DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Industri lari di Bali kini bukan sekadar olahraga. Melainkan gaya hidup dan penggerak ekonomi. Namun, tanpa transparansi dan regulasi yang ketat, pertumbuhan pesat ini bisa menjadi bumerang. Pesan bagi para penyelenggara sudah jelas.
Tren olahraga lari yang meledak di Bali sepanjang 2025 kini berada di persimpangan jalan. Meski diprediksi akan semakin masif pada 2026, industri sport tourism di Pulau Dewata dibayangi ancaman serius: maraknya event lari tidak berizin atau "zonk" yang berpotensi merugikan peserta dan merusak citra pariwisata.
Hal ini menjadi sorotan utama dalam Focus Group Discussion (FGD) Industry – Indonesia Sports Running Summit & Expo yang digelar oleh Katadata di City of Aventus Hotel Denpasar, Rabu (11/3/2026).
Fakta mengejutkan terungkap dalam diskusi tersebut. Setidaknya 36 event lari telah direncanakan bakal menghentak Bali sepanjang tahun 2026. Namun, hingga saat ini, belum ada satu pun penyelenggara yang melakukan koordinasi resmi dengan otoritas terkait.
Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga Disdikpora Provinsi Bali, Putu Bayu Putra Mahendra, menyatakan kegelisahannya atas kondisi ini.
"Dari berbagai jadwal yang beredar untuk 2026, sampai sekarang belum ada yang berkoordinasi dengan kami. Koordinasi ini krusial agar tidak ada masyarakat atau pelari yang dirugikan," tegasnya.
Masalah bukan hanya soal izin, tapi juga etika. Mantan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Tjok Bagus Pemayun, menyoroti ulah oknum penyelenggara yang kerap "mencatut" logo pemerintah daerah tanpa izin resmi demi mendapatkan validitas instan.
"Sering terjadi, logo Pemda dipasang padahal belum melapor. Begitu ada masalah, pemerintah yang disalahkan," ujar Tjok Bagus. Ia mengusulkan penerapan sistem satu pintu (one gate system) yang melibatkan Dispora, KONI, Kepolisian, hingga tim kesehatan untuk memverifikasi kelayakan setiap even.
Chief Content Officer Katadata, Heri Susanto, menjelaskan bahwa ledakan industri lari harus dibarengi dengan tata kelola yang sehat. Katadata saat ini tengah menyusun Running Outlook 2026 sebagai acuan standarisasi nasional.
"Kami ingin pertumbuhan ini berkelanjutan. Standar ini penting untuk melindungi semua pihak, mulai dari pemilik brand hingga para pelari, agar kegiatan berlangsung aman dan nyaman," jelas Heri.
Dari sisi teknis, tantangan tidak hanya datang dari penyelenggara, tetapi juga kesiapan fisik peserta.
- Keamanan Medis: Race Organizer Widya mengingatkan pentingnya edukasi agar pelari pemula tidak nekat mengambil jarak jauh (seperti half marathon) tanpa persiapan matang.
- Pelari Lebih Kritis: Anastasia Perwanti dari komunitas IndoRunners Bali mencatat bahwa meski antusiasme terus meningkat sejak 2022, para pelari kini mulai lebih selektif menyusul adanya beberapa pengalaman event bermasalah di masa lalu.
Sebagai solusi ekonomi, Tjok Bagus menyarankan agar penyelenggara mulai melirik periode low season seperti Oktober atau November. Hal ini dinilai efektif untuk membantu okupansi hotel saat kunjungan wisatawan menurun, sekaligus menghindari penumpukan massa di musim libur panjang.***
Editor : M.Ridwan