Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Penggak Men Mersi Suguhkan Kesenian Rakyat Agraris

Hari Puspita • Senin, 7 November 2022 | 03:07 WIB
TEMA KERAKYATAN : Penggak Men Mersi berkolaborasi kelompok seni, sanggar komunitas di Bali menyuguhkan kesenian  yang berakar dari kesenian rakyat agraris, di Lapangan Timur Renon, Denpasar, Jumat malam (4/11/2022). (foto : istimewa)
TEMA KERAKYATAN : Penggak Men Mersi berkolaborasi kelompok seni, sanggar komunitas di Bali menyuguhkan kesenian yang berakar dari kesenian rakyat agraris, di Lapangan Timur Renon, Denpasar, Jumat malam (4/11/2022). (foto : istimewa)
DENPASAR- Untuk kesekian kali  Yayasan Penggak Men Mersi kembali berkolaborasi dengan kelompok seni, sanggar komunitas di Bali. Kali ini menampilkan garapan, bernuansa kesenian rakyat agraris.

Pertunjukan ini menampilkan berbagai jenis kesenian rakyat agraris seperti Jegog, Rindik, Okokan, Gong Suling, dikemas sedemikian rupa untuk menerjemahkan gagasan Kerta Masa, yang disuguhkan dalam sebuah ajang festival pertanian, di Lapangan Timur Renon, Denpasar, Jumat (4/11/2022) malam.

Garapan yang melibatkan kurang lebih 75 orang, berdurasi 90 menit , menghadirkan Sanggar Gumiart, Sekaa Gong Suling Gita Semara, Sekaa Okokan Sanggar Seni Kebo Iwa,  Haridwipa Gamelan dan Sekaa Jegog dan Rindik Gora Yowana Jembrana.

Kadek Wahyudita selaku koordinator pertunjukan mengungkapkan, garapan seni yang mengimplentasikan  pertanian, dimana sector agraris inilah yang menjadi  sumber pangan yang menghidupi masyarakat Bali.

“Pertanian adalah ibu dari kebudayaan masyarakat Bali. Pertanian melahirkan tata cara yang menjadi lelaku masyarakat Bali untuk senantiasa hidup harmonis bersama alam,”kata Kadek  Wahyu yang juga kelian Penggak Men Mersi itu.

Ia melanjutkan, berkah kesuburan alam dan hasil panen yang berlimpah melahirkan wujud syukur yang diekspresikan dengan puspa ragam keindahan dalam bentuk seni musik dan tari. “Inilah Kerta Masa, sebuah nilai adi luhung yang hingga kini eksis dalam kehidupan sosial masyarakat Bali. Kerta ikang jagat, rahayu ikang rat,” ucapnya.

Kadek Wahyu menekankan, garapan ini, merupakan aktualisasi agraris mengantarkan pada sentuhan pertanian menjadi esensi bermakna ganda.

Realita pertanian nyata berbentur modernisasi dan interpretasi manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam serta manusia dengan manusia menjadi sisi, gelap dan terang. “Kenyataan kesejahtaraan menuju pangan jasmani rohani seimbang di era globalisasi menjadi pesan musik teatrikal pelestarian pertanian ini,” tandasnya.

Malam itu, penampilan garapan tari energik, inovatif menghibur oleh Sanggar Gumiart diiringi gamelan Gong Suling “Ngapat’. Ngapat merupakan sebuah karya yang terinspirasi dari sasih kapat (musim semi) dimana bunga-bunga sedang bermekaran. Pada musim inilah para seniman dan pujangga mendekatkan diri pada alam untuk melahirkan karya seni yang bermutu.

Ngapat dalam konteks karya ini menggambarkan keceriaan masyarakat agraris menikmati keindahan alam dan melimpahnya anugrah hasil pertanian.

Kemudian, ditampilkan  kesenian Okokan dan Tektekan adalah wujud kesenian khas kabupaten Tabanan. Kesenian ini awalnya termasuk ke dalam kesenian sakral yang dipentaskan saat pertanian mengalami gagal panen atau pertanian diserang oleh hama.

Kesenian ini dipentaskan untuk memohon ke hadapan ibu pertiwi agar segala musibah dan penyakit yang melanda pertanian dilenyapkan.

Berikutnya sebagai sajian pamungkas pengunjung dimanjakan sajian kesenian Jegog  yang membawakan tari “Luihing Paksi”dan tari joget.

Tari Luihing Paksi adalah sebuah tari kreasi yang menggambarkan tentang tari jalak Bali sebagai ikon Bali Barat. Tari ini ditarikan oleh tiga orang gadis dengan iringan gamelan Jegog. Sedangkan tari joget tak kalah serunya, dua penari tampil sekaligus menghibur penonton dengan berjoged di atas panggung. (made dwija putra/adrian suwanto/radar bali) Editor : Hari Puspita
#Kesenian Rakyat Agraris #Penggak Men Mersi #Pertunjukan Kolaborasi