TABANAN, Radar Bali.id – Polemik berkepanjangan antara Pemerintah Kabupaten Tabanan dengan pemilik akomodasi lokal di Daerah Tujuan Wisata (DTW) Jatiluwih kini mulai memakan korban.
Warisan Budaya Dunia UNESCO yang terkenal dengan sistem subak dan teraseringnya ini mengalami penurunan kunjungan wisatawan yang sangat tajam akibat aksi penyegelan dan protes warga yang belum menemui titik temu.
Imbas paling parah dirasakan saat musim liburan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Berdasarkan data manajemen, tingkat kunjungan wisatawan di akhir tahun merosot hingga 80 persen.
Baca Juga: Sudah 12 Hari, Seng Protes dari Petani Jatiluwih Masih Menancap di Warisan Dunia UNESCO
Secara akumulatif, total kunjungan sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 388.872 orang, turun signifikan dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 421.927 orang.
Manajer DTW Jatiluwih, I Ketut Jhon Purna, mengungkapkan bahwa penurunan paling drastis terjadi pada Desember 2025, di mana kunjungan hanya menyentuh angka 17.682 orang. Kondisi ini diperparah dengan aksi "tanam seng" atau pemasangan pagar seng oleh petani dan pelaku usaha yang kecewa atas penyegelan tempat usaha mereka.
"Wisatawan mancanegara, terutama dari Eropa seperti Prancis yang selama ini jadi andalan kami, memutuskan membatalkan kunjungan (cancel). Keberadaan pagar seng di sekitar objek wisata membuat turis salah paham dan mengira sedang terjadi demonstrasi besar-besaran," ujar Jhon Purna, Minggu (4/1/2026).
Pihak manajemen mendesak pemerintah agar segera mengambil langkah konkret dan tidak membiarkan kisruh ini berlarut-larut. Kehadiran pagar-pagar seng tersebut dinilai merusak estetika dan citra pariwisata Bali di mata internasional.
"Jangan sampai didiamkan seperti ini. Harus segera diselesaikan supaya tidak terus berimbas pada ekonomi lokal," tegasnya.
DTW Ulun Danu Beratan juga Menurun
Tren penurunan kunjungan ternyata tidak hanya terjadi di Jatiluwih, namun juga menimpa DTW Ulun Danu Beratan, Baturiti. Meski tidak seanjlok Jatiluwih, angka kunjungan di pura ikonik ini turun sekitar 18 persen, dari 600.621 orang pada 2024 menjadi 506.908 orang pada 2025.
Humas DTW Ulun Danu Beratan, I Made Suteja, menjelaskan bahwa penurunan di wilayahnya lebih disebabkan oleh faktor eksternal. "Penurunan didominasi oleh wisatawan domestik, sementara mancanegara masih stabil. Faktor cuaca, bencana alam seperti banjir, hingga isu sampah di Bali menjadi penyebab utamanya," tutup Suteja.[*]
Editor : Hari Puspita