Rumah panggung nan unik ini seakan berkejaran dengan waktu untuk sekuat tenaga dipertahankan sebagian atau semakin lapuk termakan usia, panas dan hujan.
DI sudut Kelurahan Loloan, Jembrana, kayu-kayu tua yang menopang rumah panggung khas komunitas Melayu tampak mulai bersaing dengan dinginnya dinding beton. Bangunan-bangunan tinggi bertiang yang telah berusia ratusan tahun ini bukan sekadar hunian, melainkan monumen hidup sejarah adaptasi masyarakat pesisir dan tepian sungai di Jembrana.
Namun, kejayaan arsitektur titisan budaya Melayu ini sedang berada di persimpangan jalan. Satu per satu, "kaki-kaki" kayu rumah panggung Loloan mulai dipangkas, berubah wujud menjadi rumah tapak modern yang kehilangan keasliannya.
“Hampir setiap tahun jumlahnya berkurang,” ungkap Muztahidin, tokoh pemuda sekaligus Kepala Lingkungan Loloan Timur, Senin (26/1/2026).
Berdasarkan pendataan mandiri yang dilakukan Muztahidin bersama para pemuda setempat, potret yang ditemukan cukup memprihatinkan. Dari ratusan unit yang pernah tegak berdiri, kini diperkirakan hanya tersisa sekitar 50 unit rumah panggung.
Banyak di antaranya telah bersalin rupa menjadi bangunan permanen dari beton demi alasan kenyamanan dan keterbatasan biaya perawatan kayu yang kian mahal.
Upaya Penyelamatan di Tahun 2026
Kekhawatiran akan hilangnya identitas ini akhirnya mendapat angin segar. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana resmi mengusulkan Rumah Panggung Loloan sebagai Cagar Budaya pada tahun 2026 ini. Langkah ini dilakukan berbarengan dengan usulan Arca Pura Lelateng, struktur Pura Bakungan, dan sejumlah artefak di Museum Manusia Prasejarah Gilimanuk.
Penetapan status Cagar Budaya ini bukan sekadar pemberian label. Ini adalah upaya strategis untuk memberikan perlindungan hukum dan dukungan nyata bagi pemilik rumah, baik berupa pendampingan teknis maupun bantuan perawatan agar mereka tidak perlu meruntuhkan sejarah demi alasan ekonomi.
“Kami sangat mendukung usulan ini. Kami siap membantu pemerintah melakukan identifikasi menyeluruh agar rumah yang masih asli bisa terjaga dengan baik,” tegas Muztahidin.
Lebih dari Sekadar Kayu Tua
Bagi Tim Ahli Cagar Budaya, sebuah bangunan tidak hanya dinilai dari usianya yang tua. Rumah panggung Loloan diusulkan karena nilai filosofisnya yang tinggi serta potensi pemanfaatannya bagi ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kebudayaan. Ia adalah laboratorium arsitektur nusantara yang menunjukkan bagaimana nenek moyang kita bersahabat dengan lingkungan pesisir.
Tanpa langkah konkret tahun ini, dikhawatirkan Rumah Panggung Loloan hanya akan menjadi dongeng atau sekadar catatan di buku sejarah. Modernitas memang tak terelakkan, namun membiarkan warisan unik ini runtuh berarti membiarkan sebagian ingatan kolektif Jembrana hilang selamanya.
Kini, harapan itu tertumpang pada tim cagar budaya; memastikan bahwa anak cucu nanti masih bisa menyaksikan langsung gagahnya rumah panggung yang pernah menjadi simbol kejayaan masyarakat Melayu di tanah Bali.[*]
Editor : Hari Puspita