Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Sebelum Meninggal Dunia, Mbok Yem Tinggalkan Pesan Menyentuh

Dhian Harnia Patrawati • Kamis, 24 April 2025 | 16:24 WIB
Pelayat mendatangi kediaman Mbok Yem di Desa Gonggang, Poncol, Magetan.
Pelayat mendatangi kediaman Mbok Yem di Desa Gonggang, Poncol, Magetan.

RADAR BALI - Pemilik warung di kawasan Puncak Gunung Lawu, Wakiyem alias Mbok Yem, meninggal dunia pada Rabu (23/4) di kediamannya di Dusun Dagung, Gonggang, Poncol, Magetan.

Mbok Yem meninggal ketika menjalani perawatan penyakit pneumonia yang dideritanya di RSU Aisyiyah Ponorogo dua bulan silam.

Perempuan yang telah menginjak usia 70 tahun tersebut akan dimakamkan di samping mendiang suaminya, Kamsir.

Mbok Yem mendirikan warung makan di kawasan Hargo Dumilah sejak 1980-an.
Persentuhannya dengan Lawu pada awalnya untuk mencari bahan-bahan herbal di kawasan Gunung Lawu.

Menyadari banyak pendaki yang membutuhkan asupan makanan, Mbok Yem lantas membuka warung di ketinggian 3.150 mdpl yang berjarak 115 meter dari Puncak Lawu.

Warung Mbok Yem sangat strategis karena persis berada di pertemuan tiga jalur pendakian Gunung Lawu: jalur Candi Cetho, jalur Cemoro Kandang, dan jalur Cemoro Sewu.

Menu yang disajikan sangat sederhana: nasi pecel, nasi soto, mie rebus, nasi goreng, tempe goreng, dan es teh.

Namun, warungnya terbuka bagi pendaki kelelahan yang tidak mendirikan tenda.
Mbok Yem sehari-hari berada di puncak Lawu dengan ditemani dua kerabatnya serta seekor monyet bernama Temon.

Badai dan kebakaran hutan di Puncak Lawu tak membuat Mbok Yem turun gunung. Dia hanya setahun sekali turun gunung, yakni menjelang Lebaran.

Untuk memasok kebutuhan logistik warungnya, Mbok Yem dibantu dua kerabatnya yang mendaki Puncak Lawu tiga kali dalam sepekan.

Sebelum meninggal dunia, Mbok Yem telah meninggalkan pesan yang menyentuh.
Dia mengungkapkan kerinduan pada keluarganya dan ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama cucu-cucunya.

"Inginnya di rumah menjaga cucunya, karena merasa cucunya tahu-tahu sudah besar," kata seorang cucunya, Syaiful.

Karena itu, Mbok Yem berikrar akan lebih banyak di rumah setelah sembuh dari sakit yang dideritanya.

Selain pneumonia yang membuat Mbok Yem sering sesak nafas, luka di kakinya juga mengganggu pergerakannya.

Mirisnya, meski Mbok Yem menyediakan kehangatan dan asupan pada pendaki yang kelaparan, luka di kaki Mbok Yem justru disebabkan karena kekurangan protein.

Tiga hari sebelum meninggalnya, Mbok Yem dalam kondisi yang lemah karena hanya bisa minum susu.

Menjelang kepergiannya, Mbok Yem meminta untuk dimandikan.

Saat ini, warung Mbok Yem di Hargo Dumilah masih beroperasi.

Dua orang yang membantu Mbok Yem selama ini yang menjalankannya, meneruskan warisan kebaikan Mbok Yem pada semua orang yang menyapa Puncak Lawu.

Keluarga yang masih berduka masih belum membahas kelanjutan usaha yang telah dirintis Mbok Yem tersebut. ***

 

 

Editor : Ibnu Yunianto
#Mbok Yem Pemilik Warung Tertinggi #mbok yem #Puncak Lawu Suhu Ekstrem #hargo dalem #Hargo Dumilah #Mbok Yem Gunung Lawu #Mbok Yem Meninggal Dunia #Puncak Lawu #mbok yem meninggal #Gunung Lawu Terbakar #mbok yem lawu #gunung lawu #temon #mbok yem turun gunung