Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Terpuruk saat Pagebluk Covid, Permintaan Ikan Budidaya KJA Menanjak Lagi

Hari Puspita • Kamis, 17 November 2022 | 23:09 WIB
BISA BERSERI LAGI : Panen ikan kerapu beberapa waktu lalu dari keramba jaring apung (KJA) yang dikelola Kelompok Manik Segara Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya. (m.basir/radar bali)
BISA BERSERI LAGI : Panen ikan kerapu beberapa waktu lalu dari keramba jaring apung (KJA) yang dikelola Kelompok Manik Segara Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya. (m.basir/radar bali)
NEGARA - Potensi perikanan di Jembrana melimpah tidak hanya dari hasil tangkapan nelayan tetapi juga ikan budidaya salah satunya budidaya ikan dari keramba jaring apung (KJA) yang dikelola Kelompok Manik Segara Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya. Permintaan ikan kerapu, naik sekitar 60 persen dibandingkan pada saat dua tahun pandemi Covid-19.

Ketua Kelompok Manik Segara, Desa Candikusuma mengatakan, dibandingkan pada saat awal pandemi Covid tahun 2020 dan 2021, permintaan dan harga sudah mulai normal. Dimana saat awal Covid -19 harga ikan kerapu per kilogram murah, di kisaran harga Rp 55 ribu - Rp 60 ribu dan saat ini sudah diharga Rp 100 ribu- Rp 115 ribu. "Harga sudah mulai naik lagi" ujarnya.

Permintaan ikan kerapu juga naik sekitar 60 persen dibandingkan di tengah masa pandemi Covid-19 tahun 2020 dan tahun 2021. Tidak hanya untuk kebutuhan pasar lokal, tetapi juga sudah ada permintaan untuk ekspor. "Tapi sementara ini untuk pasar lokal yang mampu kami penuhi," ujarnya.

Sementara suplai ikan kerapu dari KJA untuk pasar lokal, lebih banyak ikan ukuran rata-rata 700 gram per ekornya. "Panen dalam setahun 3-4 kali, sekali panen bisa mencapai 400 kilogram ikan kerapu sesuai permintaan," ungkapnya.

Meskipun sudah ada permintaan ekspor seperti sebelum pandemi covid-19, saat ini belum bisa dipenuhi karena kemampuan produksi yang masih belum terpenuhi. "Kalau permintaan ekspor dalam jumlah besar hingga puluhan ton. Sedangkan kita hanya mampu panen setahun sekitar 3,5 ton," ungkapnya.

Padahal waktu dua tahun pandemi Covid-19, KJA bisa memproduksi hingga 30 ton setahun. Akan tetapi  saat  jumlah stok melimpah, penjualan sulit dan harganya murah dan tidak ada permintaan ekspor karena ketatnya aturan saat pandemi Covid,-19. Akhirnya ada perusahaan yang membeli dengan harga murah.

Karena permintaan yang sudah mulai meningkat, kelompok KJA masih berusaha meningkatkan produksi. Namun saat ini masih terkendala bibit yang masih belum tersedia. "Mungkin tahun ini sampai akhir tahun ini bisa produksi 5 ton," ungkapnya.

Agus menambahkan, KJA yang dikelola kelompok nelayan ini tidak hanya budidaya ikan kerapu sebagai komoditi utama yang dibudidaya, tetapi juga komoditi lain seperti budidaya lobster dan kerang abalon.

Destinasi Wisata Kuliner dan Edukasi

Selian itu, karena Desa Candikusuma dicanangkan sebagai kampung kerapu oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, kelompok nelayan ini juga dikembangkan sebagai destinasi wisata yang mengeksplorasi potensi yang ada.

Selain menawarkan wisata alam dan edukasi dengan mengunjungi keramba yang ada di tengah laut, sekitar 500 meter dari pantai, tersedia juga warung makan yang menjual hasil laut dari budidaya KJA. "Kalau ada yang datang dan  mau melihat langsung proses budidaya ikan kerapu, lobster dan kerang abalon, bisa kami antar dengan perahu ke KJA di tengah laut," ujarnya.

Produktivitas kelompok yang berdiri tahun 2014 ini, juga sudah sering mendapat kunjungan daerah lain dan pemerintah pusat. Bahkan kementerian kelautan dan perikanan memberikan bantuan keramba untuk kelompok. Sehingga, hasil budidaya kelompok semakin produktif.

Padahal awalnya, kelompok yang beranggotakan 10 orang nelayan ini, awal membuat KJA hanya  pakai jaring biasa dan bahannya sebagian kayu. Budidaya ikan dengan KJA, pemeliharaan ikan bisa lebih mudah dan sederhana.

Karena dengan KJA sirkulasi air yang tetap terjaga karena langsung dari laut. Saat memanen ikan juga praktis praktis, karena ikan sudah berada di dalam jaring. “Kami masih berusaha meningkatkan produktivitas dari KJA untuk memenuhi permintaan,” tandasnya. (m.basir/radar bali) Editor : Hari Puspita
#budidaya ikan #keramba di jembrana #budidaya ikan keramba jaring apung #budidaya ikan keramba