Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Dampak Politik Dinasti, Meritokrasi Terkikis, Akan Minim Tokoh yang Lahir dari Aktivis

Ni Kadek Novi Febriani • Jumat, 24 Oktober 2025 | 01:40 WIB
DARI AKTIVIS: Anggota DPR RI Dapil Bali Ketut Karyasa Adnyana merespons adanya politik dinasti di tubuh PDIP se Bali saat ini
DARI AKTIVIS: Anggota DPR RI Dapil Bali Ketut Karyasa Adnyana merespons adanya politik dinasti di tubuh PDIP se Bali saat ini

DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) terkenal dengan jargon wong cilik dan pengkaderannya. Namun, miris susunan pengurus diisi oleh kerabat  dari elit partai, bukan berlandaskan meritokrasi

Sehingga dapat disebut mengakarnya dinasti dalam tubuh partai. Padahal partai berlambang banteng itu banyak melahirkan tokoh yang berasal dari aktivis bukan darah biru. 

Dikonfirmasi dengan Ketut  Kariyasa Adnyana, salah satu anggota DPR RI dari PDIP yang jalan  politiknya dari bawah. Tak dipungkiri  akibat oligarki mengakar,  aktivis mikir dua kali mencalonkan diri jadi DPR  karena indikatornya adalah memiliki logistik.

”Zaman saya bukan orang biru atau kaya tapi dari aktivis," jelasnya.

 Baca Juga: Waduh! Korban Bertambah Jadi 15 Orang, Investasi Fiktif Mr. Terimakasih Dianggap Merontokkan Kepercayaan Investor Asing di Bali

PDIP banyak melahirkan tokoh politik dari bawah. Kariyasa mencontohkan  di tingkat nasional,  diantaranya: Adian Napitupulu, Bambang Wiryanto atau Bambang Pacul, Ganjar Pranowo dan Pramono Anung."Mereka bukan darah biru. Dari belajar organisasi. Semua organisasi diikuti. Pengkaderan yang jelas. Ada madya hingga pratama sehingga terukur," jelasnya

Lebih jelas lagi,  dengan adanya pengkaderan bertujuan untuk siap terjun ke masyarakat. Kader PDIP asal Buleleng ini tak menampik saat susunan pengurus diisi oleh keluarga pejabat partai. Namun, Kariyasa menekankan roh dari PDIP adalah semangat Bung Karno.   Itu yang membedakan PDIP dengan partai lain.

"Zaman pak Taufik Kiemas rata-rata mereka semang Adian Napitupulu ada Pak Adian dan Budiman. Dari Bambang Pacul dan Ganjar," jelasnya.

 Baca Juga: Termasuk Bek Terbaik Super League, Dua Pemain Asing Persebaya Absen Lawan PSBS Biak

Sementara itu, di PDIP Klungkung, kader pendatang baru yang juga Anggota DPRD Bali  Nyoman Suwirta  sebelumnya digadang-gadang menjadi Ketua DPC PDIP Klungkung, secara mengejutkan  ia memilih menempatkan istrinya sebagai wakabid.

istri dari mantan Bupati Klungkung, yakni Ni Nengah Rayu Astini menjabat posisi sebagai Wakil Ketua Bidang Tenaga Kerja dan Jaminan Sosial. ”Bu Ayu Suwirta yang cukup berpengaruh karena pengaruh atau peran suaminya, yakni Pak Suwirta,” jelasnya belum lama ini.

Masuknya kader-kader baru menduduki struktur kepengurusan DPC PDIP Klungkung, selain untuk memperkuat posisi PDIP di kancah perpolitikan Kabupaten Klungkung,

 Baca Juga: Banyak Pengurus PDIP se Bali Keluarga Terdekat, Ngurah Gede Sebut Abiyoga dan Marhaendra Jaya Berproses Bukan Orang Baru

Seperti diberitakan sebelumnya, I Nyoman Suwirta saat dikonfirmasi terpisah terkait keberadaan istrinya sebagai kader PDIP Klungkung dan masuk  dalam struktur kepengurusan mengatakan hanya untuk mendukungnya yang mendapat rekomendasi sebagai anggota DPRD Provinsi Bali dari PDIP.

”Istri menjadi kader hanya untuk mendukung saya yang mendapat rekomendasi. Tidak ada keinginan istri saya untuk maju mencalonkan diri,” tandasnya.***

Editor : M.Ridwan
#meritokrasi #politik dinasti #PDIP Bali #kariyasa adnyana