NEGARA, Radar Bali.id - Pengerjaan proyek senderan pantai Pantai Pebuahan, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara, mulai disorot warga karena terkesan pengerjaan lamban.
Padahal, kondisi perairan saat ini hingga beberapa bulan ke depan akan terjadi gelombang tinggi, sehingga menimbulkan kekhawatiran warga.
Hariyanto, salah satu warga Pebuahan mengakan, ombak besar yang menerjang pantai saat tilem semakin memperparah abrasi. Bahkan sejumlah rumah warga juga ada hancur. "Ombak besar saat tilem membuat abrasi semakin parah," ungkapnya.
Menurutnya, pada bulan Juli dan Agustus gelombang tinggi dan ombak besar akan terjadi lagi, lebih parah dari saat tilem ini. Khawatirnya, ombak besar menghancurkan pemukiman warga sebelum senderan pantai selesai.
"Masyarakat sangat khawatir sebelum proyek selesai, tempat tinggal mereka sudah habis tersapu ganasnya ombak," ungkapnya.
Sedangkan pengerjaan proyek senderan ini, dinilai kinerja dan progresnya terlalu lamban. Pengerjaan tidak sesuai dengan yang disosialisasikan sebelumnya.
Saat ini hanya tumpukan material di pinggir pantai, material yang tidak sesuai dengan yang sampaikan saat sosialisasi.
Misalnya, mengenai material yang dikirim ke lokasi pembangunan senderan yang disampaikan 45 truk setiap hari, namun ternyata hanya 10 truk setiap hari.
"Material lain seperti geotek juga belum ada datang," ungkapnya.
Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP) Jembrana Gede Sugianta mengatakan, pihaknya sudah konfirmasi kepada pihak satuan kerja yang menangani proyek senderan tersebut.
Mengenai pengerjaan senderan, saat ini masih proses mengumpulkan material batu armor. "Pengerjaan bertahap, saat ini masih mengumpulkan batu armor," ujarnya.
Di sisi lain, batu armor yang digunakan harus memiliki izin. Artinya, batu armor diambil dari tambang batu yang sudah legal, memiliki izin yang lengkap agar tidak menimbulkan masalah dikemudian hari.
"Dalam mengumpulkan batu armor ini butuh waktu, karena harus batu yang berasal dari tambang yang legal," tegasnya.
Pihaknya berharap warga bersabar. Proyek senderan pasti dilaksanakan sesuai dengan perencanaan, mulai dari teknisi dan waktu penyelesaian.
Pihak pelaksana memiliki waktu 240 hari atau sekitar 8 bulan mengerjakan proyek senderan tersebut. "Pengerjaan kami harapkan juga sesuai kualitas dan tepat waktu, bulan Desember," tegasnya.
Selain itu, pengerjaan pembangunan senderan juga harus memperhatikan kondisi alam. Pasang surut air laut menentukan proses pengerjaan senderan. "Dalam pengerjaan senderan ini memperhatikan pasang surut air laut," terangnya.
Pengerjaan senderan tahap pertama di Pantai Pebuahan, dianggarkan perintah pusat melalui APBN dengan nilai kontrak sebesar Rp 18, 3 miliar dengan panjang sekitar 770 meter. Selain senderan pantai untuk pengaman, terdapat juga walk way yang berfungsi sebagai batas.
Walk way yang dibangun sepanjang senderan yang dibangun juga bisa digunakan sebagai joging track dan manfaat lainnya. Kontrak pengerjaan mulai 24 April lalu, ditargetkan selesai bulai Desember mendatang. [*]
Editor : Hari Puspita