Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Mendadak Harga Melambung Tinggi, Petani Kakao Jembrana Kini Bekerja dengan Senang Hati

Muhammad Basir • Jumat, 28 Juni 2024 | 02:00 WIB
DIKERINGKAN : Proses pengeringan kakao di Koperasi Kerta Semaya Samaniya, Kecamatan Melaya, Jembrana.(m.basir/radar bali)
DIKERINGKAN : Proses pengeringan kakao di Koperasi Kerta Semaya Samaniya, Kecamatan Melaya, Jembrana.(m.basir/radar bali)

Rezeki memang kadang datangnya tak terduga. Petani kakao Jembrana semringah. Harga kakao mengalami peningkatan drastis dalam beberapa bulan terkahir dengan peningkatan harga disebut tertinggi dalam sejarah.

TINGGINYA  harga kakao ini, dipengaruhi oleh permintaan kakao yang tinggi, sedangkan produksi menurun.

Kenaikan harga kakao ini, mulai dari harga jual dari tingkat petani hingga harga jual tingkat produksi olahan kakao yang sudah difermentasi untuk bahan cokelat.

"Kenaikan harga kakao ini terjadi sejak beberapa bulan lalu, naiknya secara bertahap dan hari ini cukup tinggi," ujar Ketua Koperasi Kerta Semaya Samaniya Jembrana I Ketut Wiadnyana, Rabu (26/6/2024).

Harga kakao dari petani tergantung dari kualitas dan jenis. Harga dari petani untuk kakao basah per kilogram antara Rp 38 ribu hingga Rp 40 ribu. Sedangkan harga tahun lalu Rp 14 ribu hingga Rp 20 ribu. Sedangkan harga jual kakao kering per kilogram Rp 155 ribu hingga Rp 165 ribu.

Kakao koperasi lebih mahal karena kakao yang sudah susah difermentasi sebagai bahan baku cokelat.

Sedangkan harga kakao yang di laut operasi tanpa proses fermentasi perkilogram lebih murah sekitar Rp 154 ribu. "Harga beli dan jual ini tergantung kualitas juga," ujarnya.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan harga kakao saat ini melambung tinggi.

Salah satunya, permintaan tinggi itu bukan hanya di pasar domestik, tetapi permintaan kakao oleh pembeli coklat dunia. Tingginya permintaan itu, tidak diimbangi dengan ketersediaan hasil panen yang mencukupi sehingga harga kakao melonjak tinggi.

Kegagalan panen kakao di negara penghasil kakao terbesar di dunia, Gana dan Pantai Gading. Gagal panen tersebut akibat dari serangan hama penyakit kakao yang membuat pohon kakao mati.  

Selain itu, ada kebijakan dari negara penghasil kakao tersebut untuk membatasi ekspor ke beberapa negara.

Sehingga para pembeli kakao seluruh negara mencari opsi membeli kakao di Asia. Salah satunya Indonesia sebagai penghasil kakao terbesar.

Sedangkan di Bali, penghasil kakao terbesar dari Jembrana dan Tabanan. "Produksi kakao Jembrana fluktuasi, tergantung cuaca," ujarnya.

Koperasi yang dikelola setiap tahun, maksimal 58 ton tertinggi yang pernah dicapai dan terendah 24 ton.

Pada tahun ini, diprediksi hasil kakao di Jembrana cukup baik karena minat para petani kakao mulai tinggi.

Terlebih dengan adanya koperasi dan pihak yang mendukung produksi kakao. Sebelumnya, petani yang sempat beralih ke tanaman lain, kembali menanam kakao.

Pertanian kakao ke depan akan lebih cerah diabdikan hasil pertanian dan perkebunan lain. "Prospek kedepannya pertanian kakao sangat cerah dibandingkan komoditi lain," tegasnya. [*]

Editor : Hari Puspita
#cokelat #petani #jembrana #kakao