AMLAPURA, Radar Bali.id- Meski secara siklus, seharusnya saat ini sudah memasuki musim kemarau. Saat ini, aktivitas petani garam mulai menggeliat.
Namun karena faktor cuaca yang masih turun hujan, petani garam di wilayah Karangasem pun tak bisa berbuat banyak. Salah satunya petani garam Amed di Desa Purwakerti.
Perbekel Purwakerti, I Nengah Suanda menuturkan, sejak enam bulan belakangan, sebagian warganya yang menjadi petani garam Amed tak bisa beraktivitas melakukan penggaraman akibat musim hujan.
”Seharusnya sekarang sudah memasuki kemarau. Tapi kondisi cuaca masih sering turun hujan,” ujarnya saat dikonfirmasi Selasa (17/6/2025).
Kondisi ini membuat petani di sana tak bisa berbuat banyak. Petani garam Amed lebih memilih tak memproduksi garam lantaran kondisi cuaca yang tak pasti. Namun umumnya kata Suanda, produksi garam dilakukan dari bulan Agustus hingga November. ”Biasanya empat bulan dalam setahun,” kata Suanda.
Namun meski cukup lama belum bisa memproduksi garam, petani di sana masih memiliki stok garam untuk memenuhi permintaan dari pembeli.
”Stoknya masih ada, jadi untuk memenuhi permintaan masih aman,” ucapnya.
Suanda menambahkan saat musim produksi, petani yang tergabung dalam Komunitas Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Amed ini mampu memproduksi 30 ton garam amed.
Untuk penjualan sendiri, kata Suanda, dengan kualitas garam amed yang cukup bagus, sebagian besar garam amed digunakan untuk memenuhi permintaan hotel dan restoran. ”Di Bali sampai keluar Bali pembelinya,” sebutnya. [*]
Editor : Hari Puspita