Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Dampak Macet Horor Gilimanuk, Jalur Pantura Sempat Lumpuh! Krodit 7 Kilometer hingga Masuk Permukiman di Buleleng Barat

Francelino Junior • Selasa, 17 Maret 2026 | 01:49 WIB

 

TERDAMPAK JUGA :: Aktivitas pengamanan polisi di perbatasan Buleleng-Jembrana, efek imbas macet ”horor” menuju Pelabuhan Gilimanuk. (francelino junior)
TERDAMPAK JUGA :: Aktivitas pengamanan polisi di perbatasan Buleleng-Jembrana, efek imbas macet ”horor” menuju Pelabuhan Gilimanuk. (francelino junior)

 

SINGARAJA, RadarBali.id– Kemacetan parah yang melanda akses menuju Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, mulai "tumpah" dan melumpuhkan wilayah Buleleng Barat.

Desa Sumberklampok, yang merupakan garda terdepan perbatasan Buleleng-Jembrana, kini menjadi titik akhir antrean panjang kendaraan yang hendak menyeberang ke Pulau Jawa.

Baca Juga: Macet Krodit Puluhan Kilometer Menuju Pelabuhan Gilimanuk Berjam-jam, Berikut Ini Dugaan Penyebabnya

Hingga Senin (16/17/3/2026), ketersendatan arus lalu lintas dilaporkan mencapai kawasan Pura Segara Rupek, Desa Sumberklampok, atau sejauh tujuh kilometer dari titik Cekik, Jembrana. Fenomena ini tergolong langka dan menjadi rekor kemacetan baru di wilayah tersebut.

Baca Juga: Tak Mau Repot, Hindari Macet dan Penutupan Nyepi, Sejumlah Pemudik Mulai Curi Start Duluan di Gilimanuk

Rekor Kemacetan Baru

Perbekel Desa Sumberklampok, I Wayan Sawitra Yasa, mengungkapkan keterkejutannya atas skala kemacetan kali ini. Menurutnya, meski setiap tahun terjadi kepadatan jelang Lebaran dan Nyepi, namun baru kali ini antrean mengular hingga masuk ke pemukiman warganya.

”Baru pertama kali kemacetan sampai sejauh ini. Biasanya paling jauh hanya sampai di wilayah Jembrana, seperti Kelatakan atau Pasar Melaya. Sekarang sudah melewati pemukiman warga kami,” ujar Sawitra, Senin (16/3/2026).

Jalur Pantura Jadi Pelarian

Penyebab utama lonjakan kendaraan di Buleleng dipicu oleh beralihnya banyak pengemudi dari jalur utama Denpasar-Gilimanuk menuju jalur Pantai Utara (Pantura) atau Jalan Raya Singaraja-Gilimanuk.

Kendaraan pribadi dan bus yang datang dari Bali Selatan via Bedugul memilih menyisir Buleleng untuk menghindari kemacetan di Jembrana, namun justru terjebak di ujung barat Buleleng.

Kondisi ini merupakan imbas dari fenomena "mudik bareng" menjelang penutupan Pelabuhan Gilimanuk untuk Hari Suci Nyepi, yang berdekatan dengan libur panjang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.

Aktivitas Petani Terganggu

Tak hanya menyiksa pemudik, kemacetan ini mulai memukul aktivitas ekonomi warga lokal. Para petani di Sumberklampok dilaporkan kesulitan menuju lahan perkebunan maupun mengangkut pakan ternak karena akses jalan utama tertutup rapat oleh deretan kendaraan.

”Warga yang mau ke lahan pertanian otomatis tersendat. Mereka terpaksa harus mencari jalan tikus atau jalur alternatif lain agar tetap bisa bekerja,” lanjut Sawitra.

Polisi Siaga di Sepanjang Jalur

Menanggapi situasi darurat ini, Polres Buleleng telah menyiagakan personel di sejumlah titik krusial sepanjang Singaraja hingga perbatasan Jembrana. Kapolres Buleleng, AKBP Ruzi Gusman, turun langsung ke lokasi untuk memastikan arus lalu lintas tetap terkendali meski volume kendaraan meningkat signifikan.

”Sebagai jalur alternatif, memang terjadi kepadatan tinggi. Namun, sepanjang pemantauan personel di lapangan, situasi masih bisa ter-handle dengan baik. Kami tetap siaga mengamankan jalur mudik ini hingga situasi normal kembali,” tegas AKBP Ruzi Gusman. [*]

Editor : Hari Puspita
#gilimanuk #arus mudik #macet horor #buleleng