Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Organ Dalam Sapi yang Mati Mendadak Dibawa ke Laboratorium

M.Ridwan • Rabu, 3 Mei 2023 | 04:00 WIB
CEK LAB: Sapi milik warga yang mati secara mendadak diduga karena bloat atau perut kembung, diambil sampel organ dalamnya dicek ke laboratorium Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar.
CEK LAB: Sapi milik warga yang mati secara mendadak diduga karena bloat atau perut kembung, diambil sampel organ dalamnya dicek ke laboratorium Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar.
NEGARA, radarbali.id -  Fenomena bloat atau penyakit perut kembung sapi agaknya cukup meresahkan. Sapi milik warga yang mati secara mendadak diduga karena bloat atau perut kembung, diambil sampel organ dalamnya dicek ke laboratorium Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar. Pengecekan untuk memastikan lagi penyebab kematiannya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana I Wayan Sutama mengatakan, setalah mendapat laporan adanya ternak sapi warga yang mati secara mendadak, sudah menerjunkan dokter hewan untuk memeriksa. Dari pemeriksaan sementara, diduga karena perut kembung. "Hasil pengecekan dokter hewan kita ada indikasi karena penyakit bloat atau gangguan pencernaan akibat gas berlebih dalam rumen sapi," jelasnya.

Indikasi diduga karena perut kembung ini, dilihat dari gejala pada sapi yang mati mendadak. Diantarnya keluar busa pada mulut dengan saliva sangat lengket. Selain itu, pada lambung sapi kembung. Sebelum roboh lalu mati, menurut pemilik sapi, sapinya juga sempat gemetar

Akan tetapi, pihaknya masih perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan penyebab kematian sapi. Salah satunya dengan meneliti organ dalam sapi yang mati ke laboratorium BBVet Denpasar. "Hasilnya tunggu dalam waktu dekat," terangnya.

Pemeriksan lebih lanjut ini diperlukan, mengingat tidak hanya dua ekor sapi yang mati. Periode bulan April hingga Mei, berdasarkan data dari Bidang Keswan-Kesmavet, Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, sudah ada sebanyak 11 ekor sapi milik warga yang diketahui mati mendadak di Desa Batuagung. Terkhir terjadi Senin (1/5) lalu, dua ekor sapi warga mati mendadak.

Pihaknya juga mengimbau peternak agar lebih waspada dalam memilih pakan ternak. Rumput yang diberikan agar dipastikan lagi tidak terkontaminasi bahan kimia.

Diberitakan sebelumnya, warga Desa Batuagung resah dengan kematian ternak sapi secara mendadak dalam beberapa bulan terakhir. Terbaru terjadi di Banjar Sawe, dua ekor sapi milik warga tiba- tiba mati dengan mulut berbusa.

Petugas dari Dinas Pertanian dan Pangan Pemkab Jembrana, Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Gede Adi Adnyana yang datang ke lokasi melakukan pemeriksaan dua ekor sapi yang mati mendadak.

Dokter hewan ini menduga penyebab kematian dua ekor sapi karena bloat, dimana perut sapi kembung. Bloat disebabkan oleh faktor makanan karena bukan penyakit non-infeksius. Karena dari pemeriksaan ditemukan infeksi atau residu.

Bloat memang menyebabkan resiko kematian. Karena bloat merupakan gas perut sapi yang bisa membuat perut sapi membesar hingga menekan paru-paru. Tekanan pada paru-paru menghambat CO2 yang menyebabkan sapi tersebut tidak bisa bernapas sehingga bisa mati mendadak. (bas/rid) Editor : M.Ridwan
#bagian dalam sapi dibawa ke lab #perut kembung pada sapi #sapi mati mendadak #Kesehatan Masyarakat Veteriner #bloat