Penyanyi asal Kecamatan Kubu, Karangasem, Mila Dewi, kembali menyapa industri musik pop Bali dengan karya teranyarnya. Melalui single ke-empat bertajuk "Satya Tanpa Tepi", jebolan ajang pencarian bakat lokal ini mempersembahkan sebuah ode tentang cinta yang abadi dan tak berujung.
SAAT ditemui di kawasan Jalan Ahmad Yani, Amlapura, perempuan kelahiran 1988 ini berbagi kisah di balik lahirnya lagu tersebut.
Meski liriknya bernuansa universal, bagi Mila, lagu ini memiliki kedalaman makna yang sangat pribadi.
Inspirasi dari Perjalanan Denpasar-Karangasem
Menariknya, ide lagu ini muncul secara spontan saat Mila sedang dalam perjalanan pulang dari Denpasar menuju Karangasem usai sesi rekaman sebelumnya. Ia merasa perlu menciptakan sebuah lagu yang mampu mewakili momen sakral pernikahan.
"Awalnya saya ingin punya lagu yang menggambarkan perjalanan cinta yang panjang sampai akhirnya mantap menuju pelaminan," tutur Mila pada Minggu (8/3/2026).
Makna Universal: Dari Pernikahan hingga Kasih Ibu
Meski dirancang sebagai lagu pernikahan, perjalanan hidup pribadi Mila memberikan warna lain pada interpretasi "Satya Tanpa Tepi". Sebagai sosok yang pernah gagal dalam membina rumah tangga, Mila justru menemukan bentuk kesetiaan (Satya) yang lebih murni.
"Lagu ini sangat universal. Bagi saya pribadi, Satya Tanpa Tepi adalah wujud cinta tanpa batas saya untuk anak. Tidak ada batasan untuk kasih sayang seorang ibu," ungkapnya dengan nada haru.
Kembalinya Sang Bintang dari Vakum
Mila Dewi sempat menghilang cukup lama dari belantika musik Bali karena urusan pribadi, sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali aktif pada tahun 2021. Sejak saat itu, wajahnya mulai sering menghiasi panggung-panggung acara pernikahan di Bali.
Proses produksi single ini pun bukan tanpa tantangan. Mila harus bolak-balik menempuh jarak yang jauh antara rumah dan studio rekaman, bahkan sempat melakukan beberapa kali pengambilan vokal ulang demi hasil yang sempurna.
Secara musikalitas, "Satya Tanpa Tepi" tetap setia di jalur Pop Bali, namun dengan sentuhan tema yang jauh lebih matang dan personal dibandingkan tiga karya sebelumnya; Jalan Ubadin, Med Pedidian, dan Jengah.
"Semoga lagu ini bisa menghibur dan menjadi bagian dari momen-momen indah bagi seluruh masyarakat Bali," pungkasnya.[*]
Editor : Hari Puspita