Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Ciptakan B50, Pertamina Ungkap Masa Depan Penggunaan Energi Terbarukan Nasional, Begini Skemanya

M.Ridwan • Sabtu, 15 Februari 2025 | 11:34 WIB
MENUJU ENERGI TERBARUKAN: Manajer Industrialisasi Sales Pertamina Patra Niaga saat diwawancara awak media Konferensi Internasional Kelapa Sawit dan Lingkungan 2025 di Sanur, 14 Februari 2025.
MENUJU ENERGI TERBARUKAN: Manajer Industrialisasi Sales Pertamina Patra Niaga saat diwawancara awak media Konferensi Internasional Kelapa Sawit dan Lingkungan 2025 di Sanur, 14 Februari 2025.

SANUR, radarbali.jawapos.com – Pemerintah RI dan pihak swasta kian gencar mewujudkan energi renewable (terbarukan) di Indonesia.

Hal ini diungkap Manajer Industrialisasi Sales Pertamina Patra Niaga, Samuel Hamonangan Lubis ditengah Konferensi Internasional Kelapa Sawit dan Lingkungan (ICOPE) 2025 di Convention Center Grand Bali Beach Sanur, 14 Februari 2025.

Samuel menekankan pentingnya biodiesel berkelanjutan bagi masa depan Indonesia. Mengingat bioenergi berpotensi untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang dinilai berdampak bagi keberlangsungan hidup.

 Baca Juga: Sempat Kabur, Penebas Yohanis di Kafe Aseman Nusa Dua Diringkus di Tempat Kos Paman

Ia menyampaikan, Pemerintah Indonesia per 1 Januari 2025 telah menerapkan campuran biodiesel B40 (40% minyak sawit dan 60% solar) yang merupakan langkah besar menuju ketahanan energi.

Menurutnya, pemanfaatan bio energi ini akan terus dilakukan pada tahun depan, di mana pemerintah akan mulai malakukan penelitian untuk B50.

 Baca Juga: Sudirta: Nilai Pancasila belum sepenuhnya menjadi pedoman baik itu dalam pemerintahan dan pembentukan hukum

"Kini, kita berharap bisa melanjutkan ke B50 pada 2026, dan bahkan B100 di masa depan, kita harus mempersiapkan ini untuk mendapatkan energi yang berkelanjutan," terang dia dalam International Conference on Oil Palm and Environment (ICOPE) Series 2025 Day 3 di Bali Beach Convention, Bali, Jumat (14/02/2025).

Namun, perjalanan menuju keberlanjutan tidak tanpa rintangan. Samuel mengidentifikasi dua masalah utama, antara lain skala ekonomi dan kendala teknis. "Pemerintah memberikan insentif positif bagi petani dan produsen, sehingga produksi biodiesel meningkat, tapi isu teknis tetap ada," katanya.

Data menunjukkan peningkatan signifikan dalam realisasi penggunaan biodiesel dari 9,4 juta kiloliter pada 2021 menjadi 15,61 juta kiloliter pada 2025.

Sementara pada 2026 diproyeksikan akan ada penggunaan biodiesel mencapai 19,52 juta kiloliter dengan nilai Rp 290 triliun. "Ini adalah peluang besar bagi petani dan produsen," imbuhnya.

Di sisi lain perihal harga biodiesel juga menjadi tantangan besar, dengan harga sekitar Rp 22.650-Rp 22.900 per liter sesuai wilayah. Sementara untuk diesel jenis Dexlite Rp 14.600 per liter dan Pertamina Dex Rp 14.800 per liter, artinya lebih murah daripada biodiesel.

"Pelanggan mengeluh soal harga, dan produsen perlu menstabilkan harga agar tetap terjangkau oleh masyarakat. Jika tidak terjangkau, industri akan mati. Kita tidak bisa menunggu," terang dia.

 Baca Juga: VIRAL! Teriak Anjing Lalu Main Tebas Pakai Parang Usai Karaoke di Kafe Aseman, Sopir Terkapar Bersimbah Darah

Pertamina juga berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon dan ketergantungan bahan bakar fosil melalui diesel HVO (hydrotreated vegetable oil) sebagai alternatif.

Ia menuturkan bahwa masa depan biodiesel di Indonesia tampak menjanjikan, tetapi keberhasilan bergantung pada kerjasama antara pemerintah, produsen, dan masyarakat.

"Presiden (Prabowo Subianto) mengatakan kita tidak bisa lagi mengandalkan impor, kita harus mandiri," tutup Samuel.***

Editor : M.Ridwan
#B40 #b50 #energi terbarukan #Samuel #pertamina patra niaga #Renewable Energy