SINGARAJA, RadarBali.id – Upaya evakuasi endapan minyak yang dikategorikan sebagai limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di Kapal Floating Storage Offloading (FSO) Cinta Natomas di Pelabuhan Celukan Bawang terpaksa dihentikan secara mendadak.
Penghentian ini dipicu oleh dugaan kebocoran dan kondisi kapal yang miring, menimbulkan kekhawatiran serius akan potensi pencemaran laut di Buleleng.
Kapal tanker FSO Cinta Natomas, yang telah lama bersandar di Jetty Curah Cair Pelabuhan Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, kini berada dalam kondisi darurat, yaitu miring ke kanan 3 hingga 5 derajat.
Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Celukan Bawang, Taufikur Rahman, membenarkan penghentian tersebut. Surat penghentian evakuasi limbah B3 itu bahkan telah dikirimkan kepada General Manager Zona 11 PT. Pertamina (Persero) selaku pemilik kapal.
"Dihentikan sementara seluruh kegiatan pekerjaan di atas kapal Cinta Natomas, hingga stabilitas kapal dinyatakan aman, memenuhi standar keamanan dan keselamatan kapal, serta keselamatan kerja,” tegas Taufikur Rahman, Minggu (2/11/2025).
Pertamina Diingatkan, Tanda Darurat Mendesak Diterbitkan
KSOP Celukan Bawang telah berulang kali mengingatkan pemilik kapal mengenai potensi pencemaran yang berasal dari limbah B3 tersebut. Prioritas utama saat ini adalah aspek keselamatan dan teknis dalam proses pembongkaran muatan berbahaya, demi melindungi para pekerja tank cleansing dan ABK.
Kondisi kapal yang diduga bocor saat proses evakuasi endapan minyak membuat sejumlah pihak mendesak Pertamina untuk segera mengambil langkah darurat.
"Pihak Pertamina sudah diminta datang, untuk memastikan kondisi kapal," tambah Taufikur Rahman. Desakan ini bertujuan agar limbah beracun yang tersimpan dalam lambung kapal tidak mencemari laut sekitar Pelabuhan Celukan Bawang.
Diketahui, Kapal FSO Cinta Natomas, yang membawa muatan 105 barel minyak mentah, telah berada di Pelabuhan Celukan Bawang sejak tahun 2018. Situasi darurat ini kini menjadi perhatian utama otoritas setempat untuk mencegah bencana lingkungan yang lebih besar.[*]
Editor : Hari Puspita