Belakangan ini, isu diskriminasi pelayanan di destinasi wisata Bali kembali mencuat. Kabar burung mengenai perlakuan "istimewa" bagi Warga Negara Asing (WNA) dibandingkan Warga Negara Indonesia (WNI). Santer terdengar di media sosial (medsos) dan dirujak netizen. Menanggapi hal tersebut, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali akhirnya angkat bicara dan memberikan bantahan tegas.
HAL ini disampaikan Wakil Ketua PHRI Bali, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, menegaskan bahwa dalam standar operasional industri pariwisata di Bali, loyalitas pelayanan tidak pernah diukur berdasarkan paspor atau kewarganegaraan tamu.
"Kami memberlakukan servis yang sama kepada semua tamu, baik itu WNA maupun WNI. Tidak ada perbedaan," tegas Rai Suryawijaya, pria yang telah malang melintang selama 40 tahun di sektor pariwisata ini.
Menepis Generalisasi
Rai tidak menampik jika mungkin ada satu atau dua wisatawan yang mengalami pengalaman kurang menyenangkan. Namun, ia menekankan bahwa insiden tersebut bersifat personal dan tidak bisa digeneralisir sebagai kebijakan industri secara keseluruhan.
Menurutnya, ketidakramahan mungkin saja terjadi di akomodasi non-hotel seperti private villa yang manajemennya berbeda. Bagi hotel-hotel di bawah naungan PHRI, tamu domestik adalah segmen pasar yang sangat dihormati karena memiliki daya beli yang signifikan.
"Saya 40 tahun bekerja di pariwisata, saya paham betul bahwa orang Indonesia yang menginap di hotel dan vila adalah orang-orang 'berduit'. Jadi, sangat tidak masuk akal jika mereka dianggap sepele atau dilayani secara tidak ramah," imbuhnya.
Profesionalitas Tanpa Batas
PHRI menjamin bahwa profesionalitas adalah harga mati dalam industri pelayanan di Bali. Pihaknya terus memantau agar setiap anggota asosiasi tetap menjaga keramah-tamahan (hospitality) yang menjadi ciri khas Bali kepada siapa pun tanpa terkecuali.
"Berbicara secara umum, pelayanan yang didapatkan akan sama. Sebagai orang yang lama berkecimpung di dunia industri pariwisata, saya menjamin itu," tandas Rai.
Pernyataan ini diharapkan dapat meredam keresahan wisatawan nusantara yang berencana menghabiskan waktu liburan di Pulau Dewata, sekaligus pengingat bagi para pelaku usaha untuk tetap menjaga standar pelayanan mereka. [*]
Editor : Hari Puspita