Oleh: Santy Sastra
(Mindset Motivator & Hypnoterapist)
PERNAH merasa sukses yang diraih hanya karena kebetulan? Merasa tidak pantas dipuji? Merasa suatu saat orang akan tahu bahwa kita sebenarnya tidak sehebat itu.
Perasaan itu namanya impostor syndrome. Sindrom penipu. Padahal kita tidak menipu siapa-siapa.
Orang dengan impostor syndrome sering berprestasi. Punya nilai bagus, jabatan bagus, atau karya bagus. Tapi di dalam hati tetap merasa kosong dan takut ketahuan.
Ciri utamanya adalah meremehkan usaha sendiri. Saat berhasil, bilang “ah itu Cuma hoki”. Saat dipuji, jawab “tidak kok, biasa saja”.
Orang dengan kondisi ini juga takut gagal. Karena gagal dianggap bukti bahwa selama ini memang tidak mampu. Padahal gagal adalah bagian dari belajar.
Impostor syndrome sering muncul di tempat kerja baru, setelah lulus, atau saat naik jabatan. Lingkungan baru membuat kita membandingkan diri dengan orang lain.
Media sosial memperparah. Kita melihat orang lain serba bisa. Lalu merasa diri kita kurang. Padahal kita tidak tahu proses di balik layar mereka.
Dampaknya bisa membuat kita kerja berlebihan. Takut istirahat. Atau sebaliknya, menunda pekerjaan karena takut hasilnya tidak sempurna.
Yang paling berat adalah kita tidak bisa menikmati keberhasilan. Pujian masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Karena di kepala hanya ada suara “kamu belum cukup”.
Penyebabnya beragam. Bisa dari pola asuh yang menuntut sempurna. Bisa dari lingkungan yang suka membandingkan. Bisa juga karena standar diri terlalu tinggi.
Cara mengatasinya dimulai dengan bicara jujur pada diri. Tuliskan bukti keberhasilan. Proyek yang selesai, masalah yang dipecahkan, orang yang tertolong.
Belajar menerima pujian. Jawab “terima kasih” saja. Tidak perlu merendah. Anda memang layak mendapatkannya.
Bicarakan dengan teman atau mentor. Anda akan kaget karena banyak orang hebat juga merasa seperti ini. Anda tidak sendirian.
Ubah kalimat di kepala. Dari “saya tidak bisa” menjadi “saya sedang belajar”. Dari “saya penipu” menjadi “saya masih bertumbuh”.
Impostor syndrome tidak hilang dalam sehari. Tapi setiap kali kita memilih percaya pada usaha sendiri, kita sedang mengusir rasa itu.
Ingat, merasa ragu tidak membuat Anda palsu. Itu tandanya Anda peduli dan ingin menjadi lebih baik. (ss/han)
Editor : Rosihan Anwar