Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

FTSE Tunda Review Saham RI, IHSG Hari Ini 10 Februari Berpotensi Longsor

Dhian Harnia Patrawati • Selasa, 10 Februari 2026 | 10:41 WIB
MEMERAH - Indeks harga saham gabungan Bursa Efek Indonesia.
MEMERAH - Indeks harga saham gabungan Bursa Efek Indonesia.

RADAR BALI – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibayangi sentimen negatif pada perdagangan Selasa (10/2).

Kabar mengejutkan datang dari penyedia indeks global, FTSE Russell, yang memutuskan untuk menunda pelaksanaan peninjauan indeks saham Indonesia yang seharusnya dijadwalkan pada Maret 2026.

Langkah ini diambil akibat ketidakpastian penetapan persentase saham beredar di publik (free float) emiten Indonesia di tengah proses reformasi pasar modal yang sedang digulirkan oleh otoritas terkait.

Dalam pengumuman resminya pada Senin (9/2), FTSE Russell menjelaskan bahwa keputusan penundaan ini merupakan hasil pertimbangan atas masukan dari External Advisory Committees.

Fokus utamanya adalah menghindari potensi perputaran portofolio yang merugikan akibat data free float yang belum akurat.

"Menanggapi masukan dari Komite Penasihat Eksternal, dan mempertimbangkan potensi perputaran yang merugikan serta ketidakpastian dalam menentukan persentase free float yang akurat mengingat rencana reformasi yang sedang berlangsung, FTSE Russell akan menunda peninjauan indeks Maret 2026 untuk Indonesia," tulis manajemen FTSE Russell.

Penundaan ini menyusul komitmen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada akhir Januari lalu untuk meningkatkan transparansi pasar, yang kemudian diikuti oleh publikasi rencana aksi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 5 Februari 2026.

Dampak Operasional: Aksi Korporasi "Dibekukan"

Keputusan ini mengacu pada aturan Exceptional Market Disruption. Akibatnya, sejumlah perubahan indeks untuk saham Indonesia akan dihentikan sementara, antara lain:

Penambahan Saham: Tidak ada emiten baru dari hasil IPO maupun review rutin.

Evaluasi Emiten: Penghapusan saham dari review dan perubahan segmentasi kapitalisasi (large, mid, small cap) ditiadakan.

Penyesuaian Teknis: Perubahan jumlah saham beredar, bobot investability, dan rights issue yang diasumsikan dijual tidak akan diterapkan.

Meski demikian, aksi korporasi yang bersifat mendesak seperti penghapusan saham akibat merger, akuisisi, suspensi, hingga delisting tetap diberlakukan.

Begitu pula dengan aksi yang tidak menambah modal seperti stock split atau pembagian dividen.

Respons BEI dan Proyeksi IHSG

Menanggapi hal tersebut, Pjs. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan bahwa pihak FTSE sebenarnya mendukung langkah integritas yang dilakukan BEI dan OJK.

Menurutnya, FTSE hanya menekankan agar implementasi rencana aksi tersebut berjalan sesuai lini masa yang telah ditetapkan.

"Kami mengapresiasi dukungan dari FTSE. Kami memahami bahwa mereka juga tidak menyampaikan kekhawatiran terkait country classification," ungkap Jeffrey.

Sebagai catatan, jadwal klasifikasi negara tetap akan diumumkan pada 7 April 2026.

Analisis Teknikal IHSG

Meski pada penutupan Senin (9/2) IHSG menguat 1,22 persen ke posisi 8.031,87, sentimen dari FTSE diprediksi akan memicu aksi jual investor institusi global hari ini.

Support: IHSG diperkirakan menguji kembali level 7.863.

Resistance: Level 8.100 menjadi pembatas psikologis yang kuat.

Tanpa katalis positif yang signifikan dari domestik, ruang penguatan IHSG dinilai terbatas.

Pelaku pasar kini menanti pembaruan informasi dari FTSE yang dijanjikan akan dirilis sebelum pengumuman review kuartalan pada 22 Mei 2026 mendatang.***

Editor : Ibnu Yunianto
#10 Februari 2026 #bursa efek indonesia (bei) #Saham #FTSE Russell #FTSE #ihsg hari ini #ihsg #otoritas jasa keuangan