Kawasan pesisir Tanjung Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, Bali, dikenal sebagai destinasi wisata bahari yang menakjubkan. Selain menawarkan pemandangan laut yang indah, kawasan ini juga kaya akan ragam kuliner khas, salah satunya rujak batu-batu, sajian unik yang menjadi primadona.
RUJAK batu-batu memiliki keunikan tersendiri, yang membedakannya dari rujak pada umumnya. Hidangan ini menggunakan kerang laut segar, sebagai bahan utama, dengan nama ”batu-batu” yang diambil dari proses pembukaan cangkang keras kerang, menyerupai memecahkan batu.
Proses ini melibatkan keterampilan dan ketelatenan masyarakat lokal, menjadikannya simbol hubungan erat mereka dengan kekayaan laut. Layaknya rujak pada umumnya, cita rasa asam dan pedas mendominasi hidangan ini.
Daging kerang segar disiram dengan bumbu khas yang terbuat dari campuran cabai, gula merah, garam, terasi, dan perasan jeruk limau. Kombinasi bahan tersebut, menciptakan rasa segar yang sangat pas dinikmati di suasana pantai.
Salah satu tempat yang menjadi favorit untuk mencicipi rujak batu-batu adalah Warung Man Delet, yang terletak di Banjar Kertha Pascima, Desa Tanjung Benoa. Pemilik warung, Ni Nyoman Nantri atau yang akrab disapa Man Delet, memastikan stok kerang tetap tersedia meskipun cuaca sedang buruk.
”Sebagian besar bahan baku didatangkan dari Jawa, jadi tidak ada masalah meskipun musim hujan seperti sekarang,” ujarnya, Kamis (2/1/2025).
Rujak batu-batu bukan sekadar kuliner biasa, tetapi juga warisan budaya yang telah menjadi bagian dari identitas Tanjung Benoa selama bertahun-tahun. Hidangan ini diwariskan dari generasi ke generasi, menggambarkan kearifan lokal masyarakat dalam mengolah hasil laut menjadi sajian yang bernilai.
Bagi para pencinta makanan bercita rasa pedas dan asam, rujak batu-batu adalah pengalaman kuliner yang wajib dicoba. Selain memanjakan lidah, mencicipi hidangan ini juga menjadi bentuk apresiasi terhadap tradisi kuliner Bali. ***
Editor : Made Dwija Putera