Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Ambalat Memanas Lagi Gegara Oposisi Malaysia, Ini Perbandingan Kekuatan Militer,Angkatan Udara,Angkatan Laut Indonesia-Malaysia

Hari Puspita • Minggu, 3 Agustus 2025 | 16:50 WIB
Ilustrasi defile prajurit Korps Marinir TNI AL saat HUT Ke-77 Korps Marinir di Mako Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan, 2022. . (Foto: dok.Dispenal 2022)
Ilustrasi defile prajurit Korps Marinir TNI AL saat HUT Ke-77 Korps Marinir di Mako Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan, 2022. . (Foto: dok.Dispenal 2022)

Radar Bali.id- Parlemen oposisi dari negara tetangga Malaysia, memprovokasi pemerintah Malaysia untuk merebut Ambalat yang dinilai kaya tambang. Jagat maya warganet Malaysia dan Indonesia pun memanas atas isu tersebut.

Blok Ambalat, yang meliputi area seluas sekitar 15.235 kilometer persegi, di Laut Sulawesi (Selat Makassar), diyakini menyimpan cadangan minyak dan gas yang melimpah. Hal ini menjadikannya zona yang sangat strategis dan bernilai ekonomis bagi kedua negara.

Asal muasal sengketa Ambalat berawal dari peta Malaysia tahun 1979 silam, yang seenaknya main klaim bahwa wilayah tersebut sebagai bagian dari batas maritim Malaysia (Blok ND6 dan ND7).

Atas sikap kebiasaan main klaim Malaysia yang tidak hanya dalam bidang seni,budaya, ini, Indonesia menolaknya, karena bertentangan dengan Perjanjian Tapal Batas Kontinental 1969 silam dan Persetujuan Tapal Batas Laut 1970.

Ini tentu bukan tanpa sebab. Indonesia merujuk pada Konvensi Hukum Laut PBB 1982 (UNCLOS), yang memberikan hak kedaulatan atas landas kontinen dan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) hingga 200 mil laut, serta posisi Karang Unarang sebagai titik dasar terdekat.

Di sisi lain Malaysia dengan logika aneh mengaku alasan putusan Mahkamah Internasional (ICJ) 2002 yang memberikan Pulau Sipadan dan Ligitan kepada Malaysia, padahal, ironisnya putusan tersebut tidak ada menyebut batas maritim untuk Ambalat.

Sejak klaim Malaysia itu, akhirnya muncul sejumlah ketegangan dari tahun ke tahun. Pada 2005, ketika kapal perang Malaysia dan Indonesia terlibat dalam insiden kecil, termasuk tabrakan antara KD Rencong dan KRI Tedong Naga yang menegangkan hubungan kedua negara.

Kemudian berlanjut tahun 2009, Indonesia melaporkan adanya kejadian 19 pelanggaran perbatasan oleh kapal Malaysia, memicu protes diplomatik dua negara yang netizennya saling serang ini.

Saat itu kedua negara berhasil meredakan eskalasi melalui saluran diplomatik, termasuk pembentukan ISWAMI untuk mengurangi narasi konfrontatif di media yang memanas karena memantau perkembangan di lapangan.

Nah, saat ini, tahun 2025, usai kejadian perang Thailandvs Kamboja, di hari Selasa,  29 Juli 2025, Perdana Menteri Anwar Ibrahim kembali menegaskan komitmen Malaysia untuk menyelesaikan sengketa melalui jalur hukum dan diplomasi, menolak pendekatan agresif.

“Kami tidak akan melanggar wilayah Indonesia, dan kami harap hal yang sama dari Indonesia,” ini sebagaimana muncul dalam pemberitaan yang dilansir media Malaysia, Malay Mail.

Kunjungan Anwar ke Jakarta, didampingi Perdana Menteri Sarawak Tan Sri Abang Johari Tun Openg dan Ketua Menteri Sabah Datuk Seri Hajiji Noor, juga membahas isu perbatasan darat di Kalimantan Utara-Sabah dan perlindungan pekerja migran Indonesia.

Di Indonesia, kesepakatan ini memicu reaksi beragam. Perikatan Nasional (PN) Malaysia, melalui wakil ketuanya Hamzah Zainudin, meminta agar rencana pengelolaan bersama Ambalat dibahas di parlemen Malaysia terlebih dahulu, menekankan pentingnya menjaga kedaulatan maritim.

Berikut ini gambaran kekuatan dan peringkat militer Indonesia berdasarkan data terbaru untuk tahun 2025, terutama dari Global Firepower (GFP) yang merupakan salah satu indeks paling banyak menjadi rujukan peta mutakhir kekuatan militer antarnegara di dunia:

Peringkat Militer Indonesia:

Kekuatan Militer Indonesia (Data Global Firepower 2025):

Beberapa indikator kunci yang menyumbang kekuatan militer Indonesia meliputi:

Modernisasi dan Perkembangan:

Indonesia terus aktif dalam modernisasi militernya melalui pengadaan alutsista canggih dari berbagai negara, seperti:

Kombinasi antara jumlah personel yang besar, anggaran pertahanan yang meningkat, dan upaya modernisasi alutsista yang berkelanjutan menjadikan Indonesia sebagai kekuatan militer yang patut diperhitungkan di kancah regional maupun global.

Indonesia terus memperkuat kemampuan militer, terutama di sektor Angkatan Udara (TNI AU) dan Angkatan Laut (TNI AL), sebagai bagian dari strategi pertahanan negara kepulauan yang luas. Upaya modernisasi alutsista dan peningkatan kapabilitas menjadi prioritas utama.

Kekuatan Angkatan Udara Indonesia (TNI AU)

TNI AU dikenal sebagai salah satu kekuatan udara terbesar di Asia Tenggara dan terus melakukan modernisasi.

Peringkat dan Jumlah Inventaris:

Inventaris Pesawat Udara Utama:

Program Modernisasi:

Kekuatan Angkatan Laut Indonesia (TNI AL)

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, kekuatan maritim menjadi krusial bagi Indonesia. TNI AL dikenal sebagai salah satu angkatan laut terkuat di Asia dan bahkan di dunia.

Peringkat dan Jumlah Inventaris:

Inventaris Kapal Perang Utama:

Program Modernisasi:

Peningkatan kemampuan TNI AU dan TNI AL menunjukkan komitmen Indonesia untuk menjaga kedaulatan dan keamanan wilayahnya yang luas, serta menunjukkan pengaruh yang semakin besar di kawasan regional dan global.

Malaysia

Malaysia yang lagu kebangsaannya merupakan saduran dari lagu stambul Terang Bulan, pernah bersengketa dengan Indonesia saat Presiden Soekarno. Konfrontasi Indonesia-Malaysia  terjadi pada tahun 1963 hingga 1966.

Konfrontasi ini merupakan konflik antara Indonesia dan Malaysia yang disebabkan oleh penolakan Indonesia terhadap pembentukan Federasi Malaysia, yang dianggap sebagai bentuk neokolonialisme Inggris. 

Kekuatan dan Peringkat Militer Malaysia

Malaysia memiliki kekuatan militer di bawah Indonesia. Jarak peringkatnya cukup jauh. Meskipun parlemen Malaysia belakangan ini terkesan provokatif terhadap pemerintahan Perdana Menteri Anwar Ibrahim.

Berikut data kekuatan dan peringkat militer Malaysia berdasarkan data terbaru untuk tahun 2025, terutama dari Global Firepower (GFP):

Peringkat Militer Malaysia:

Kekuatan Militer Malaysia (Data Global Firepower 2025):

Beberapa indikator kunci yang menyumbang kekuatan militer Malaysia meliputi:

Modernisasi dan Perkembangan:

Malaysia terus berinvestasi dalam modernisasi militernya, terutama fokus pada pertahanan maritim mengingat garis pantai yang luas.

Mereka juga berpartisipasi dalam acara-acara pertahanan internasional seperti Langkawi International Maritime and Aerospace Exhibition (LIMA) 2025 untuk menjajaki kerja sama dan pengadaan alutsista. Proyek-proyek penting termasuk penyelesaian dan pengujian Kapal Tempur Pesisir (LCS) pertama.

Meskipun memiliki keterbatasan personel dibandingkan beberapa negara lain, Malaysia mengkompensasi dengan struktur militer yang terorganisir dengan baik dan investasi yang ditargetkan pada sektor-sektor kunci pertahanan.

Kekuatan Angkatan Udara Malaysia (TUDM)

TUDM mengoperasikan kombinasi unik pesawat modern dari berbagai negara. Mereka terus berupaya meningkatkan armada untuk memenuhi kebutuhan pertahanan udara dan pengawasan.

Inventaris Pesawat Udara Utama:

Program Modernisasi dan Perkembangan:

Kekuatan Angkatan Laut Malaysia (TLDM)

Sebagai negara maritim, TLDM memegang peran penting dalam menjaga keamanan perairan Malaysia yang luas. Mereka fokus pada pengembangan armada yang mampu melakukan patroli, pengawasan, dan operasi tempur di lingkungan maritim.

Inventaris Kapal Perang Utama:

Program Modernisasi dan Perkembangan

Secara keseluruhan, Angkatan Udara dan Angkatan Laut Malaysia terus berupaya meningkatkan kapabilitas mereka melalui modernisasi alutsista dan program pelatihan. Ini menunjukkan komitmen kuat Malaysia untuk menjaga kedaulatan dan keamanan di wilayahnya. [dirangkum dari berbagai sumber*].

 

 

 

Editor : Hari Puspita
#kekuatan militer #ambalat #malaysia #tni #Sengketa pulau #perbatasan