NEGARA, Radar Bali.id - Penantian warga pesisir pantai Banjar Pebuahan, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara, selama 10 tahun lebih untuk penanganan abrasi segera terwujud.
Pembangunan penanganan abrasi sudah mulai tahap pelaksanaan, karena proses tender sudah selesai. Ditandai dengan penandatanganan kontrak kerja oleh pemenang tender.
Bupati Jembrana I Nengah Tamba menyampaikan, bahwa penanganan abrasi pantai di Banjar Pebuahan, Desa Banyubiru, sementara ditangani sekitar 770 meter dari total 3 kilometer pantai yang tergerus abrasi.
"Penanganan abrasi dilakuan secara bertahap. Sisa dari abrasi yang belum ditangani, kami akan berusaha lagi ke pusat agar tahun depan bisa dilanjutkan lagi," ungkapnya, Minggu (28/4/2024).
Karena untuk penanganan pantai yang terdampak abrasi, merupakan kewenangan pemerintah pusat. Sedangkan pemerintah daerah berkewajiban mengusulkan kepada pemerintah pusat agar penanganan abrasi di Jembrana segera ditangani.
"Dengan terwujud pembangunan pantai di Pebuahan ini, saya merasa lega karena usulan diwujudkan. Tapi sebelum semua pantai yang abrasi belum ditangani, kami tetap akan usul dan lobi pemerintah pusat," terangnya.
Seperti penanganan abrasi yang segera dikerjakan ini, pembangunan senderan pantai Banjar Pebuahan, berdasarkan proposal usulan Bupati Jembrana nomor 610/081/PUPRPKP/2022 pada 20 Januari 2022, kepada pemerintah pusat.
Proposal dijawab dengan realisasi membangun senderan pantai pada tahun 2024. "Kami di daerah akan selalu melobi pusat agar pembangunan pengaman pantai di Jembrana mendapat perhatian dan ditangani," terangnya.
Selain pembangunan senderan pantai di Desa Banyubiru, penanganan pantai juga dilakukan oleh pusat di pantai Pangyangan, Kecamatan Pekutatan. "Kabar baiknya, tahun ini juga akan ditangani abrasi pantai di Pangyangan," ungkapnya.
Berdasarkan informasi dari LPSE Kementerian Pekerjaan Umum, pembangunan senderan dimenangkan PT. Indopenta Bumi Permai, Surabaya.
Dari anggaran pagu dan HPS Rp. 23.5 miliar, pemangkasan tender menang dengan penawaran Rp 18,3 miliar. Jadwal penandatangan kontrak pada Jumat 26 April lalu.
Penanganan abrasi dengan pembangunan pengamanan pantai dengan bangunan utama dalam bentuk revetmen pasangan batu alam sepanjang 770 meter dan elevasi puncak sekitar 5 meter.
Selain revetmen sebagai bangunan utama, juga akan dibangun fasilitas tambahan berupa walkway dari paving blok beton sepanjang 770 meter di atas puncak revetment, saluran drainase dari pasangan batu alam sebagai antisipasi overtopping gelombang.
Serta berupa fasilitas akses naik dan turun warga atau nelayan dengan delapan tangga pasangan batu sebagai akses dari perumahan warga ke puncak walkway. Fasiltas tangga ini, agar warga yang akan pantai ini untuk melaut tidak kesulitan.
"Pembangunan senderan ini, dari perencaan yang kami peroleh sudah sesuai dengan harapan warga," ujar Hariyanto, salah satu warga terdampak abrasi.
Menurutnya, pembangunan senderan pantai ini sudah lama diharapkan warga. Selama sepuluh tahun lebih, warga selalu dihantui rasa takut.
Terutama ketika purnama dan tilem, dimana air laut naik hingga ke pemukiman warga. Bahkan sudah puluhan rumah warga rusak dan hilang karena abrasi. Pada saat purnama beberapa waktu lalu, tiang kabel listrik ambruk menimpa warung makan tempat usahanya. "Setelah sepuluh tahun lebih, akhirnya abrasi pantai ditangani," ungkapnya. [*]
Editor : Hari Puspita