Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kisah Para Penjaga Penyu di Pulau Dewata(1): Mr. Turtle 23 Tahun Menjaga Tukik

Eka Prasetya • Minggu, 19 November 2023 | 23:05 WIB
PELESTARIAN DAN WISATA : Sejumlah wisatawan asing berkunjung ke Sindu Dwarawati Turtle Conservation di Pandai Sindu, Sanur. (miftahuddin m.halim/radar bali)
PELESTARIAN DAN WISATA : Sejumlah wisatawan asing berkunjung ke Sindu Dwarawati Turtle Conservation di Pandai Sindu, Sanur. (miftahuddin m.halim/radar bali)

Geliat konservasi di Bali tengah membuncah. Terutama terhadap satwa liar seperti penyu. Lokasi konservasi bermunculan seantero Bali. Salah satu yang paling mencolok, adalah lokasi konservasi di Pantai Kuta.

PATUNG berbentuk penyu terlihat mencolok di sebelah selatan Kantor Satgas Pantai Kuta. Patung itu sudah berdiri sejak 2010 silam. Patung itu bukan sekadar hiasan, namun juga berfungsi sebagai bak penangkaran penyu yang kini dikelola Kuta Beach Sea Turtle Conservation Centre (KBSTCC).

Lokasi penangkaran itu tak lepas dari peran I Gusti Ngurah Tresna. Dia adalah mantan Ketua Satgas Pantai Kuta, sekaligus inisiator Kuta Beach Sea Turtle Conservation Center (KBSTCC).  Selama puluhan tahun Gusti Tresna bergelut dengan penyu. Sehingga wisatawan mancanegara (wisman) kerap menjuluki ia dengan nama Mr. Turtle.

Tresna menceritakan, dirinya terikat dengan penyu sejak 1999 silam. Tatkala itu dia mengemban tugas sebagai Ketua Satgas Pantai Kuta. Sebagai ketua, praktis dia punya tugas melakukan patroli pengamanan pantai dan wisatawan. Suatu ketika, dia mendapati seekor penyu yang tengah bertelur.

“Di sanalah awalnya saya mulai menjaga satwa ini. Apalagi penyu kan sudah masuk kategori hewan
 yang terancam punah,” katanya.

Awalnya hanya ada dua ekor penyu yang bertelur di Pantai Kuta. Tahun demi tahun, jumlah penyu yang bertelur di kawasan tersebut semakin banyak. Ia pun berusaha menyelamatkan telur-telur penyu, kendati dengan pengetahuan seadanya. Tresna kemudian mendapatkan pelatihan teknis penyelamatan penyu.

Aktivitasnya menyelamatkan telur penyu kemudian menyebar dari mulut ke mulut. Permintaan melakukan penyelamatan telur penyu meluas. Bukan hanya di Kuta, tapi juga berkembang hingga ke Legian, Seminyak, dan Canggu.

"Akhirnya kita punya (tempat konservasi) di sini. Populasinya terus bertambah dan akhirnya kita memerlukan tempat yang lebih besar untuk penyelamatan," tutur Mr. Turtle.

Biasanya permintaan penyelamatan telur penyu berlangsung pada Maret hingga September. bahkan pernah dalam setahun ia hanya menyelamatkan 800 sarang. Bila satu sarang berisi seratus telur, maka setahun dia bisa menyelamatkan hingga 80 ribu telur. Tahun ini saja, KBSTCC telah menyelamatkan 475 sarang.

"Periode Mei, Juni, Juli, dan Agustus itu high season-nya, satu malam bisa 39 induk bertelur. Kalau dari 23 tahun yang lalu mungkin jutaan tukik sudah kita kembalikan atau lepas liarkan ke habitatnya,” terangnya.

Telur-telur yang berhasil diselamatkan kemudian diletakkan di bak penangkaran yang berbentuk penyu. Setelah dua bulan, telur akan menetas menjadi tukik. Pelepasan pun dilakukan di Pantai Kuta.

Ternyata pelepasan itu juga menarik perhatian wisatawan yang banyak beraktivitas di Pantai Kuta. Mereka bisa melepas tukik secara gratis, namun banyak pula yang memberikan donasi bagi keberlangsungan konservasi.

“Itu kita betul-betul melakukan secara ikhlas, karena ini berkait dengan alam dan kita betul-betul tujuannya untuk lingkungan. Makanya kita tidak mencari keuntungan di sini,” sambungnya.

Di usianya yang sudah menginjak 72 tahun, Mr. Turtle tetap berkomitmen untuk menyelamatkan lingkungan, khususnya penyelamatan satwa penyu. “Sepanjang masih mampu, sepanjang hayat dikandung badan, kita tetap akan berbuat sesuatu untuk lingkungan dan kepentingan orang banyak. Apalagi penyu ini dilindungi oleh pemerintah,” ungkapnya.

Lebih lanjut dijelaskan, tantangan utama dalam konservasi penyu di Pantai Kuta ialah kapasitas bak penangkaran yang terbatas. Selain itu hingar bingar pariwisata berlangsung nyaris selama 24 jam. Padahal penyu membutuhkan suasana yang tenang, agar mau bertelur.

Alih-alih membatasi aktivitas pariwisata, kondisi itu justru dimanfaatkan menjadi paket wisata. Wisatawan diajak mengamati penyu bertelur pada dini hari. Aktivitas itu lazim ditemukan di Pantai Kuta, Seminyak, maupun Legian.

“Mereka exciting sekali, betul-betul mereka belum pernah sepanjang hidupnya bisa melihat satwa yang langka ini, melihat penyu bertelur. Secara tidak langsung, pemerintah atau biro perjalanan untuk travel tidak susah-susah mempromosikan pariwisata. Wisatawan yang ikut melepas akan menyampaikan ke teman-temannya,” kata Tresna.

Selama 23 tahun bergelut pada penyelamatan penyu, ia menghadapi sejumlah tantangan. Pertama kondisi alam yang tidak bisa diprediksi. Terkadang pada periode Oktober hingga Februari ada saja penyu yang terdampar dalam kondisi luka-luka. Bila ditemukan, maka penyu tersebut akan dibawa ke pusat konservasi di Serangan untuk perawatan.

Tantangan lainnya, ialah edukasi untuk wisatawan yang belum mengetahui keberadaan induk penyu yang datang ke pantai untuk bertelur.

"Karena terus terang banyak tamu yang tidak tahu di pantai ini ada penyu bertelur. Kalau gangguan telurnya dicuri kayaknya sih nggak ada lagi, karena ini kan dilindungi. Masyarakat juga sudah mulai paham,”jelasnya.

Sebagai umat Hindu, ia pun berupaya menerapkan ajaran Tri Hita Karana. Yakni dengan menjaga lingkungan melalui konservasi penyu yang menjadi tanggung jawab bersama. Ia berjanji akan tetap menjaga konservasi penyu, selama masih diberi kesehatan. (ni made ari rismaya/editor : eka prasetya)

 

Editor : Hari Puspita
#pelestarian #tukik #penyu