RADAR BALI — Bencana banjir dan tanah longsor yang menerjang tiga provinsi di Pulau Sumatra (Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat) menimbulkan dampak kemanusiaan yang sangat besar.
Berdasarkan pembaruan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 7 Desember 2025, total korban meninggal dunia (MD) mencapai 921 jiwa, sementara 392 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Angka ini merupakan total gabungan dari tiga wilayah terdampak parah. Selain itu, hampir satu juta jiwa, tepatnya 975.039 orang, terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
Rincian Korban di Tiga Provinsi
Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah Sumatra telah menyebabkan kerugian jiwa yang signifikan di tiga provinsi.
Provinsi Aceh tercatat paling banyak menanggung jumlah pengungsi dengan 914.202 jiwa terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Selain itu, Aceh juga melaporkan 366 jiwa meninggal dunia dan 97 jiwa masih dalam status hilang. Di Aceh, wilayah Aceh Utara menjadi yang terparah dengan 128 korban MD.
Di Sumatra Utara, korban meninggal dunia mencapai 329 jiwa, dengan 82 orang dinyatakan hilang.
Jumlah warga yang mengungsi di provinsi ini adalah 38.482 jiwa. Korban MD terbanyak di provinsi ini tercatat di Tapanuli Tengah yang menyumbang 102 jiwa.
Sementara itu, Sumatra Barat menjadi provinsi dengan jumlah korban hilang tertinggi, yaitu sebanyak 213 jiwa.
Angka korban meninggal dunia di provinsi ini mencapai 226 jiwa, dan total 22.355 jiwa menjadi pengungsi.
Di Sumatra Barat, bencana longsor menyebabkan lonjakan korban di Kabupaten Agam dengan 145 jiwa meninggal dunia.
Secara keseluruhan, di tiga provinsi tersebut, lebih dari 900 jiwa meninggal dunia, ratusan orang masih hilang, dan hampir satu juta jiwa mengungsi akibat bencana ini.
Penanganan Darurat dan Daerah Terisolir
Upaya penanganan darurat masih terus berlangsung, terutama untuk menjangkau daerah-daerah yang terisolir.
Hingga saat ini, tercatat ada 291 gampong di Aceh, 7 desa di Sumatra Utara, dan 8 Nagari di Sumatra Barat yang sulit diakses.
Distribusi logistik, seperti yang dilaporkan di Aceh, dilakukan melalui jalur darat, laut, dan udara untuk memastikan bantuan makanan dan kebutuhan pokok sampai ke pengungsi.
Di Sumatra Utara, stok logistik di Bandara Silangit telah terdistribusi sebagian besar, menyisakan 165 ton dari total 358 ton yang masuk.
Pemulihan Infrastruktur
Sejumlah infrastruktur vital juga mengalami kerusakan parah:
Akses Jalan: Jalan nasional yang menghubungkan Padang-Bukittinggi melalui Lembah Anai masih terputus dan sedang diperbaiki oleh Kementerian PUPR.
Di Aceh, sejumlah ruas jalan nasional terputus akibat runtuhnya jembatan atau longsor, dengan penanganan menggunakan jembatan bailey sedang dikebut.
Kelistrikan: Jaringan listrik di Sumatra Utara dan Sumatra Barat dilaporkan sudah pulih 100% atau mendekati angka tersebut.
Namun, di Aceh, pemulihan baru mencapai 81% dengan kerusakan tercatat pada 2.143 tiang dan 100 gardu listrik.
Komunikasi: Jaringan komunikasi seluler telah pulih di sebagian besar wilayah. Beberapa kabupaten/kota di Aceh yang masih mengalami gangguan seluler kini telah dipasang koneksi Internet satelit (Starlink).
Estimasi Kerugian Materi
Bencana banjir dan tanah longsor kali ini diperkirakan menyebabkan kerugian materiil yang sangat besar.
Berdasarkan estimasi awal, dana yang dibutuhkan untuk pemulihan dan rekonstruksi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mencapai sekitar Rp 51,82 Triliun.
Angka kerugian ini menegaskan skala bencana yang membutuhkan perhatian dan dukungan luar biasa dalam tahap pemulihan pascabencana.***
Editor : Ibnu Yunianto