Radar Bali.id – Dalam situasi geopolitik yang kacau, peperangan, secara historis dan teknikal, lazimnya komoditas emas adalah aset safe haven (pelindung nilai) utama saat terjadi perang.
Saat ini, para analis melihat tren bullish (kenaikan) yang sangat kuat karena beberapa faktor:
- Lonjakan Harga Dunia: Per hari ini, harga emas spot dunia telah melompat lebih dari 2% dan menembus level USD 5.400 per troy ons. Beberapa lembaga keuangan besar seperti JP Morgan bahkan mulai merevisi target mereka ke angka USD 6.000 – USD 6.300 hingga akhir tahun 2026 jika konflik meluas.
- Dampak Lokal (Emas Antam/Pegadaian): Di Indonesia, harga emas Antam dilaporkan sudah menyentuh kisaran Rp3,3 juta hingga Rp3,4 juta per gram. Jika ketegangan tidak mereda dan nilai tukar Rupiah melemah akibat sentimen risk-off, harga emas domestik diprediksi bisa menembus Rp4 juta per gram pada pertengahan 2026.
- Blokade Selat Hormuz: Penutupan jalur logistik minyak ini memicu inflasi global. Emas selalu naik saat inflasi tinggi karena nilai uang kertas (fiat) dianggap melemah.
Apakah Akan Fluktuatif Tak Menentu?
Meskipun tren jangka panjangnya naik, Anda harus siap dengan volatilitas tinggi (naik-turun tajam dalam waktu singkat).
- Aksi Profit Taking: Saat harga melonjak tajam, investor besar seringkali menjual sebagian asetnya untuk mengambil untung, yang bisa menyebabkan harga "koreksi" atau turun sementara ke level dukungan (support) sekitar USD 5.000 -USD 5.200.
- Sentimen Berita: Setiap berita mengenai gencatan senjata atau eskalasi baru akan membuat harga berayun ekstrem.
Bagaimana Sebaiknya Bersikap?
Menghadapi situasi "panas" seperti ini, strategi yang bijak adalah tetap tenang dan tidak terjebak Fear of Missing Out (FOMO), alias perasaan cemas, takut, atau tidak tenang karena merasa tertinggal dari tren, pengalaman, atau aktivitas menyenangkan yang sedang diikuti orang lain. [disarikan dari berbagai sumber]
Editor : Hari Puspita