PEMBANGUNAN akomodasi pariwisata di Bali tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Lahan sawah produktif banyak ”ditanami” beton. Namun, 583 petani di Subak Bengkel bergeming. Mereka gigih mempertahankan sawahnya. Apalagi, sejak 2023 Subak Bengkel resmi diakui UNESCO sebagai percontohan penerapan ekohidrologi. Para petani pun kian semangat lantaran mudah mendapat pupuk bersubsidi. Bagaimana prosesnya?
SAAT sampai di Subak Bengkel, Kediri, Tabanan, jarum jam menunjukkan pukul 10.30 Wita. Dari kejauhan terlihat para petani sibuk menyiangi, ada juga yang menabur pupuk. Maklum, awal Desember merupakan musim tanam periode ketiga di Subak Bengkel.
”Luas Subak Bengkel 335 hektare. Jumlah petaninya 583 orang, terdiri dari 19 tempek (kelompok tani, Red),” ujar I Made Merta Suteja, salah satu tokoh petani Subak Bengkel, Sabtu (13/12/2025).
Suteja didampingi istrinya Ni Made Siti Sunari, 52, dan putranya Pande Putu Widya Paramarta, 34. Keluarga petani ini paham seluk beluk penyaluran pupuk bersubsidi dari Pupuk Indonesia (PI). Dengan secangkir kopi di tangannya, Suteja yang baru saja pulang dari sawah itu semangat menceritakan pengawalan yang didapat sejak masa pratanam sampai pascapanen.
Kabupaten Tabanan sendiri dijuluki sebagai Bumi Lumbung Padi. Julukan itu menilik peran pertanian di Kabupaten Tabanan yang menyangga kebutuhan beras di Bali. Beras dari Tabanan juga dikirim ke provinsi lain, bahkan hingga ke mancanegara.
Suteja lalu menunjukkan beberapa karung pupuk subsidi jenis Urea dan NPK Phonska yang akan dipakai. Di karung putih tertera tulisan Urea, pupuk bersubsidi pemerintah, kandungan nitrogen 46 persen. Di karung lainnya berwarna putih dan strip biru di bagian pojok atas dan bawah, tertulis pupuk NPK Phonska, kandungan nitrogen 15 persen, fosfat 10 persen, kalium 12 persen.
Suteja mengungkapkan, petani di Subak Bengkel dalam satu tahun menanam padi dua kali dan palawija satu kali sebagai selingan. Palawija yang ditanam adalah sayur caisim (sawi hijau). Sementara jenis padi yang ditanam varietas Inpari 32 dan Ciherang. Dua varietas tersebut dipilih karena memiliki produktivitas tinggi, tahan penyakit, dan pulen setelah menjadi nasi.
Menurut Suteja, untuk mendapat pupuk bersubsidi dari PI sangat mudah. Cukup mengikuti ketentuan dan alur yang sudah ditetapkan. Dimulai dari pengisian Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) secara kolektif oleh pengurus tempek atau poktan, lalu dilanjutkan ke tingkat subak atau gabungan kelompok tani (gapoktan).
RDKK tersebut berisi data petani dan kebutuhan pupuk untuk musim tanam mendatang. RDKK yang sudah terverifikasi lalu diinput ke sistem e-RDKK oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), kemudian disahkan Dinas Pertanian. Verifikasi RDKK berjenjang ini menjadi dasar alokasi pupuk bersubsidi agar tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat mutu. Setelah semua beres, petani tinggal menunggu pupuk subsidi datang.
”Biasanya dari PI yang membawakan ke distributor. Setelah itu distributor datang membawa pupuk ke Balai Subak, lalu diserahterimakan pada para petani. Prosesnya cepat, kok, sebelum menanam padi sudah datang,” sambung Sunari.
Selain alokasi pupuk yang transparan, PI juga memberikan pendampingan berupa edukasi penggunaan pupuk berimbang Urea dan NPK Phonska. Untuk 1 hektare sawah, Suteja total memakai Urea 225 kg dan Phonska 250 kg. ”Urea dilepas di awal masa tanam agar padi subur dan anakan bertambah. Kalau Phonska memiliki kalium tinggi, fungsinya membuat pengisian padi menjadi bagus,” tukas pria 53 tahun itu.
Ia masih ingat beberapa tahun silam sebelum mendapat pendampingan dari PI. Saat itu kebanyakan petani hanya memakai Urea saja. Dengan adanya edukasi pupuk berimbang, hasil panen melesat. ”Setelah memakai pupuk berimbang, hasil panen meningkat signifikan, setiap 1 hektare meningkat 2 ton,” beber petani yang juga pemilik usaha penggilingan padi itu.
PI juga mengecek potential of hydrogen (pH) atau kadar keasaman tanah. Dari hasil pengecekan, pH di Subak Bengkel diketahui 6 sampai 6,5. ”Astungkara (bersyukur, Red), tingkat pH di sini bagus, sehingga pertumbuhan padi baik. Kalau terlalu asam padi menjadi kerdil,” tukas kakek tiga cucu itu.
Suteja sendiri menggarap 1 hektare sawah. Saat panen, rata-rata 1 hektare sawah menghasilkan 7,5 ton gabah. Bahkan kadang tembus 9 ton, bergantung perawatan. Artinya, jika musim panen raya tiba, Subak Bengkel seluas 335 hektare bisa menghasilkan 4.372 ton gabah. Jumlah yang cukup besar untuk membantu mewujudkan swasembada pangan.
Selain meningkatkan produktivitas, pupuk bersubsidi juga membantu meringankan keuangan petani. ”Bisa dihitung, kok, 40 persen dari biaya produksi itu adalah pupuk. Kalau tidak ada pupuk bersubsidi, petani berat,” timpal Pande, anak Suteja.
Alumni Prodi Agribisnis Universitas Brawijaya (UB), itu mengapresiasi PI telah mengawal, mendampingi, dan melayani petani. Ia berharap sinergi PI dengan berbagai stakeholder lainnya semakin diperkuat untuk pangan berdaulat.
Suteja mengungkapkan, setelah harga pupuk subsidi turun 20 persen, ia dan petani lainnya hanya perlu menebus Urea seharga Rp 90 ribu/50 kg atau satu sak. Sementara harga Phonska Rp 92 ribu/50 kg. Harga tersebut sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) resmi pemerintah yang berlaku sejak Oktober 2025.
Menurut Suteja, harga tersebut jauh di bawah harga pupuk nonsubsidi. Ia pernah membeli pupuk nonsubsidi, harganya hampir Rp 400 ribu/50 kg. ”Inilah yang kami syukuri sebagai petani. Subsidi pemerintah cukup besar, dan semua diawasi,” jelasnya.
Ia berharap program pupuk bersubsidi dipertahankan dalam rangka intensifikasi pertanian. Pupuk bersubsidi juga menjaga nyala api semangat para petani untuk mempertahankan sawahnya dari godaan alih fungsi lahan. ”Kami juga berharap, kalau bisa harga obat-obatan untuk pengendalian penyakit bisa ditekan,” tandasnya.
Apa yang dirasakan petani di Subak Bengkel, juga dirasakan ratusan petani di Subak Dukuh. Dari Subak Bengkel ke Subak Dukuh butuh waktu tempuh sekitar satu jam. Kecepatan motor harus diatur karena melewati jalan berlubang dan berliku di tengah sawah terasering. Ketika sampai di Subak Dukuh, matahari sudah mulai condong ke barat.
Setelah beberapa saat menunggu, datang Pekaseh atau Kelian Subak Dukuh, I Wayan Sukanada dengan motor tuanya. Ia memakai udeng, kaus hitam, kamen dibalut selendang biru, beralas sandal jepit. Sukanada menyambut ramah dengan mengulurkan tangan dan senyum lebar. Ia lalu mengajak duduk lesehan di seberang Balai Subak. Di kanan kiri Balai Subak terlihat padi baru ditanam.
Dijelaskan Sukanada, Subak Dukuh memiliki luasan 42 hektare, terdiri dari 5 tempek dengan jumlah petani 300 orang. ”Saya sebagai kelian subak bertugas mengurus pola tanam, jalannya air, termasuk pupuk,” ujar Sukanada didampingi sekretarisnya Wayan Atmaja.
Sukanada mengungkapkan, dibandingkan daerah lain, petani di Bali lebih banyak mengeluarkan biaya. Ini karena petani di Bali banyak menggelar upacara dari prapanen sampai pascapanen. ”Syukur ada pupuk bersubsidi, uangnya bisa diatur untuk membantu keperluan upacara. Pemakaian pupuk subsisi berimbang juga membuat hasil panen meningkat, minimal 10 persen,” terang pria yang menjabat pekaseh sejak 2004 itu.
Keberhasilan menerapkan pupuk subsidi berimbang ini membuat nama Subak Dukuh melejit. Beberapa waktu lalu, Direktur Utama PI, Rahmad Pribadi berkunjung. Selama hampir empat jam di Subak Dukuh, Rahmad menyapa dan mendengar keluh kesah para petani. ”Pak Dirut ikut menebar pupuk langsung. Ini suatu kebanggan bagi kami petani di Subak Dukuh,” kenangnya.
Subak Dukuh mendapat jatah 8,4 ton Urea dan 9,4 ton pupuk NPK Phonska. Pupuk tersebut kemudian dibagi sesuai kebutuhan petani. Sukanada menjelaskan, untuk penebusan pupuk bisa dilakukan secara berkelompok dan mandiri. Untuk berkelompok menggunakan sistem surat kuasa sesuai RDKK, sedangkan penebusan mandiri cukup menggunakan KTP.
”Pupuk subsidi kami terima penuh sesuai RDKK. Tidak ada yang diselewengkan oleh kios pengecer atau pihak lain,” tegasnya.
Pensiunan guru SD ini menilai PI telah sukses membangun industri pupuk yang kuat untuk pangan berdaulat. Itu bisa dilihat dari program Mari Kita Majukan Usaha Rakyat (MAKMUR) yang diinisiasi PI. MAKMUR telah berhasil menciptakan ekosistem pertanian terpadu. Mulai dari bibit, pupuk berkualitas, permodalan, asuransi, hingga jaminan penyerapan hasil panen (offtaker) melalui sinergi BUMN.
”Program MAKMUR sangat membantu kami. Hak petani bisa didapat secara penuh. Belum pernah ada pemotongan. Apalagi obat-obatan, insektisida, dan lainnya bisa kami bon dulu, habis panen baru bayar. Kami berharap MAKMUR bisa berlanjut,” harapnya.
Sukanada menegaskan, kombinasi pupuk bersubsidi, bibit berkualitas, dan pola tanam yang tepat akan menghasilkan beras bernutrisi tinggi, sehingga ikut membantu pencegahan stunting. Sukanada yakin, industri pupuk yang kuat adalah modal untuk pangan berdaulat. ”Tanpa ada pupuk subsidi dari PI, petani menjerit, Pak,” tandasnya.
Pernyataan Sukanada diamini Wayan Munder. Munder mengaku merasakan manfaat positif pupuk bersubsidi dan program MAKMUR. ”Pupuk subsidi ini membuat kami bisa menyisihkan sebagian modal untuk keperluan lain,” ucap petani 69 tahun itu.
Yang menarik, program pupuk subsidi dan MAKMUR ini tidak hanya disambut hangat kalangan petani tua. Kini, generasi Z juga ikut tertarik bertani. Adalah Kadek Riski Andika. Pemuda 25 tahun itu mengaku mulai serius bertani menggantikan bapaknya di Subak Dukuh. Ia tidak gengsi menjadi petani. Sebab, jika dikerjakan profesional, penghasilan petani tidak kalah dengan profesi lain. Apalagi pemberian pupuk subsidi, edukasi melalui pendampingan PPL, dan penetapan harga gabah (HET), telah memberi kepastian pada petani.
”Sebagai petani muda, tiyang (saya, Red) berharap program yang membantu petani ini bisa dipertahankan,” tegas pemuda asal Banjar Batan Wani, Kukuh, Marga, itu.
Diwawancarai di tempat yang sama, Made Ari Semaragiri, Agronomis PT Petro Kimia Gersik, mengatakan PPL merupakan implementasi penguatan pelayanan pada petani. ”Kami di sini melakukan pengawalan kepada petani, khususnya di wilayah Subak Dukuh,” katanya.
Lebih lanjut dijelaskan, karena wilayah pertanian di Bali yang sangat luas, ia ditemani Taruna Makmur. Saat diwawancarai, Ari didampingi dua Taruna Makmur. Mereka adalah mahasiswa dari perguruan tinggi di Malang dan Jogjakarta. Mereka bertugas mendampingi para petani di lapangan, mulai proses budidaya sampai pascapanen.
”Kami analisa kandungan pH tanah, kemudian kandungan nitrogen, pospor, kalium, dan juga kandungan organik. Setelah mendapatkan hasil, kami rekomendasi pemumpukan berimbang,” jelas Ari.
Untuk Subak Dukuh direkomendasikan menggunakan pupuk Phonska 300 kg dan 200 kg urea per hektare. Pupuk subsidi juga bisa dikombinasikan dengan pupuk organik agar hasil panen lebih maksimal.
Sementara untuk penyaluran dan pengawasan, Ari menyebut bisa dipantau melalui aplikasi i-Pubers. Dijelaskan, i-Pubers adalah platform digital yang digunakan untuk memantau, mencatat, dan mengatur distribusi pupuk subsidi di seluruh Indonesia. Sistem ini digunakan untuk pengawasan yang lebih modern dan transparan. ”Jadi, untuk memastikan pupuk subsidi sampai ke petani, jangan diragukan lagi,” pungkasnya. ***
Editor : Maulana Sandijaya