DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Bahaya penyakit cacingan yang bisa mematikan jika dibiarkan dan tidak diobati. Dinas Kesehatan Provinsi Bali menyediakan obat cacing yang diberikan secara massal.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2) Provinsi Bali I Gusti Ayu Raka Susanti merangkan, sasaran pemberian obat cacing untuk anak-anak usia 1-12 tahun periode I tahun 2025 sebanyak 679.888 yang cakupannya 99 persen.
Pemberian obat tahun 2025 tidak sebanyak periode II tahun 2024 sebesar 680.370.” Jadi program kami memang lebih ke pemberian obat cacing masal pada anak-anak,” terang dr Raka saat dihubungi kemarin (25/8/2025).
Baca Juga: Mantap! Tiga Serdadu Muda Ini Jalani Tugas Negara di Timnas U-23, Ini Road Map-nya
Berkaca dari kejadian balita usia 4 tahun asal Jawa Barat meninggal dunia dengan banyak cacing yang keluar, kata Raka cacingan berpotensi meninggal jika tidak segera diobati.
Sebab, cacing mengambil nutrisi dan migrasi ke organ-organ di dalam tubuh si anak.”Bisa jadi mematikan bila tidak segera diobati, karena cacing mengambil nutrisi si anak dan bisa migrasi ke organ-organ di dalam tubuh si anak,” ucapnya.
Sayangnya, Diskes Bali belum memiliki survey terbaru mengenai kasus penderita cacingan di Bali. Terakhir tahun 2019 yang disurvei empat kabupaten.
Hasilnya Karangasem anak-anak SD 13, 11 persen, Balita 5,26 persen, bumil 8,59 persen; Bangli 8,1 persen; Tabanan 0,8 persen; Badung SD1,60 persen; Balita 0,38 persen; Bumil 2,92 persen.
Tahun 2018 di Buleleng sebesar 0,7 persen dan Gianyar SD 4,28 persen, balita 0,95 persen dan bumil 4,2 persen.”Tidak setiap tahun kami melakukan survei. Dan tidak semua tempat,” jelasnya.
Raka menjelaskan, ciri-ciri cacingan badan terasa lemas. Mereka yang terkena cacingan bisa terkena anemia, badan kurus yang menyebabkan gampang sakit karena nutrsi diambil oleh cacingnya.”Jadi tumbuh kembang anak terganggu,”ungkapnya.***
Editor : M.Ridwan