DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Di era kepemimpinan Bupati Jembrana I Nengah Tamba, Pemkab Jembrana tercatat mendapatkan hibah mesin pengolah sampah menjadi RDF (refused derived fuel) dari PT Wisesa Global Solusindo.
Mesin tersebut ditempatkan dan dioperasikan untuk mengolah dan mengelola sampah di TPA Peh Desa Kaliakah Jembrana.
Operasional dilakukan mulai Juli 2024. Proyeksinya baik. Sampah organik diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik dan multilayer diolah menjadi RDF.
Dalam banyak referensik, RDF ini dikenal sebagai hasil pemisahan sampah yang dikeringkan kadar airnya sebagai alternatif sumber energi penggunaannya oleh industri.
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leh berlokasi di Banjar Peh, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana. Kala itu, Bupati Jembrana Nengah Tamba menerima langsung kedatangan mesin itu di TPA Peh.
"Hari ini kedatangan mesin ini saya merasa bahagia, ini ada masa waktu yang akan kita uji coba dulu apakah sudah sesuai ekspektasi," kata Tamba saat itu Senin (3/6/2024).
Setelah uji coba beberapa bulan, mesin RDF bantuan PT Wisesa Global Solusindo dilaporkan tersendat-sendat operasional dan nyaris terbengkalai hingga kini.
Ketika dikonfirmasi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Jembrana Dewa Gede Ary Candra Wisnawa saat dihubungi mengatakan akan menghubungi setelah beberapa hari ke depan.
“Izin, Rabu (14/5/2025) saya telepon ya,” tulisnya melalui pesan singkat whatsapp, Senin (12/05/2025).
Namun sebelumnya ia mengatakan, untuk kerjasama pengolahan sampah menjadi RDF dengan PT Wisesa Global Solusindo masih berlanjut.
“Saat ini proses pengolahan break dulu, karena kami sedang persiapan pembangunan hanggar dan persiapan penambahan mesin pendukung untuk optimalisasi pengolahan RDf,” kata Dewa Gede Ary Candra Wisnawa, 2 April 2025.
Beberapa warga Desa Kaliakah yang enggan namanya di mediakan menyebutkan, mesin RDF bantuan PT Wisesa Global Solusindo mulai beroperasi di TPA Peh sejak Juli 2024 sebulan setelah kedatangan mesin RDF diterima Bupati Nengah Tamba di TPA setempat.
“Mesin itu beroperasi di tumpukan sampah yang zona aktif. Setelah mesin beroperasionl sempat mengirim RDF satu truk ke Pabrik Semen Gresik. Maaf saya lupa berapa ton, karena datanya ada di kantor. Intinya sudah pernah kirim satu truk RDF ke Semen. Waktu itu pelepasan oleh pak Bupati Tamba,” katanya saat dihubungi, Senin (12/05/2025).
Setelah pengiriman pertama, mesin masih tetap beroperasi dan hasil RDF-nya masih menumpuk di TPST karena belum terkirim.
“Apa mungkin belum capai target sehingga belum dikirim dan masih menumpuk, saya tak paham. Silakan menghubungi pak kadisnya,” katanya sembari mengingatkan tak ditulis nama dan identitasnya.
Mesinnya masih tetap beroperasi, namun tidak maksimal dan sering tersendat sendat. Karena setelah diayak, organiknya keluar lalu diambil plastiknya saja.
“Karena tidak sebanding keluaran dari mesin pemecah dan pres. Nanti ada bantuan dari BKK provinsi. tersendat dan tidak keluar masksimal
Sekedar diketahui, kondisi mesin RDF di TPA Peh berbeda jauh dengan desain dan cara kerja mesin RDF di TOSS Center Karangdadi Klungkung.
Baca Juga: Rizky Eks CJR Murka, Sindir Aldi yang Diduga Terlibat Penipuan pada Fans
Mesin RDF di TOSS Center rekayasa teknologi anak negeri, dari Sidoarjo yang secara konsisten dan berkelanjutan sejak 2023 sampai dengan saat ini.
Mesin RDF di TOSS Center Klungkung yang dikelola PT CTBL sampai saat ini sudah mengolah sampah residu sebanyak kurang lebih 143 ton dari total 1.809 ton yang masuk sejak Oktober 2023 sampai dengan April 2025.***
Editor : M.Ridwan