SINGARAJA, Radar Bali.id – Ratusan tenaga pendidik di Kabupaten Buleleng disiapkan untuk menghadapi tantangan mendidik Generasi (Gen) Alpha melalui program Buleleng Excellent Teacher.
Guru dinilai memegang peranan krusial sebagai garda terdepan dalam membentuk karakter generasi muda yang adaptif terhadap percepatan teknologi.
Para guru dibekali strategi pembelajaran berbasis pendekatan cinta dan kasih sayang melalui kegiatan inovatif yang digagas Ashta Global bekerja sama dengan Pemkab Buleleng dan PGRI Buleleng.
Pelatihan ini menjadi modal penting menjelang Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) agar guru mampu merancang program belajar yang interaktif dan menyenangkan.
”Mendidik anak-anak Gen Alpha tidak bisa lagi sekadar mengandalkan metode konvensional. Diperlukan sentuhan cinta, kesabaran ekstra, dan kecerdasan adaptasi,” papar Founder Ashta Global Joseph Ananta.
Joseph menyebutkan lima peran kunci yang wajib dimiliki orang tua dan guru dalam mendidik Gen Alpha, yaitu sebagai digital mentor, emotional coach, role model, guru karakter, serta fasilitator deep learning.
Anak-anak Gen Alpha yang lahir mulai rentang 2018 ke atas tumbuh di era pesatnya internet sehingga sangat cepat menguasai teknologi, namun cenderung mudah bosan.
”Anak Generasi Alpha butuh dituntun, bukan hanya diawasi. Kolaborasi antara sekolah dan rumah menjadi kunci agar mereka tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga kuat karakternya,” ungkap Bunda PAUD Buleleng Wardhany Sutjidra.
Sementara itu, Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi atau Kak Seto mengingatkan bahwa tanggung jawab pendidikan berada di tangan bersama, mulai dari keluarga, sekolah, hingga masyarakat. Kak Seto mendorong terwujudnya kurikulum yang ramah anak.
”Pendidikan yang sebenarnya adalah pendidikan informal oleh keluarga. Sebanyak 70 persen waktu anak bersama keluarga, sementara 30 persen di sekolah. The real education is informal education,” jelas psikolog anak nasional tersebut.
Kak Seto menambahkan, pendampingan orang tua sangat diperlukan melalui dialog interaktif tanpa bersikap menghakimi. Orang tua diharapkan tidak hanya mengajarkan teori mata pelajaran, tetapi juga aktif membimbing etika, agama, serta pembentukan karakter anak sejak dini. [*]
Editor : Hari Puspita