KLUNGKUNG, Radar Bali.id- Pengunjung di Pantai Gunaksa yang berada di kawasan Pusat Kebudayaan Bali di Kecamatan Dawan dihebohkan kejadian penemuan dua jasad laki-laki dan perempuan dalam kondisi meninggal dunia pada Jumat sore (12/1/2024).
Kepala Pelaksana BPBD Klungkung, I Putu Widiada mengungkapkan, pihaknya menerima laporan sekitar pukul 15.30 sore hari. "Kami mendapat laporan ada dua jenazah ditemukan di pantai Gunaksa," katanya.
Selanjutnya pihak BPBD langsung menuju lokasi. Usai tiba dilokasi, ditemukan dua jasad laki-laki dan perempuan sudah dalam kondisi meninggal dunia. "Di dekat jenazah, kami juga menemukan sepeda motor milik korban," tuturnya.
Selanjutnya setelah dilakukan pemeriksaan, ditemui identitas. Terungkap bahwa keduanya merupakan pasangan suami istri (pasutri).
Korban laki-laki bernama I Wayan Muliantara dan sang istri Ni Nengah Muliati. "Selanjutnya kedua jenazah kami bawa ke RSUD Klungkung," jelas Widiada.
Saat ditemukan itu, kondisi kedua jasad tersebut mengeluarkan buih berwarna putih. "Tidak ditemukan tanda kekerasan," imbuhnya.
Keduanya merupakan warga Banjar Ulunsui, Desa Sampalan Kelod, Kecamatan Dawan. "Keluarga korban datang ke RSUD Klungkung," bebernya.
Informasi yang didapat BPBD Klungkung dari pihak keluarga, kedua korban ini meninggalkan rumah sejak malam hari. Disinggung soal motif keduanya nekat mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri, Widiada belum bisa memastikan.
"Kami belum tahu apa motifnya. Termasuk kami juga belum tahu kedua korban ini bunuh diri dengan cara apa. Karena masih dalam penanganan kepolisian," pungkasnya.
Sementara itu, Perbekel Sampalan Kelod, I Wayan Budisusila membenarkan bahwa keduanya merupakan warganya. Dari penuturan keluarga, keluarga ini cukup terbuka dan senang bercanda. "Pihak keluarganya juga tidak tahu latar belakang kenapa bunuh diri. Karena selama ini keluarga tersebut dikenal baik-baik saja," ucap Budisusila.
Korban perempuan merupakan pedagang jajanan di Pasar Desa Sampalan Kelod, sedangkan suaminya merupakan pekerja bangunan. Pasutri ini meninggalkan dua anak laki-laki dan perempuan. "Yang paling besar cewek sudah SMA, sedangkan yang laki-laki masih SMP," jelasnya.
Pihak keluarga menolak untuk dilakukan otopsi dan menerima kematian korban sebagai musibah. [*]
Editor : Hari Puspita