GEMERINCING lonceng terdengar riuh. Puluhan anak asal Desa Tejakula terlihat menari dengan gembira. Siang kemarin (8/4), pada acara HUT Adhyaksa ke-63 di Balai Desa Tejakula, mereka dapat kesempatan tampil menarikan kesenian klasik wayang wong.
Siang itu mereka membawakan lakon Kartika Laga. Dikisahkan Sri Rama hendak memberikan hadiah berupa bunga emas kepada Hanoman. Namun Hanoman menolak. Dalam posisi menyembah, Hanoman meminta agar Rama bersedia duduk menjadi pemimpin yang adil dan menyatukan rakyat.
Anak-anak itu tergabung dalam Sanggar Sispri Link, yang merupakan akronim Siswa Pemerhati Lingkungan. Sanggar itu baru terbentuk setahun lalu. Uniknya mereka tak dipungut biaya saat berlatih tari. Cukup membawa sampah plastik.
Sampah yang terkumpul selanjutnya dikelola Bank Sampah Teja Olah Persada (TOP). Keuntungan dari pengelolaan sampah dikembalikan pada sanggar. Hasil keuntungan digunakan untuk operasional latihan hingga pembelian pakaian.
“Awalnya karena anak-anak tidak ada kegiatan saat pandemi. Akhirnya saya ajak anak dan keponakan latihan menari wayang wong. Waktu pandemi itu seminggu bisa sampai tiga kali latihan. Awalnya hanya sepuluh anak, sekarang sudah ada 43 orang,” kata Ketut Eta Swadara, Ketua Sanggar Sispri Link Tejakula.
Menurut Eta, pihaknya membuka kesempatan bagi semua anak. Ia menyadari untuk pelestarian Tari Wayang Wong dibutuhkan regenerasi. Sehingga ia membuka kesempatan seluas-luasnya bagi semua anak untuk latihan menari.
“Bagi kami, yang paling penting ada niat. Kalau mereka sudah mau datang dan tertarik saja, kami sudah bersyukur. Baru setelah itu kami latih. Nanti kelihatan siapa yang cocok memerankan Prabu, Raja, Rama, Rahwana, Senapati, Wanara, maupun karakter-karakter lainnya,” jelas Eta.
Upaya itu berbuah manis. Kini anak-anak sangat antusias menarikan wayang wong. Tatkala Sekaa Wayang Wong Dewasa latihan, mereka akan turut menyaksikan. Demikian halnya saat para penari dewasa pentas, mereka akan duduk di barisan depan menyaksikannya.
“Nanti di rumah, mereka sambil bercanda sama teman-temannya, menarikan gerakan wayang wong. Bagi saya, melihat itu sudah senang. Karena mereka ada ketertarikan,” ujar pria yang juga penari wayang wong itu.
Kini pihak sanggar masih berupaya memenuhi kebutuhan pementasan. Diantaranya pakaian hingga topeng. Sebab topeng yang tersedia hanya topeng untuk kepentingan pementasan tari sakral. Eta pun galau, karena butuh biaya Rp 500 ribu untuk membuat sebuah topeng. Sedangkan topeng yang dibuat jumlahnya puluhan, sehingga butuh biaya puluhan juta untuk memenuhi kebutuhan itu. (*/eka prasetya/rid) Editor : M.Ridwan