DENPASAR– Janji bukanlah sekadar janji yang disampaikan atlet panjat tebing asal Buleleng, Desak Made Rita Kusuma Dewi. Ia membuktikan dirinya untuk memberikan kemampuan terbaiknya dalam Sea Games 2023 di Hangshou, China. Medali emas pun disumbangkannya untuk Indonesia di pesta olahraga terbesar di level Asian tersebut.
“Sebelum kompetisi, saya selalu meyakinkan diri bahwa saya sudah bekerja keras dan sudah berlatih sedemikian rupa. Ini adalah puncak prestasi yang saya inginkan selain Olimpiade Paris (2024),” katanya sebelum bertarung dalam final diajang tersebut.
Desak Rita -panggilan akrabnya- bahkan mampu mengalahkan atlet tuan rumah, Lijuan Deng dalam kategori speed dengan membukukan waktu 6,363 detik. Atlet panjang tebing nomor dua dunia itu juga mencetak rekor tercepat dengan mengalahkan rekor Asia sebelumnya yang dimiliki Lijuan.
“Saya selalu berusaha tidak mau memikirkan lawan, saya memilih fokus kepada diri sendiri saja dan bagaimana panjatannya agar bisa cepat, tenang, dan luwes,” sebutnya saat disinggung terkait rekor yang didapatkannya beberapa waktu lalu.
Medali emas yang disumbangkan Desak Rita kali ini ternyata ikut menjadi bagian sejarah di mana Indonesia hampir menyamai raihan emas terbanyak di luar kandang sejak tahun 1978. Sebagai informasi, Indonesia menutup ajang kali ini dengan berhasil menorehkan total 36 medali dengan rincian 7 emas, 11 Perak, dan 18 Perunggu.
Jumlah medali ini pun membuat Indonesia harus puas berada di peringkat 13 Asian Games 2022 Hangzhou. Kontingen tuan rumah berhasil keluar sebagai juara umum dengan total 382 medali yang terbagi 200 medali emas, 111 medali perak, dan 71 medali perunggu. Jepang di posisi kedua dengan 51 emas, 66 perak, 69 perunggu.
Bagi Indonesia, capaian ini memang bukanlah yang terbaik selama keikutsertaan di Asian Games. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa raihan medali ini menjadi yang terbaik sejak 45 tahun yang lalu di luar status Indonesia sebagai tuan rumah.
Pada 45 tahun lalu di Bangkok tepatnya Asian Games 1978, Indonesia meraih delapan emas. Catatan itu menjadi rekor tersendiri bagi Indonesia saat melakoni Asian Games di luar negeri.
Kini dengan tujuh emas, Indonesia hampir menyamai capaian 45 tahun silam sekaligus melampaui torehan pada Asian Games 1998 yang menghasilkan enam medali emas. Jika melihat sejarah, Indonesia tercatat sudah 19 kali berpartisipasi di Asian Games sejak 1951 lalu.
Pasang surut prestasi dialami atlet-atlet Bumi Pertiwi. Dalam perjalanannya, Merah-Putih mengawali penampilan di Asian Games dengan torehan lima medali perunggu. Setelah itu, prestasi Indonesia mulai menunjukkan ke arah yang positif. Pada Asian Games 1962, Indonesia merebut 11 medali emas. Ini menjadi yang terbaik dalam empat penyelenggaraan sebelumnya.
Namun, di Asian Games 1966, perolehan medali Indonesia kembali menurun. Tercatat Indonesia hanya merebut 5 medali emas, dan menyusut pada 1970 dengan meraih dua medali emas.
Emas itu berasal dari cabang olahraga bulutangkis nomor men's team dan tinju di nomor Men's 75kg atas persembahan Wiem Gomies.
Pada Asian Games 1978, perolehan medali emas Indonesia mulai membaik. Mereka merebut delapan keping emas, sebelum akhirnya kembali menyusut perolehan medali emasnya. Indonesia mencapai puncak prestasi terbaiknya di Asian Games pada 2018. Saat itu, Jakarta-Palembang menjadi tuan rumahnya.
Mereka merebut 31 medali emas dan merebut posisi ke-4. Terbaik selama mengikuti penyelenggaraan Asian Games. Pencak silat menjadi cabang olahraga penyumbang prestasi terbanyak, yaitu 14 medali emas. Kemudian disusul panjat tebing dengan perolehan tiga medali emas, serta bulutangkis, balap sepeda, paragliding, yang masing-masing menyumbangkan dua medali emas.
Menpora Dito Ariotedjo mengatakan segera mengevaluasi dan duduk bersama dengan cabor olahraga yang turun di Asian Games 2022 Hangzhou. "Evaluasi pasti akan dilakukan, terutama untuk beberapa cabor yang tidak memenuhi target medali. Hasil yang dicapai memang tidak sesuai harapan presiden," ucap Menpora.
" Namun menurut data yang kami pegang, 7 emas merupakan perolehan emas tertinggi semenjak 1978 diluar 2018 saat kita tuan rumah," ujarnya, menambahkan.
Meski demikian, keberhasilan yang baru bisa dicatatakan lagi setelah terakhir pada 1978 tersebut bukan berarti akan membuat Kemenpora berpangku tangan. Dia menyebut, evaluasi ke depan justru akan dilakukan. ***
Editor : Donny Tabelak