Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Duh, Krisis karena Kemarau 600 KK Lebih Warga Desa Ban Alami Kesulitan Air

Zulfika Rahman • Minggu, 25 Agustus 2024 | 18:40 WIB
KRISIS AIR KARANGASEM: Selalu terjadi di saat musim kemarau. (dok.radar bali)
KRISIS AIR KARANGASEM: Selalu terjadi di saat musim kemarau. (dok.radar bali)

AMLAPURA, Radar Bali.id- Hingga saat ini, warga di Desa Ban, Kecamatan Kubu masih mengalami kesulitan air. Data yang dibeberkan pihak Desa Ban, warga yang mengalami kesulitan air mencapai 625 kepala keluarga (KK). Kondisi ini membuat masyarakat setempat serba kesulitan mengingat air merupakan kebutuhan dasar warga.

Kepala Desa Ban, I Gede Tamu Sugiharta mengatakan, kondisi kesulitan air yang dialami warganya itu terjadi sejak sebulan belakangan akibat kemarau. Berbeda dari daerah lainnya di Bali, yang meski telah memasuki musim kemarau, namun masih turun hujan. Sementara di Ban, hampir tidak pernah.

 ”Memang sudah menjadi kebiasaan ketika terjadi kemarau, warga desa kami kesulitan air,” kata Tamu dikonfirmasi Sabtu (24/8/2024).

Dia menuturkan, warga yang paling terdampak kesulitan air terjadi pada banjar yang lokasinya di bagian atas. Seperti Belong dengan 275 KK terdampak, Bonyoh 125 KK, Cucut Dukuh Tangeban 57 KK, Manik Aji Atas 37 KK. ”Untuk Manik Aji hampir tidak pernah dapat bantuan air bersih. Karena lokasinya di atas dan susah dijangkau. Sementara yang lainnya telah dibantu dari BPBD Provinsi dan Kabupaten,” bebernya.


Untuk bisa mencukupi kebutuhan air bersih di tengah kemarau, warga Desa Ban yang terdampak harus ekstra irit memanfaatkan air bantuan yang didistribusikan pemerintah. ”Untuk mandi paling sekali saja, terpenting makan minum dan juga untuk minum ternak. Karena di sana banyak yang pelihara ternak,” jelasnya.


Warga juga kerap membeli air. Hanya saja, harganya lumayan mahal. Untuk satu tangki air, warga harus membeli dengan harga Rp 450 ribu. ”Itupun patungan. Kalau mau memanfaatkan sumber air, sangat jauh sekali,” jelas Tamu.


Hingga saat ini, pihaknya terus mengupayakan bantuan air dari pemerintah untuk bisa memenuhi kebutuhan warga. 


Disinggung penyebab lain yang memperparah kekurangan air di Desa Ban, kata Tamu akibat pipa air sepanjang 6 kilo meter terbakar saat lahan lereng Gunung Agung terbakar akibat kemarau tahun lalu. Hingga saat ini, pihaknya berharap agar perbaikan segera dilakukan untuk meringankan beban warga yang mengalami kesulitan air saat kemarau. ”Sejauh ini ada bantuan pipa 1,5 kilo dari Pertamina, ada juga nanti katanya bantuan pipa sepanjang 4,5 km. Semoga bisa segera dilakukan perbaikan,” harap dia.


Diakuinya, bantuan air terus didistribusikan, sehingga warga tidak sampai mengeluh. ”Semoga kemarau tidak panjang,” tandasnya. [*]

 

 

Editor : Hari Puspita
#krisis air #karangasem #kemarau