DENPASAR, Radarbali.id - Delapan hari setelah Hari Raya Kuningan, tepatnya pada hari Minggu (13/10) atau Redite Pon Wuku Medangsia, Desa Adat Kesiman melaksanakan Tradisi Ngerebong di Pura Agung Petilan.
Nampak sebanyak 32 penjor turut menghiasi bagian depan Pura Agung Petilan. Tak jarang para pemedek ataupun pengendara yang melintas berhenti sejenak untuk mengambil gambar melalui ponsel maupun kamera profesional.
Manggala Sabha Desa Adat Kesiman, Wayan Wiranata memaparkan penjor ini menggambarkan suatu kepositifan daripada generasi dan kreativitas sekaa truna. ”Penjor itu adalah perwujudan pada rasa syukur antara gunung dengan laut bertemu, terjadilah suatu hasil kemakmuran,” tuturnya.
Ngider kedua adalah Poleng Kesiman, wakil dari para dewa. Dengan demikian, aura negatif menjadi positif dan terjadi kesetaraan, keseimbangan kehidupan di dalam masyarakat di Kesiman.
Prosesi ngerebong pun turut menjadi daya tarik bagi wisatawan, meskipun kedatangan wisatawan saat ini diakuinya tak sebanyak dahulu. ”Proses ini diakui karena kita di Bali ini antara dinamisme dan animisme masih ada yang bisa memberikan suatu pengendalian jadi kehidupan manusia,” terangnya. ***
Editor : Made Dwija Putera