DENPASAR, radarbali.id - Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVI menjadi wadah pelestarian kesenian di Pulau Dewata. Seperti halnya Kesenian Genggong yang ditampilkan oleh Yayasan Seni Tri Pusaka Cakti, Banjar Pekandelan, Desa Batuan, Sukawati, Gianyar, Selasa (25/6) di Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Art Center.
Salah satu penari sekaligus generasi dari Yayasan Seni Tri Pusaka Cakti, I Gede Agus Hendra Arta Dinata menjelaskan Kesenian Genggong merupakan kesenian kerakyatan yang datang dari Pulau Jawa yang dibawa ke Bali dan dikembangkan di Bali.
"Kesenian Genggong itu terkhususnya pada alat musiknya yang dinamakan Genggong. Dalam pentas Genggong ini menceritakan tentang epos Jenggala Daha sekitar abad ke-10 atau 11," tuturnya.
Baca Juga: Curi Motor di Lima TKP, Gede Residivis Kambuhan ini Akhitnya Ditembak
Penampilan ini mengangkat cerita Pangeran Jenggala sewaktu kecil yang sangat nakal. Kenakalan inilah yang membuatnya dikutuk menjadi seekor godongan atau katak.
Di sanalah cerita dimulai, Pangeran Jenggala mencari jati dirinya dan sampai akhirnya menemukan seorang wanita yang bisa mengubahnya kembali menjadi seorang pangeran.
Melalui pementasan ini, Yayasan Seni Tri Pusaka Cakti ingin menyampaikan pesan, khususnya untuk generasi muda. Meskipun Kesenian Genggong merupakan kesenian yang lama, sebagai generasi muda harus tetap melestarikannya.
Baca Juga: BNN Selidiki Dugaan Sejumlah Diskotek di Bali Terima Ekstasi Jaringan Kampung Ambon Jakarta
"Pertama agar kesenian ini, khususnya Genggong tidak hilang. Karena akhir-akhir ini orang sudah mulai jarang melihat kesenian Genggong. Harapannya supaya bisa dikembangkan," kata Hendra.
Sekaligus berpesan untuk para seniman agar bisa melibatkan generasi-generasi muda kembali tertarik dengan kesenian-kesenian lama.
"Meskipun sekarang lebih terkenal yang lebih modern, tapi janganlah tetap lupa dengan kesenian rakyat yang kuno seperti ini," sambungnya.
Baca Juga: Seleksi Pejabat Tinggi Pratama Jembrana Diperpanjang, Ini Penyebabnya
Adapun penabuh yang tampil dalam pementasan ini yaitu 19 orang dan penari sebanyak 21 orang. Bahkan penari yang paling kecil masih berusia 8 tahun dan berperan sebagai katak. Sedangkan yang paling senior berusia 70 tahunan yang memainkan Genggong.
Lebih lanjut, Yayasan Seni Tri Pusaka Cakti sudah beberapa kali pentas di PKB. Hanya saja untuk Kesenian Genggong, tahun ini baru dibangkitkan kembali.***