SEMARAPURA, Radar Bali.id – Memasuki tahun ajaran baru, kondisi memprihatinkan menimpa SD Negeri 1 Semarapura Klod Kangin. Jadwal pendaftaran jalur domisili tingkat SD dan SMP yang telah berlangsung mulai Rabu, 1 Juli 2026 hingga Sabtu, 4 Juli 2026 menempatkan sekolah ini dalam posisi sulit.
Selama empat hari dibuka, sekolah tersebut hanya berhasil menjaring 5 orang siswa baru. Jumlah ini menurun dibandingkan tahun ajaran sebelumnya yang mencapai 9 siswa.
Baca Juga: Link Resmi dan Cara Cek Pengumuman SPMB Bali 2026 Jenjang SD, SMP, SMA, SMK
Kepala SD Negeri 1 Semarapura Klod Kangin, Ni Nyoman Suardani saat dikonfirmasi pada Senin, 6 Juli 2026 menuturkan, tren penurunan jumlah siswa baru sejatinya sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data sekolah, pada tiga tahun lalu terdapat 18 siswa yang mendaftar. Memasuki dua tahun lalu, angka itu anjlok dan hanya menyisakan 5 orang siswa saja.
Sementara setahun lalu sempat mengalami peningkatan meski masih bisa dihitung jari, yakni 9 siswa.
”Semoga bisa bertambah tahun ini. Karena setelah pengumuman, biasanya ada tambahan siswa dari siswa-siswa yang tidak tertampung di sekolah lain,” ungkap Suardani penuh harap.
Menurut Suardani, minimnya siswa baru disebabkan karena semakin sedikitnya jumlah anak usia SD di sekitar wilayah sekolah.
Menyiasati hal itu, pihak sekolah telah menjalin komunikasi dengan kepala sekolah lain yang kelebihan kuota, seperti SD Negeri Kamasan dan SD Negeri 1 Semarapura Tengah, agar bisa merujuk siswa yang tidak tertampung ke sekolahnya. Koordinasi juga dilakukan dengan Kabid Dikdas Disdikpora Klungkung untuk membantu penyaluran siswa melalui kebijakan dinas.
Secara fasilitas, sekolah ini terbilang luas dan memiliki formasi guru yang lengkap. Bahkan, sebuah TK berdiri di halaman sekolah tersebut. Sayangnya, akibat minimnya anak usia dini di wilayah sekitar, TK tersebut pun sepi peminat dan hanya menyisakan sekitar 9 orang anak. Pihak sekolah sempat melakukan aksi jemput bola ke rumah-rumah warga, namun terbentur alasan jarak yang jauh sehingga orang tua enggan menitipkan anaknya.
Mengenai ancaman regrouping (penggabungan sekolah), Suardani berharap besar hal itu tidak terjadi.
”Bila sampai akhir masa pendaftaran masih 2 siswa, kami akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan. Kami berharapnya masih tetap lanjut mengajar meski hanya 2 siswa,” tandasnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Kadisdikpora) Klungkung, I Ketut Sujana saat dikonfirmasi terpisah, membenarkan kondisi tersebut dan menaruh perhatian serius terhadap masa depan sekolah ini.
”Apakah masih layak dipertahankan, kami lihat tahun ini seperti apa. Sebenarnya sekolahnya bagus, ada TK. Kemungkinan karena dekat dengan kuburan sehingga ada keresahan dari orang tua. Padahal selama ini tidak terjadi apa-apa,” pungkas Sujana.[*]
Editor : Hari Puspita