Oleh: Santy Sastra
(Mindset Motivator & Hypnoterapist)
MAKAN bukan lagi sekadar memenuhi kebutuhan tubuh. Banyak orang makan untuk menenangkan hati, merayakan kebahagiaan, atau melupakan kesedihan. Fenomena ini disebut emotional eating.
Emotional eating terjadi ketika makanan digunakan sebagai pelarian dari emosi. Stres, bosan, marah, bahkan bahagia bisa memicu keinginan makan berlebihan tanpa rasa lapar fisik.
Bedanya dengan lapar biasa terlihat jelas. Lapar fisik muncul perlahan, bisa ditunda, dan puas dengan makanan apa saja.
Lapar emosional datang tiba-tiba, mendesak, dan hanya ingin makanan tertentu seperti cokelat atau gorengan.
Saat stres, tubuh memproduksi hormon kortisol. Hormon ini meningkatkan nafsu makan, terutama pada makanan tinggi gula dan lemak.
Otak menganggap makanan sebagai hadiah cepat untuk menenangkan diri.
Masalahnya, efek tenang itu hanya sementara. Setelah makan berlebihan, muncul rasa bersalah, sesak, dan berat badan naik. Lingkaran ini membuat emosi makin tidak stabil.
Emotional eating sering tidak disadari. Banyak orang menganggapnya normal karena sudah menjadi kebiasaan sejak kecil, seperti diberi es krim saat menangis.
Mengenali pemicunya adalah langkah awal. Catat kapan dorongan makan datang, suasana hati apa yang muncul, dan makanan apa yang dicari. Pola ini membantu memahami diri sendiri.
Ganti kebiasaan makan dengan cara lain untuk mengelola emosi. Jalan kaki, mendengarkan musik, menulis jurnal, atau menarik napas dalam bisa memberi efek tenang yang lebih sehat.
Jangan larang diri makan sama sekali. Larangan justru memicu keinginan lebih besar. Kuncinya adalah kesadaran saat makan, makan pelan, dan nikmati setiap suapan.
Makan bersama orang terdekat juga membantu. Obrolan dan kehangatan mengalihkan fokus dari emosi negatif tanpa harus berlebihan pada makanan.
Tidur cukup dan olahraga ringan membantu menyeimbangkan hormon. Tubuh yang cukup istirahat lebih mudah mengontrol nafsu makan yang dipicu emosi.
Jika emotional eating sudah mengganggu kesehatan dan kehidupan sehari-hari, jangan ragu mencari bantuan profesional. Psikolog atau ahli gizi bisa memberi panduan yang tepat.
Makanan seharusnya menjadi teman, bukan pelarian. Saat kita belajar mengenali emosi tanpa menutupinya dengan makanan, hubungan dengan diri sendiri jadi lebih sehat.
Mengelola emosi butuh latihan, bukan hukuman. Setiap kali berhasil menahan diri dan memilih cara sehat lain, kita sedang membangun kekuatan mental.
Jadi, lain kali saat ingin membuka kulkas karena sedih, berhenti sejenak. Tanyakan pada diri sendiri: apakah perutku lapar, atau hatiku yang butuh dipeluk?
Editor : Rosihan Anwar