Radar Bali.id- Parlemen oposisi dari negara tetangga Malaysia, memprovokasi pemerintah Malaysia untuk merebut Ambalat yang dinilai kaya tambang. Jagat maya warganet Malaysia dan Indonesia pun memanas atas isu tersebut.
Blok Ambalat, yang meliputi area seluas sekitar 15.235 kilometer persegi, di Laut Sulawesi (Selat Makassar), diyakini menyimpan cadangan minyak dan gas yang melimpah. Hal ini menjadikannya zona yang sangat strategis dan bernilai ekonomis bagi kedua negara.
Asal muasal sengketa Ambalat berawal dari peta Malaysia tahun 1979 silam, yang seenaknya main klaim bahwa wilayah tersebut sebagai bagian dari batas maritim Malaysia (Blok ND6 dan ND7).
Atas sikap kebiasaan main klaim Malaysia yang tidak hanya dalam bidang seni,budaya, ini, Indonesia menolaknya, karena bertentangan dengan Perjanjian Tapal Batas Kontinental 1969 silam dan Persetujuan Tapal Batas Laut 1970.
Ini tentu bukan tanpa sebab. Indonesia merujuk pada Konvensi Hukum Laut PBB 1982 (UNCLOS), yang memberikan hak kedaulatan atas landas kontinen dan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) hingga 200 mil laut, serta posisi Karang Unarang sebagai titik dasar terdekat.
Di sisi lain Malaysia dengan logika aneh mengaku alasan putusan Mahkamah Internasional (ICJ) 2002 yang memberikan Pulau Sipadan dan Ligitan kepada Malaysia, padahal, ironisnya putusan tersebut tidak ada menyebut batas maritim untuk Ambalat.
Sejak klaim Malaysia itu, akhirnya muncul sejumlah ketegangan dari tahun ke tahun. Pada 2005, ketika kapal perang Malaysia dan Indonesia terlibat dalam insiden kecil, termasuk tabrakan antara KD Rencong dan KRI Tedong Naga yang menegangkan hubungan kedua negara.
Kemudian berlanjut tahun 2009, Indonesia melaporkan adanya kejadian 19 pelanggaran perbatasan oleh kapal Malaysia, memicu protes diplomatik dua negara yang netizennya saling serang ini.
Saat itu kedua negara berhasil meredakan eskalasi melalui saluran diplomatik, termasuk pembentukan ISWAMI untuk mengurangi narasi konfrontatif di media yang memanas karena memantau perkembangan di lapangan.
Nah, saat ini, tahun 2025, usai kejadian perang Thailandvs Kamboja, di hari Selasa, 29 Juli 2025, Perdana Menteri Anwar Ibrahim kembali menegaskan komitmen Malaysia untuk menyelesaikan sengketa melalui jalur hukum dan diplomasi, menolak pendekatan agresif.
“Kami tidak akan melanggar wilayah Indonesia, dan kami harap hal yang sama dari Indonesia,” ini sebagaimana muncul dalam pemberitaan yang dilansir media Malaysia, Malay Mail.
Kunjungan Anwar ke Jakarta, didampingi Perdana Menteri Sarawak Tan Sri Abang Johari Tun Openg dan Ketua Menteri Sabah Datuk Seri Hajiji Noor, juga membahas isu perbatasan darat di Kalimantan Utara-Sabah dan perlindungan pekerja migran Indonesia.
Di Indonesia, kesepakatan ini memicu reaksi beragam. Perikatan Nasional (PN) Malaysia, melalui wakil ketuanya Hamzah Zainudin, meminta agar rencana pengelolaan bersama Ambalat dibahas di parlemen Malaysia terlebih dahulu, menekankan pentingnya menjaga kedaulatan maritim.
Berikut ini gambaran kekuatan dan peringkat militer Indonesia berdasarkan data terbaru untuk tahun 2025, terutama dari Global Firepower (GFP) yang merupakan salah satu indeks paling banyak menjadi rujukan peta mutakhir kekuatan militer antarnegara di dunia:
Peringkat Militer Indonesia:
- Peringkat Global: Berdasarkan Global Firepower 2025, Indonesia menempati peringkat ke-13 dari 145 negara yang dinilai di seluruh dunia. Angka Power Index yang dicatatkan adalah 0,2557 (skor 0.0000 dianggap "sempurna"). Peringkat ini menempatkan Indonesia di atas beberapa negara yang secara tradisional memiliki kekuatan militer yang diperhitungkan seperti Jerman, Israel, dan Iran.
- Peringkat ASEAN: Indonesia adalah pemimpin dalam kekuatan militer di kawasan ASEAN.
Kekuatan Militer Indonesia (Data Global Firepower 2025):
Beberapa indikator kunci yang menyumbang kekuatan militer Indonesia meliputi:
- Personel Militer:
- Personel militer aktif: sekitar 400.000 - 654.000 orang (terdapat sedikit variasi data dari berbagai sumber, namun konsisten menunjukkan jumlah yang besar).
- Personel cadangan: sekitar 400.000 - 550.000 orang.
- Pasukan paramiliter: sekitar 250.000 orang.
- Total personel (termasuk potensi mobilisasi): 4.726.134 orang.
- Anggaran Pertahanan:
- Anggaran pertahanan Indonesia untuk tahun 2025 diproyeksikan melonjak signifikan. Beberapa laporan menyebutkan Rp245,2 triliun, naik sekitar 47% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini mencerminkan komitmen Indonesia dalam modernisasi alutsista dan peningkatan kemampuan pertahanan.
- Pagu indikatif belanja Kementerian Pertahanan pada 2025 adalah sekitar Rp155,98 triliun. Kenaikan anggaran ini banyak dialokasikan untuk pengadaan dan pemeliharaan alutsista.
- Alutsista (Alat Utama Sistem Persenjataan):
- Angkatan Udara:
- Total pesawat udara: 459 unit
- Pesawat tempur/jet tempur: 41 unit (per Global Firepower, meskipun Indonesia sedang dalam proses pengadaan jet tempur Rafale, yang akan meningkatkan jumlah ini secara signifikan di masa depan)
- Helikopter: 214 unit (15 di antaranya helikopter serang)
- Angkatan Darat:
- Tank tempur: 331 unit
- Kendaraan tempur lapis baja: lebih dari 20.000 unit
- Artileri derek: 396 unit
- Peluncur roket (MLRS): 63 unit
- Angkatan Laut:
- Total kapal perang: 331 unit
- Kapal selam: 4 unit
- Kapal fregat: 8 unit
- Korvet: 25 unit
- Kapal patroli lepas pantai: 174 unit
- Kapal penyapu ranjau: 17 unit
- Angkatan Udara:
Modernisasi dan Perkembangan:
Indonesia terus aktif dalam modernisasi militernya melalui pengadaan alutsista canggih dari berbagai negara, seperti:
- Jet tempur Rafale dari Prancis.
- Kapal selam Scorpene dari Prancis.
- Kerja sama strategis dalam pengembangan pertahanan dengan negara mitra seperti Korea Selatan.
Kombinasi antara jumlah personel yang besar, anggaran pertahanan yang meningkat, dan upaya modernisasi alutsista yang berkelanjutan menjadikan Indonesia sebagai kekuatan militer yang patut diperhitungkan di kancah regional maupun global.
Indonesia terus memperkuat kemampuan militer, terutama di sektor Angkatan Udara (TNI AU) dan Angkatan Laut (TNI AL), sebagai bagian dari strategi pertahanan negara kepulauan yang luas. Upaya modernisasi alutsista dan peningkatan kapabilitas menjadi prioritas utama.
Kekuatan Angkatan Udara Indonesia (TNI AU)
TNI AU dikenal sebagai salah satu kekuatan udara terbesar di Asia Tenggara dan terus melakukan modernisasi.
Peringkat dan Jumlah Inventaris:
- Peringkat Global: Berdasarkan World Directory of Modern Military Aircraft (WDMMA) tahun 2025, Angkatan Udara Indonesia menempati peringkat ke-21 di dunia, melampaui negara-negara seperti Swedia dan Ukraina.
- Total Pesawat: TNI AU memiliki total sekitar 260 unit pesawat, yang terdiri dari berbagai jenis untuk berbagai misi.
Inventaris Pesawat Udara Utama:
- Pesawat Tempur/Jet Tempur: TNI AU saat ini memiliki sekitar 84 unit pesawat tempur aktif, termasuk:
- 23 unit F-16C/D (produksi Amerika)
- 22 unit Hawk 209 (produksi Inggris)
- 13 unit T-50i (produksi Korea Selatan)
- 11 unit Su-30MK2 (produksi Rusia)
- 8 unit F-16AM/BM (produksi Amerika)
- 5 unit Su-27SKM (produksi Rusia)
- 2 unit F-16A/B (produksi Amerika)
- Pesawat Bantuan Tembakan Udara (CAS): 13 unit EMB-314 (produksi Brasil).
- Pesawat Angkut: Sekitar 61 unit, termasuk C-130 Hercules berbagai varian, CN295, CN235, dan NC-212 (sebagian besar produksi Indonesia).
- Pesawat Misi Khusus: 8 unit, termasuk Boeing 737-2X9.
- Pesawat Latih: Termasuk KT-1B.
- Helikopter: Lebih dari 214 unit, termasuk helikopter serang.
Program Modernisasi:
- Dassault Rafale: Indonesia sedang dalam proses pengadaan 42 unit jet tempur Rafale F4 dari Prancis. Pengiriman ini akan meningkatkan kemampuan tempur udara secara signifikan.
- KAI KF-21 Boramae: Indonesia juga terlibat dalam proyek pengembangan jet tempur KF-21 Boramae bersama Korea Selatan, dengan rencana mengakuisisi hingga 48 unit.
- Airbus A400M: Indonesia juga memesan 2 unit pesawat angkut militer A400M MRTT dari Prancis yang dapat digunakan untuk misi pengisian bahan bakar di udara.
- C-130J Super Hercules: Penambahan beberapa unit C-130J Super Hercules untuk memperkuat kemampuan angkut strategis.
Kekuatan Angkatan Laut Indonesia (TNI AL)
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, kekuatan maritim menjadi krusial bagi Indonesia. TNI AL dikenal sebagai salah satu angkatan laut terkuat di Asia dan bahkan di dunia.
Peringkat dan Jumlah Inventaris:
- Peringkat Global: Berdasarkan World Directory of Modern Military Warships (WDMMW) tahun 2025, TNI AL menempati peringkat ke-4 dunia, sebagai angkatan laut terkuat di dunia, mengalahkan negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan Prancis. Peringkat ini didasarkan pada TrueValueRating (TvR) yang memperhitungkan kualitas, persenjataan, dukungan logistik, dan kemampuan galangan kapal lokal.
- Total Kapal Perang: TNI AL memiliki sekitar 245 unit kapal aktif (berdasarkan WDMMW) hingga 331 unit (berdasarkan Global Firepower), termasuk berbagai jenis kapal permukaan dan bawah air.
Inventaris Kapal Perang Utama:
- Kapal Selam: Indonesia saat ini mengoperasikan 4 unit kapal selam, yang semuanya berjenis Type 209/1300, yaitu:
- KRI Cakra-401 (buatan Jerman, dioperasikan sejak 1981).
- KRI Nagapasa-403 (buatan Korea Selatan, bagian dari proyek transfer teknologi).
- KRI Ardadedali-404 (buatan Korea Selatan, bagian dari proyek transfer teknologi).
- KRI Alugoro-405 (buatan PT PAL Indonesia bekerja sama dengan Korea Selatan, menjadi kapal selam pertama yang dirakit di Indonesia).
- Fregat: 8 unit, yang merupakan tulang punggung armada permukaan untuk berbagai misi tempur dan patroli.
- Korvet: 25 unit, kapal perang yang lebih kecil namun lincah untuk misi patroli dan peperangan anti-kapal selam.
- Kapal Patroli Lepas Pantai (Offshore Patrol Vessel/OPV): 174 unit, sangat penting untuk menjaga kedaulatan maritim dan penegakan hukum di wilayah perairan yang luas.
- Kapal Penyapu Ranjau: 17 unit, untuk membersihkan ranjau laut dan memastikan keamanan jalur pelayaran.
- Kapal Angkut/Landing Platform Dock (LPD): Sejumlah kapal LPD yang dibangun di dalam negeri (PT PAL) untuk mendukung operasi amfibi dan bantuan kemanusiaan.
Program Modernisasi:
- Kapal Selam Scorpene: Indonesia juga tengah dalam proses pengadaan 2 unit kapal selam Scorpene Evolved dari Prancis, yang akan meningkatkan kemampuan bawah air secara signifikan dengan teknologi yang lebih modern.
- Fregat Baru: TNI AL terus berupaya menambah armada fregat dan korvet baru untuk memperkuat kemampuan tempur permukaan.
- Kapal Cepat Rudal (KCR): Pembangunan KCR secara mandiri oleh industri pertahanan dalam negeri terus berlanjut.
Peningkatan kemampuan TNI AU dan TNI AL menunjukkan komitmen Indonesia untuk menjaga kedaulatan dan keamanan wilayahnya yang luas, serta menunjukkan pengaruh yang semakin besar di kawasan regional dan global.
Malaysia
Malaysia yang lagu kebangsaannya merupakan saduran dari lagu stambul Terang Bulan, pernah bersengketa dengan Indonesia saat Presiden Soekarno. Konfrontasi Indonesia-Malaysia terjadi pada tahun 1963 hingga 1966.
Konfrontasi ini merupakan konflik antara Indonesia dan Malaysia yang disebabkan oleh penolakan Indonesia terhadap pembentukan Federasi Malaysia, yang dianggap sebagai bentuk neokolonialisme Inggris.
Kekuatan dan Peringkat Militer Malaysia
Malaysia memiliki kekuatan militer di bawah Indonesia. Jarak peringkatnya cukup jauh. Meskipun parlemen Malaysia belakangan ini terkesan provokatif terhadap pemerintahan Perdana Menteri Anwar Ibrahim.
Berikut data kekuatan dan peringkat militer Malaysia berdasarkan data terbaru untuk tahun 2025, terutama dari Global Firepower (GFP):
Peringkat Militer Malaysia:
- Peringkat Global: Berdasarkan Global Firepower 2025, Malaysia menempati peringkat ke-42 dari 145 negara yang dinilai. PowerIndex* yang dicatatkan adalah 0,7429.
- Peringkat ASEAN: Malaysia berada di peringkat menengah di kawasan ASEAN, di bawah Indonesia, Vietnam, Thailand, Singapura, dan Myanmar, namun di atas Filipina, Kamboja, dan Laos.
Kekuatan Militer Malaysia (Data Global Firepower 2025):
Beberapa indikator kunci yang menyumbang kekuatan militer Malaysia meliputi:
- Personel Militer:
- Personel militer aktif: sekitar 113.000 orang.
- Personel cadangan: sekitar 51.600 orang.
- Pasukan paramiliter: sekitar 100.000 orang.
- Total personel (termasuk potensi mobilisasi): 541.119 orang.
- Anggaran Pertahanan:
- Anggaran pertahanan Malaysia untuk tahun 2025 mencapai sekitar RM21,2 miliar (sekitar $4,8 miliar USD). Sekitar RM5,8 miliar (sekitar $1,3 miliar USD) dialokasikan untuk pemeliharaan, perbaikan, dan pengadaan aset militer baru.
- Alutsista (Alat Utama Sistem Persenjataan):
- Angkatan Udara:
- Total pesawat udara: 135 unit
- Pesawat tempur/jet tempur: 26 unit
- Helikopter: 45 unit (tidak memiliki helikopter serang khusus)
- Angkatan Darat:
- Tank tempur: 48 unit
- Kendaraan tempur lapis baja: 13.506 unit
- Artileri derek: 196 unit
- Peluncur roket (MLRS): 36 unit
- Tidak memiliki artileri swagerak.
- Angkatan Laut:
- Total kapal perang: 100 unit
- Kapal selam: 0 unit (berdasarkan GFP, meskipun beberapa sumber mungkin menyebutkan kapal selam yang dioperasikan atau dalam proses pengadaan/pembangunan)
- Kapal fregat: 2 unit
- Korvet: 6 unit
- Kapal patroli lepas pantai: 71 unit
- Kapal penyapu ranjau: 4 unit
- Angkatan Udara:
Modernisasi dan Perkembangan:
Malaysia terus berinvestasi dalam modernisasi militernya, terutama fokus pada pertahanan maritim mengingat garis pantai yang luas.
Mereka juga berpartisipasi dalam acara-acara pertahanan internasional seperti Langkawi International Maritime and Aerospace Exhibition (LIMA) 2025 untuk menjajaki kerja sama dan pengadaan alutsista. Proyek-proyek penting termasuk penyelesaian dan pengujian Kapal Tempur Pesisir (LCS) pertama.
Meskipun memiliki keterbatasan personel dibandingkan beberapa negara lain, Malaysia mengkompensasi dengan struktur militer yang terorganisir dengan baik dan investasi yang ditargetkan pada sektor-sektor kunci pertahanan.
Kekuatan Angkatan Udara Malaysia (TUDM)
TUDM mengoperasikan kombinasi unik pesawat modern dari berbagai negara. Mereka terus berupaya meningkatkan armada untuk memenuhi kebutuhan pertahanan udara dan pengawasan.
Inventaris Pesawat Udara Utama:
- Total Pesawat Udara: TUDM memiliki total sekitar 135 unit pesawat.
- Pesawat Tempur/Jet Tempur: TUDM mengoperasikan sekitar 26 unit jet tempur, termasuk:
- Sukhoi Su-30MKM: Ini adalah jet tempur paling canggih yang dimiliki TUDM.
- Boeing F/A-18D Hornet: Pesawat tempur multiperan yang diandalkan.
- BAE Hawk 108/208: Pesawat latih dan serang ringan.
- MiG-29N/UB: Meskipun masih berstatus dinas aktif, pesawat ini dalam proses penggantian.
- Pesawat Angkut: Termasuk Lockheed C-130H Hercules dan CN-235MPA (pesawat patroli maritim buatan Indonesia).
- Helikopter: Sekitar 45 unit, seperti Sikorsky S-61A4A Nuri (sedang dalam proses penggantian) dan Eurocopter AS 555 Fennec.
- Pesawat Patroli Maritim: TUDM juga mengoperasikan pesawat patroli maritim seperti Beech 200T dan CN-235MPA.
Program Modernisasi dan Perkembangan:
- Malaysia tengah mencari pengganti untuk armada MIG-29N/UB dan berencana mengakuisisi pesawat tempur yang lebih modern.
- Upaya modernisasi ini sebagian didorong oleh kebutuhan untuk memperkuat pemantauan di Laut China Selatan yang disengketakan.
- Mereka juga berinvestasi dalam pengembangan sistem pertahanan udara berbasis darat.
Kekuatan Angkatan Laut Malaysia (TLDM)
Sebagai negara maritim, TLDM memegang peran penting dalam menjaga keamanan perairan Malaysia yang luas. Mereka fokus pada pengembangan armada yang mampu melakukan patroli, pengawasan, dan operasi tempur di lingkungan maritim.
Inventaris Kapal Perang Utama:
- Total Kapal Perang: TLDM memiliki sekitar 100 unit kapal perang.
- Kapal Selam: Malaysia mengoperasikan 2 unit kapal selam kelas Scorpene, yaitu KD Tunku Abdul Rahman dan KD Tun Razak. Kapal selam ini merupakan tulang punggung kemampuan bawah air mereka.
- Fregat: 2 unit fregat kelas Lekiu (KD Lekiu dan KD Jebat) yang menjadi kapal permukaan tercanggih TLDM.
- Korvet: 6 unit korvet kelas Laksamana (KD Laksamana Hang Nadim, KD Laksamana Tun Abdul Jamil, KD Laksamana Tan Pusmah, dan KD Laksamana Mohammad Amin) dan kelas Gowind (sedang dalam pembangunan).
- Kapal Patroli Lepas Pantai (OPV): TLDM memiliki sejumlah besar kapal patroli, termasuk kelas Kedah, yang penting untuk pengawasan wilayah perairan.
- Kapal Serang Cepat (Fast Attack Craft/FAC): Beberapa unit seperti kelas Perdana dan kelas Jerong yang dipersenjatai rudal.
- Kapal Penyapu Ranjau: 4 unit kelas Mahamiru untuk operasi pembersihan ranjau.
- Kapal Pendukung dan Logistik: Termasuk kapal bantuan multiguna seperti KD Sri Indera Sakti dan KD Mahawangsa.
- Pesawat Udara Angkatan Laut: TLDM juga mengoperasikan helikopter anti-kapal selam seperti AgustaWestland Super Lynx 300 dan Eurocopter AS 555 Fennec, serta UAV (drone) ScanEagle untuk pengawasan maritim.
Program Modernisasi dan Perkembangan
- Proyek utama saat ini adalah pembangunan 6 unit Kapal Tempur Pesisir (Littoral Combat Ship/LCS) kelas Maharaja Lela berdasarkan desain korvet kelas Gowind dari Prancis. Ini akan menjadi penambahan yang signifikan untuk armada permukaan TLDM.
- TLDM juga berinvestasi dalam pesawat patroli maritim (MPA) baru untuk meningkatkan kemampuan pengawasan di wilayah perairan yang luas.
- Modernisasi ini mencerminkan komitmen Malaysia untuk menjaga keamanan maritimnya, terutama di tengah meningkatnya aktivitas di Laut China Selatan.
Secara keseluruhan, Angkatan Udara dan Angkatan Laut Malaysia terus berupaya meningkatkan kapabilitas mereka melalui modernisasi alutsista dan program pelatihan. Ini menunjukkan komitmen kuat Malaysia untuk menjaga kedaulatan dan keamanan di wilayahnya. [dirangkum dari berbagai sumber*].
Editor : Hari Puspita