DENPASAR, Radar Bali.id - Minat masyarakat Bali bekerja di luar negeri sangat tinggi. Baru satu semester, jumlah pekerja migran Indonesia (PMI) asal Bali yang berangkat sekitar 5 ribu orang.
Itu yang sesuai dengan tahapan prosedural. Belum lagi yang melalui jalur non-prosedural Karena banyak kejadian, pekerja yang berangkat tidak secara legal. Seperti menggunakan lembaga yang ilegal atau juga dengan tujuan wisata padahal bekerja. Ini untuk mencegah praktik Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan ESDM (Disnaker dan ESDM) Provinsi Bali, Ida Bagus Setiawan mengatakan, 5 ribu yang tercatat bekerja di darat. Belum lagi yang di kapal pesiar. Sebanyak 5 ribu PMI adalah data dari Januari hingga Juni 2023.
"Di kapal pesiar lain lagi. Untuk yang di laut (data) di Kementerian Perhubungan Laut," ungkap Gus Setiawan kemarin.
Dikatakan motivasi masyarakat memilih bekerja di luar negeri karena faktor gaji lebih besar dibandingkan di Indonesia. "Take home pay yang didapatkan beda itu salah satu daya tarik di sana," ucapnya.
Untuk mencegah terjadinya penipuan, Gus Setiawan berharap Disnaker kabupaten/kota memberikan edukasi tahapan yang harus dilalui karena ada jaminan dan perlindungan selama bekerja di luar negeri. Sedangkan dengan jalur ilegal tidak ada jaminan jika ada masalah, akan susah mengurusi dengan non-prosedural. "Itu harus diedukasi sampai tingkat bawah," imbuhnya.
Disnaker sudah menginformasikan lembaga pelatihan kerja (LPK) dan agensi yang legal supaya masyarakat terhindar dari penipuan. "Kami sudah menyampaikan agensi dan LPK yang legal ke seluruh stakeholder di Bali sebagai rujukan sebelum melakukan proses bisa melihat legal atau tidak. Kalau legal tentunya aman," jelasnya
Jika ditemukan tidak legal segera komunikasikan dengan Disnaker kabupaten/kota. Dijelaskan banyak cara atau modus yang dilakukan lembaga ilegal menarik calon pekerja seperti orang yang sudah pernah berangkat dijadikan branding supaya masyarakat percaya.
Menurut Gus Setiawan yang paling mudah memfilter yaitu di bagian Imigrasi karena yang mengetahui prosesnya dan kelengkapan dokumen.
"Agak susah dideteksi di daerah kan bisa jadi holiday atau mungkin ada keluarga atau sahabatnya. Yang paling gampang memefilter saat berangkat keluar rekan-rekan imigrasi. Filter pintu keluar lebih ketat," harapnya. [*]
Editor : Hari Puspita