Suasana duka masih menyelimuti kediaman Makmun Amar. Jumat malam (14/4) lalu, anaknya yakni UM yang masih berusia 12 tahun dinyatakan meninggal di RSUD Karangasem.
Saat disambangi di rumah duka, beberapa orang kerabat terlihat masih didatangi beberapa pelayat. UM baru saja dimakamkan pada Sabtu (15/4) pagi hari. “Ya baru tadi pagi dimakamkan,” kata Amar.
Dalam kondisi masih berduka itu, Amar menceritakan awal mula anaknya tersebut terjangkit DBD. Itu terjadi sejak Selasa (11/4) lalu. Saat itu anak pertama dari tiga bersaudara tersebut mengalami demam tinggi. “Sampai muntah-muntah juga,” kenang Amar.
Lataran kondisi sang anak cukup memburuk, terlebih ada kekhwatiran DBD, orang tua UM pun langsung membawa anaknya itu berobat dokter. Oleh dokter, UM dinyatakan tidak ada gejala DBD. “Karena banyak warga di kampung sini terkena DBD. Kami khawatir. Terlebih sebelumnya empat hari sebelum puasa ada remaja juga meninggal karena DBD,” tuturnya.
Karena dinyatakan tidak ada gejala DBD. Ia pun membawa pulang sang anak. Bahkan dua hari setelahnya, demam anaknya turun. “Sempat bermain juga,” ujarnya.
Selanjutnya pada Jumat lalu, kondisi UM memburuk. Panasnya kembali tinggi dan sudah dalam kondisi lemas. Amar pun panik dan langsung membawa anaknya itu ke RSUD Karangasem untuk mendapat penanganan medis.
Saat tiba di rumah sakit dan diperiksa oleh tim medis, mendiang UM dinyatakan positif DBD. Saat itu juga, tim medis langsung melakukan penanganan dengan membawanya ke ruang ICU. “Saya melihat kondisi anak saya sudah kritis. Saya ditenangkan dokter untuk tetap tenang. Tapi malam harinya anak saya meninggal,” kata Amar sembari menangis.
Kepala Lingkungan Ujung Pesisi, Yatimin mengatakan bahwa di wilayahnya dari sejak empat hari sebelum bulan Ramadhan sampai saat ini sudah ada sekitar delapan warga yang terkena DBD. Dua di antaranya meninggal dunia.
Atas kejadian tersebut sebagian besar warga yang tinggal di Lingkungan Ujung Pesisi menjadi was-was. Karena mereka takut sebarannya semakin meluas mengingat wilayah tersebut cukup padat penduduk. “Demam sedikit langsung dibawa ke rumah sakit. Karena khawatir DBD,” ucapnya.
Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Karangasem dan sudah dilakukan fogging. “Kami berharap fogging yang dilakukan bisa menyeluruh ke semua pemukiman warga yang ada di Lingkungan Ujung Pesisi," kata Yatimin.
Sementara itu, Kabid Pelayanan RSUD Kabupaten Karangasem I Komang Wirya membenarkan, bahwa meninggalnya UM disebabkan DBD. Saat pasien tiba di RSUD Karangasem, sudah dalam kondisi kritis. Trimbositnya menurun. Selain itu pasien juga sudah mengalami DSS (Dengue Shock Syndrome) sehingga kondisi pasien sangat lemah. “Kami sudah berupaya maksimal,” kata Wirya.
Wirya juga mengimbau kepada seluruh masyarakat yang ada di Kabupaten Karangasem, jika ada anggota keluarga atau tetangga mengalami demam tinggi agar segera melakukan pemeriksaan ke rumah sakit. Sehingga jika positif DBD bisa cepat ditangani sehingga kemungkinan untuk sembuh tinggi. “Jangan sekali-kali menunda untuk melakukan pemeriksaan ke rumah sakit atau Puskesmas karena jika terlambat akibatnya akan fatal," tandasnya. (zul)
Editor : Donny Tabelak