Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Tradisi Mepunjung di Ruang Jenazah RSUP Prof. Ngoerah, Denpasar:Satu Pelinggih Ada Kopi hingga Nasi

Hari Puspita • Selasa, 10 Januari 2023 | 22:03 WIB
MENGHATURKAN MAKANAN: Tradisi mepunjung tidak saja berlangsung di kuburan. Di RSUP Prof. Ngoerah Sanglah juga menyediakan tempat mepunjung. Seperti yang tampak di areal Ruang Jenazah. [foto: ib.indra prasetia/radar bali]
MENGHATURKAN MAKANAN: Tradisi mepunjung tidak saja berlangsung di kuburan. Di RSUP Prof. Ngoerah Sanglah juga menyediakan tempat mepunjung. Seperti yang tampak di areal Ruang Jenazah. [foto: ib.indra prasetia/radar bali]
Mepunjung identik dengan menghaturkan persembahan di kuburan. Namun di RSUP Prof. Ngoerah Sanglah Denpasar, tepatnya di parkiran belakang ruang jenazah, juga ada tradisi itu. Keluarga memberikan persembahan makanan dan minuman bagi jenazah yang dititipkan sementara.

SEGELAS kopi dan nasi bungkus diletakkan di palinggih yang berisi tulisan Tempat Mepunjung. Lokasinya berada di parkir belakang, ruang jenazah. Sarana itu yang dihaturkan oleh keluarga salah satu mendiang.

Selain makanan dan minuman itu, tidak lupa keluarga memberikan soda. Soda merupakan banten sederhana yang berisi buah, nasi penek, bantal tape dan tebu serta canang. Ukuran soda selebar piring. Soda ini bisa dibuat sendiri atau dibeli di tempat penjualan banten. Harganya Rp 5.000.

Nah, di atas soda itu, barulah keluarga mendiang menambahkan dengan hidangan kegemaran dari mendiang itu. Bila semasa hidup gemar merokok, bisa ditambahkan rokok. Begitu pula jika suka menyeruput kopi, bisa ditambahkan kopi kegemarannya.“Ayah saya suka kopi, jadi saya haturkan kopi setiap pagi,” ujar salah satu keluarga yang menitipkan jenazah orang tuanya di ruang jenazah Sanglah.

Jenazah ayahnya sementara dititipkan di Sanglah menunggu hari baik upacara ngaben, yakni kremasi jenazah bagi umat Hindu.

Selama jenazah dititip di Sanglah, dia setiap pagi datang menghaturkan punjung berupa soda dan makanan serta kopi. “Selama dititipkan di sini, saya selalu bawakan makanan kesukaan,” ungkapnya.

Soda dan makanan itu, dihaturkan di palinggih yang terbuat dari besi yang berada di halaman luar, di parkiran ruang jenazah. “Kata petugasnya, dari sini saja menghaturkan, gak boleh masuk ke dalam. Saya baca doa dalam hati untuk ayah,” terangnya.

Dalam tradisi mepunjung, makanan dan minuman yang dihaturkan, biasanya ditempatkan di sebelah jenazah. Itu berlaku bagi jenazah yang ditidurkan di bale dangin rumah sebelum dibawa ke setra untuk diaben.

Sedangkan, jika jenazah dikubur di kuburan, maka punjung ditempatkan di pusara mendiang. Tradisi punjung ini untuk memberikan penghormatan kepada mendiang. Sebab, dalam kepercayaan masyarakat Bali, sebelum diaben, jenazah dan roh hanya terpisah.

Sehingga diyakini roh masih ada di sekitar jenazah. Oleh sebab itu, banyak keluarga yang percaya dengan menghaturkan punjung. Tujuannya untuk memberikan mendiang makanan, seolah-olah, mendiang akan makan apa yang kita persembahkan.

Pantauan Jawa Pos Radar Bali, punjung yang dipersembahkan keluarga mendiang di Sanglah beragam. Ada yang mempersembahkan soda berisi air mineral kemasan gelas, nasi bungkus yang dibeli di kantin RSUP Ngoerah Sanglah. Ada juga yang mempersembahkan soda berisi nasi jinggo. Juga ada yang mempersembahkan makanan kemasan kotak. Tampak ada beberapa gelas kopi. Juga terlihat gelas berisi kopi susu, kopi dengan gelas kertas. Ada juga yang menghaturkan kue basah. Namun dominan menghaturkan banten soda.

Sementara itu, Kasubag Humas RSUP Prof. Ngoerah Sanglah Denpasar Dewa Ketut Kresna dihubungi kemarin (9/1) mengakui pihaknya menyediakan tempat mepunjung di halaman luar, parkiran ruang jenazah. “Ya, kami RSUP Ngoerah memberikan pelayanan, menonjolkan lokal jenius, memberikan kesempatan bagi keluarga untuk menghaturkan punjung bagi mendiang,” ujarnya.

Punjung diletakkan jadi satu di palinggih, itu dilakukan untuk menjaga privasi ruang jenazah. “Memang ditempatkan pada satu tempat. Kalau keluar masuk ruangan jenazah kan khawatir dengan kebersihan ruangan itu,” ujarnya.

Apabila gantian keluar masuk ruang jenazah pun juga tidak baik bagi keluarga pemilik jenazah. Terutama faktor kesehatan. “Maka ditempatkan pada satu tempat di luar,” pungkasnya. [ib indra prasetia/radar bali]

  Editor : Hari Puspita
#pelestarian budaya dan tradisi #tradisi #RSUP Prof. Ngurah #mepunjung #tradisi mepunjung