Wayang Cupak jarang didengar atau dipentaskan saat ini. Biasanya yang lazim diakrabi hanya sosok tokoh Cupak Gerantang. Pesta Kesenian Bali (PKB) ke- 45 menampilkan lokakarya yang dibawakan dalang I Ketut Wibawa. Seniman senior yang merupakan generasi ketiga Dalang Cupak Dukuh Pulu. Takdir dan keturunan yang membawanya menjadi seorang dalang.
KALANGAN Angsoka, Art Centre Kamis (29/6/2023) dipadati penonton yang didominasi pencinta seni. Dari tua maupun muda. Dari raut wajahnya, mereka terlihat antusias.
Di kesempatan ini I Ketut Wibawa juga memaparkan dengan lugas, tetapi tetap santai tentang Wayang Cupak khususnya gaya Dukuh Pulu Tabanan. Masyarakat biasanya kenal dengan cerita rakyat Cupak Grantang, tapi yang ditampilkan tokoh Cupak saja yang dikenal antagonis. Hal itu yang membuat penonton penasaran. Kenapa hanya ada wayang cupak tidak ada wayang Grantang. Selain itu kenapa Cupak bisa menjadi titisan Dewa Brahma, padahal ia jahat. Wibawa menjawab satu per satu pertanyaan yang dilontarkan penonton, karena banyak dilempar pertanyaan kritis tak terasa durasi waktu lokakarya selesai. Usai acara selesai, masih banyak yang menghampir untuk mengorek lebih dalam tentang Wayang Cupak.
Keluarga Wibawa adalah seorang dalang, yang sangat terkenal kakeknya bernama I Made Jangga merupakan generasi pertama Dalang Cupak Dukuh Pulu. Puncak kejayaan Wayang Cupak I Wayan Jangga sekitar tahun 1960-an ia dalang dari Banjar Dukuh Pulu Tengah, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan. Lakon yang paling sering ditampilkan, yakni Cupak ke Swargan (perjalanan Cupak ke surga) pada upacara Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, dan Manusa Yadnya.
Wibawa yang memiliki darah seni memilih menempuh pendidikan S-1 di STSI (sekolah Tinggi Seni Indonesia) berubah namanya menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Selepas tamat kuliah ia justru bekerja di dunia pariwisata.
Sembari bekerja ia masih menekuni dalang, tetapi tidak fokus. Saat pandemi melanda, Bali sepi ia kembali fokus menggeluti dunia dalang khususnya Wayang Cupak. Pandemi berangsur berakhir, ia memilih pensiun muda dari pekerjaanya sebagai Human Resource Manager di Hotel Novotel Bali untuk fokus menjadi dalang.
“Saya loba, kerja ya wayang juga ya. Konsennya (jadi dalang, sekarang). Saya terakhir menjadi HR Manager (Human Resource ) di hotel. Kalau lihat gajinya saya lihat itu besar. Tapi akhirnya tetap juga hilang,” ujar pria asal Tabanan, ini. Tetap dengan senyum mengembang di wajahnya.[*]
Editor : Hari Puspita