Lonjakan nilai tukar Dolar AS yang kini menyentuh angka Rp 17.600 menjadi pisau bermata dua bagi sektor pariwisata di Kabupaten Tabanan, Bali. Di satu sisi, fenomena ini diprediksi bakal memperlama durasi tinggal wisatawan mancanegara (wisman), namun di sisi lain, bayang-bayang mahalnya tiket pesawat mengancam arus wisatawan domestik.
MANAJER Operasional Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, I Ketut Jhon Purna, mengungkapkan bahwa melemahnya rupiah justru memberikan daya tarik tersendiri bagi turis asing.
Baca Juga: Kurs Dolar Nyaris Sentuh Rp 17.000, Harga Emas Naik Signifikan
Dengan nilai tukar yang tinggi, para wisman mendapatkan jumlah rupiah yang jauh lebih banyak saat menukarkan dolar mereka.
"Wisatawan mancanegara cukup menukar sedikit dolar, tapi mendapatkan rupiah lebih banyak. Secara otomatis, mereka berpotensi berlibur lebih lama di Bali karena merasa biaya transaksi di sini menjadi lebih murah," ujar Jhon Purna, Minggu (17/5/2026).
Meski demikian, Jhon mengakui hingga saat ini angka kunjungan wisman ke situs warisan dunia tersebut masih terpantau stabil di angka 700 hingga 1.000 orang per hari, belum menunjukkan lonjakan yang signifikan.
Tantangan Tiket Mahal dan Wisatawan Domestik
Kekhawatiran justru muncul dari sektor domestik. Jhon Purna membeberkan bahwa penguatan dolar biasanya diikuti oleh kenaikan harga tiket pesawat. Hal ini dikhawatirkan akan menyurutkan niat wisatawan lokal untuk terbang ke Pulau Dewata.
"Potensi plus minus itu pasti ada. Kami berharap kondisinya bisa membaik dan tetap seimbang bagi semua segmen pasar," tambahnya.
Kondisi di Ulun Danu Beratan: India Mendominasi
Senada dengan Jatiluwih, Humas DTW Ulun Danu Beratan, I Made Sukerata, menyebutkan bahwa fluktuasi kurs belum memberikan dampak drastis pada angka kunjungan di kawasannya.
Saat ini, kunjungan wisman di Ulun Danu Beratan mencapai rata-rata 900 orang per hari, dengan dominasi wisatawan asal India.
Dampak Penguatan Dolar AS
- Paket wisata internasional lebih kompetitif: Harga paket wisata di Bali terlihat lebih terjangkau di mata pasar internasional.
- Durasi menginap (length of stay): Wisman cenderung memperpanjang masa liburan karena efisiensi biaya.
- Momentum liburan: Diharapkan mampu mendongkrak kunjungan di tengah musim libur sekolah dan momen libur lebaran yang tengah berlangsung.
"Potensi kenaikan itu ada, meski saat ini belum terlihat secara mencolok. Kami tetap optimistis momen liburan ini mampu mendongkrak angka kunjungan," pungkas Sukerata. [*]
Editor : Hari Puspita