Jadi saat ada patroli dari Belanda, dikiranya hanya hiburan dan kegiatan agama biasa. Padahal dalam masjid ada para pejuang yang mengatur strategi melawan penjajah,” ungkapnya.
Sekilas tentang hadrah gerubuk, sepeti seni hadrah pada umumnya untuk mengiringi salawat nabi. Akan tetapi alat yang digunakan juga beberapa peralatan musik untuk janger, sehingga terdengar seperti solawat dan janger. “Tetapi seni hadrah gerubuk ini sudah mulai jarang dilaksanakan,” cetusnya.
Musaddad tidak memungkiri bahwa sejumlah kebiasaan sebagai simbol kerukunan umat beragama semakin lama terkikis. Salah satunya akibat pengaruh buruk dari teknologi informasi, mislanya dalam hal silaturahmi banyak yang hanya lewat pesanan singkat atau telepon. Padahal lebih baik bertemu, karena dalam pertemuan ada rasa yang tidak bisa didapatkan jika hanya melalui sambungan telepon.
Pengaruh buruk teknologi juga pada penyebaran informasi -informasi yang memprovokasi. Akhirnya banyak yang terprovokasi dan memunculkan saling benci dan permusuhan, padahal belum tentu yang diterima di media sosial benar (eka prasetya/m. basir/editor:sandijaya maulana)
Editor : Hari Puspita